Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Janji Ami



Ami membuka kamar Edward pelan. Ia termenung melihat Edward yang sedang duduk disalah satu sofanya. Di mejanya terdapat wine dan satu gelas yang berisi minuman berwarna merah itu. Ia tidak bisa membujuknya untuk tidak minum. Ia mundur dan menutup pintu perlahan. Ia memegang pegangan pintu dan kembali termenung. Bagaimana ia bisa mengembalikan Edward menjadi anaknya yang dulu? Hanya karena seorang perempuan anaknya berubah. Apa yang harus ia lakukan?


Sebuah tangan tersimpan dipundaknya mengejutkannya seketika. Ia menoleh. Suaminya berada dibelakangnya. Ia sedang menatapnya.


"Ada Dega dengan suami dan anaknya dibawah." ucap Andi


Ami berjalan cepat menuju ruang tamu dengan cepat. Ada perasaan berbeda didadanya.


"Kamu harus tahan. Aku gak mau kamu marah-marah! Dega bawa anaknya" seru Andi sambil mengejarnya.


Ami tidak mau mendengarnya. Ia hanya ingin secepatnya bertemu dengan Dega. Ini adalah kali kedua pertemuannya setelah Dega melahirkan. Setiap Dega datang ke Singapura, ia tidak pernah menemuinya. Ia merasa egois sekali kali itu. Kali ini ia tidak mau salah lagi. Cukup Edward yang mengalaminya karena kesalahannya.


Ketika turun dari tangga, ia melihat cucunya sedang bermain diujung tangga. Ia terlihat seperti Edward ketika kecil. "Hai boy!" seru Ami senang. Ia turun dengan cepat dan memeluk cucunya untuk pertama kali. Selama di Singapura ia selalu menghindar ketika bertemu Dega. Kali ini ia tidak akan menghindar lagi.


Ami menghampiri Dega dan duduk disampingnya. Ia memegang kedua tangan Dega. "Maafkan mama." ucap Ami. Ia terdiam sejenak. "Mama menyesal." tambahnya.


Dega menggelengkan kepalanya. "Enggak ma, mama gak pernah salah. Semuanya salah Dega."


"Sejak mama dan papa pindah kesini, kamu pindah keluar karena menghargai mama. Mama gak suka itu. Mulai sekarang tinggal disini sama kami. Ini rumah kalian. Tolong jangan pisahkan mama dengan cucu mama." Ucap Ami serius.


Andi melihat semuanya terharu. Ia senang insiden Edward telah membuat hati istrinya terbuka. Ami adalah wanita yang terlalu keras. Sulit untuk melunakkan nya apalagi menyangkut kedua anaknya. Tapi apa yang ia perbuat pada Clara benar-benar kejam menurutnya. Tapi sayangnya ia sebagai suaminya tidak bisa berbuat banyak.


"Jadi selama ini kamu lawyer keluarga Clara?" tanya Ami ketika ia hanya berdua dengan Dega.


"Ya ma. Hidup Clara menyedihkan sejak papanya meninggal. Makanya ia berusaha untuk tidak ikut terlibat sama kasus yang sedang Dega kerjakan. Dega bener-bener kasian. Terakhir pun sebelum dia putus dengan Edward, dia masih bisa membantu polisi buat menangkap sindikat penjualan manusia. Gak tanggung orang yang ada dibelakang mereka itu salah satu pejabat." jelas Dega.


"Sejauh itu? Untuk apa Clara terlibat dengan polisi" tanya Ami


"Mama inget berita di televisi itu?" tanya Dega. Ami mengangguk cepat. Karena hal itu ia meminta Clara untuk meninggalkan Edward.


"Orang itu adalah sindikat. Intinya, Clara waktu itu berhasil kabur karena hampir dijadikan psk. Nah, karena Clara sedang ramai dibicarakan dinegeri ini karena menjadi CEO di usia yang sangat muda, Clara bisa dengan mudah dilacak ma, mereka mudah mencari info tentang Clara sebelumnya. Keluarlah foto-foto itu."


Ami menutup mulutnya tidak percaya. " Kamu tau semua?"


Dega mengangguk. "Karena Dega yang jadi pengacara Clara saat ini. Dega diminta Clara untuk mengurus masalah ini."


"Clara pernah cerita sama kamu tentang Edward?"


"Kami profesional ma, Clara gak pernah menyinggung satu katapun tentang Edward."


"Clara masih ada diluar negeri ma, minggu depan baru pulang untuk penggabungan perusahaan."


Dega memegang tangan Ami. "Ma, apa sekarang mama bisa meminta Clara untuk menjadi menantu mama?" tanya Dega


"Mama harus. Sejak putus dengan Clara, Edward menjadi aneh. Mama menyesal pernah melakukannya. Makanya mama harus ketemu Clara. Mama akan meminta maaf." ucap Ami.


"Lebih baik sekarang mama ngomong sama Edward. Semuanya. Unek-unek mama." ucap Dega.


Ami mengangguk. "Ya, mama harus melakukannya."


Edward memainkan cincin pemberian Dave. Menurutnya itu adalah pemberian dari Clara. Ia kecewa karena Clara telah menolaknya. Beberapa kali ia berusaha mendapatkan informasi tentang Clara, tapi baik Alena maupun Dave tidak mau memberitahunya atas permintaan Clara. Kenapa Clara tidak mau menemuinya? Apakah permintaan ibunya waktu itu terlalu menyakitkan? Bukan Clara saja yang sakit. Dirinya pun sakit. Terlebih ia tidak dapat menemukannya. Dave pernah mengatakan jika Clara berangkat ke Aussie. Tapi ketika ia menyusulnya, ia tidak berada di sana. Nenek Siska memiliki beberapa cabang perusahaan di luar negeri. Ia tidak tahu di cabang mana Clara berada.


Saat ini ia hanya mengharapkan kesempatan. Ini adalah kesempatan keduanya untuk mendapatkan Clara kembali. Tanpa atau dengan restu orangtuanya. Ia tidak peduli. Ia akan berusaha mendapatkan Clara kembali. Hanya waktu yang akan membuktikannya.


Terdengar pintu terbuka. Tapi Edward tidak berniat untuk menoleh. Ia terdiam sambil sesekali menyesap wine nya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik gelasnya.


"Cukup, Ed." ucap ibunya.


Edward menoleh sekilas dan kembali menatap ke depan.


Ami duduk disampingnya. "Mama minta maaf. Mama menyesal. Tolong kembali menjadi Edward anak mama yang dulu."


Masih tidak ada tanggapan dari Edward.


Ami memegang tangan Edward. "Sayang, tolong maafin mama. Mama akan ikuti semua kemauan kamu. Mama setuju kalo Clara menjadi bagian dari keluarga kita. Mama akan lakukan apapun. Mama akan temui Clara untuk meminta dia kembali sama kamu."


Edward tersenyum sinis. "Telat ma, Clara udah gak mau sama aku. Clara udah tinggalin aku. Dia pergi disaat aku minta dia buat kembali."


Ami menggelengkan kepalanya. "Enggak, mama yang akan temui Clara. Seminggu lagi dia pulang. Dega kasih tau mama. Mama janji akan menyatukan kalian. Mama mau kamu bahagia Ed!" Isak Ami.


Edward menatap ibunya. "Ma, please. Aku cuma mau Clara. Aku gak akan minta apapun sama mama dan papa. Aku cuma mau Clara aja. Clara adalah wanita pertama dan terakhir yang Edward cintai. Edward pernah satu kali salah paham dan itu menyakitkan Clara. Edward gak mau melakukannya lagi. Tolong Restuin hubungan kami. Edward janji akan berusaha keras mendapatkan Clara kembali."


"Pasti. Mama pasti restuin hubungan kalian. Yang terbaik untuk kamu." ucap Ami sambil memeluk Edward dengan erat.


Dega berada dibelakang pintu sambil menghapus airmatanya. Keluarganya sudah kembali seperti sebelum ia menikah. Ibunya berubah menjadi sangat baik. Ia memegang tangannya erat. Ia menutup matanya. Clara, pulanglah. Kami menunggu kamu.