Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Surprise



Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Karena berada di perbukitan, angin dingin mulai menerpa kulitnya. Ia menatap pemandangan kota. Lampu-lampu terlihat seperti sebuah gugusan bintang di langit. Malam ini cerah. Edward menunggu kekasihnya datang. Ia duduk di bangku taman seperti biasa sambil sejak matahari mulai terbenam. Kopernya sudah ia simpan di hotel sesaat setelah ia tiba. Hanya perlu waktu sebentar untuk bersiap-siap. Ia tidak mengatakan pada Clara tentang jam kedatangannya. Ia ingin melihat kekasihnya berdandan. Tapi sayangnya, Clara pergi dari villa sejak siang hari dan belum kembali sampai sekarang. Ia kecewa.


Clara tidak tahu kemana ia akan dibawa malam ini. Sedangkan Edward sudah memiliki acara sendiri. Esok siang ia akan pergi ke Singapura untuk menemui orangtuanya. Ia ingin kedua orangtuanya tahu jika ia memiliki perasaan yang tulus pada gadis pujaannya. Ia ingin segera menikahinya. Ia tidak mau menunggu lama lagi. Ia takut Clara akan pergi lagi seperti sebelumnya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ini seperti karma baginya. Ketika muda dulu, ia biasa disebut playboy oleh teman-teman sekolahnya. Gadis-gadis cantik pilihan yang pernah satu sekolah dengannya pernah menjadi kekasihnya. Tidak pernah ada satupun yang ia seriusi. Semuanya hanyalah main-main. Ia pernah diberitahu oleh salah seorang gurunya karena nakalnya ia pada siswi-siswi sekolahnya . Ia akan menemui wanita yang akan ia cintai satu-satunya seumur hidupnya. Hanya saja rintangannya sulit. Ucapan gurunya benar adanya. Ia mencintai Clara sejak pertama kali melihatnya berada di pesawat hingga saat ini. Perasaan itu tidak pernah padam sedikitpun. Semakin hari semakin banyak.


Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah, Edward yang sedang melamun tiba-tiba terbangun. Ia sedikit berdiri untuk melihat siapa yang datang. Mercy berwarna putih itu terparkir dengan sempurna. Iapun berjalan menghampiri mobil itu. Kedua bodyguard Clara keluar terlebih dahulu dan menyapanya. Ia menunggu. Pintu belakang terbuka perlahan. Clara keluar sambil menatapnya. Ia tersenyum dan terlihat sangat cantik. Ia sudah siap untuk pergi dengannya. Jika bisa, ia ingin menculiknya saat ini juga.


Clara keluar dari mobil dan memeluk Edward dengan erat. "Ed?" panggilnya manja. Wajahnya terlihat sangat senang hari ini.


"I miss you, sayang."ucap Edward sambil memeluk Clara dengan erat.


Clara tertawa. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.Ia melepaskan pelukan Edward. "Kita jadi pergi kan? Kita mau kemana?"tanyanya.


"Surprise. Aku mau ajak kamu ke tempat spesial. Nanti juga kamu tau."


Tidak perlu waktu lama untuk menunggu Clara. Ia kembali dengan dress hitamnya yang menggoda.


Ketika berada di mobil, Clara tidak bisa diam. "Kita mau kemana sih Ed?"tanya Clara bingung. Sejak tadi Edward diam seribu bahasa. Ia tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Apakah ada pesta? Dimana? Apakah ia nanti akan bertemu kembali dengan ibu tirinya? Atau saudara tirinya?


"Nanti kamu tau sendiri. Ini surprise." ucapnya lagi.


Mobilpun memasuki sebuah gedung yang terlihat unik. Di luar, mobil berjajar. Tapi ia tidak melihat seorangpun tamu. Edward turun dari mobil terlebih dahulu. Ia berjalan ke samping kiri mobil dan membukakan pintu mobil tempat Clara duduk. Clara perlahan turun dan terus melihat ke sekeliling. Edward tersenyum. Ia tahu kekasihnya itu kebingungan dan terlihat takut.


"Kamu gak usah takut. Kita masuk aja." ajak Edward sambil memeluk bahu Clara. "Selama ada aku semuanya baik-baik aja." tambahnya.


Clara melihat ke kiri dan kekanan. Tidak ada orang disana. Hanya beberapa bangunan yang terlihat kosong. Padahal interior didalam bangunan mewah. Bangunan itu terlihat seperti butik hotel. Tapi ia tidak yakin. Kemudian ia melihat sebuah cahaya terang diujung lorong. Ia semakin bingung. Ia terus berjalan dibelakang Edward dengan tangan masih dalam genggaman pria itu. Seorang pelayan menghampiri mereka. Edward bergumam sejenak, pelayan itu langsung membawanya ke sebuah ruangan. Tiba-tiba Clara tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia melihat sebuah meja yang sudah disulap menjadi sangat cantik sekali. Ia sesekali menatap Edward tapi pria itu terdiam. Ia hanya membawanya ke salah satu kursi yang tersedia disana.


Edward menatap Clara yang terlihat masih terkejut. Ia tersenyum tipis. Sebelum kepergiannya ke Singapura besok pagi, ia ingin memberikan kejutan pada Clara karena gadis itu akan berulang tahun dua hari lagi. Ia takut tidak akan menjadi yang pertama kali mengucapkan. Ia menggiring Clara untuk duduk disalah satu kursi. Kemudian ia berjalan menuju salah satu tempat. Ia bisa melihat Clara masih kebingungan. Ia mengambil satu bucket bunga mawar merah dengan ukuran besar.


Edward berjalan menghamprii Clara. Ia berlutut sambil mengangkat kedua tangannya. Ia menyerahkan bunga itu.


"Untuk apa?"tanya Clara bingung.


"Happy birthday." ucap Edward pelan.


"Happy birthday?"tanya Clara. "Ulangtahun aku masih beberapa hari lagi."protesnya.


"Aku takut bukan jadi yang pertama buat kamu. Karena besok aku harus ke Singapura. Aku takut gak bisa merayakannya sama kamu" ucap Edward tulus.


"Ada apa Ed? Kasih tau aku. Aku bingung."


"Besok pagi aku mau ke Singapura buat ketemu kedua orangtua aku. Aku berharap kamu ikut. Tapi urusan kamu disini masih banyak. Jadi aku putuskan buat pulang sendiri." jelas Edward.


"Kenapa mendadak? Kamu ada pekerjaan?" tanya Clara.


"Aku mau hidup berdua sama kamu, Ara. Aku gak mau berpisah lagi. Aku datang ke sana buat minta persetujuan mereka buat menikahi kamu segera." jawab Edward lantang.


Clara terkejut. "Menikah?"


"Ya, setelah pulang dari SIngapura aku putuskan buat tinggal disini. Kamu mau kan menikah sama aku? Aku mau wujudkan tanggung jawab aku sama kamu. Harusnya setelah pulang dari Phuket, aku langsung menikahi kamu. Tapi karena kejadian itu, aku harus menutup semuanya. Tapi sekarang, gak ada lagi alasan buat aku enggak nikahin kamu."


"Kamu ngelamar aku? Kamu becanda ya Ed?"tanya Clara sambil tertawa.


"Aku serius, Ara." Ucapnya kesal. Edward berdiri. Ia berusaha untuk serius. Beberapa malam ia belajar untuk mengatakan hal itu, tapi sayangnya kekasihnya malah menganggap itu sebagai lelucon. Ia membelakanginya. Clarapun ikut berdiri dan memeluk Edward dari belakang. "Don't angry to me, Ed. Aku seneng. Tapi kita gak bisa terburu-buru memutuskan hal ini." ucap Clara.


"Kamu gak mau?"tanya Edward ketika ia membalikkan tubuhnya.


Clara menggelengkan kepalanya. "Aku mau, tapi kali ini kita harus berkorban sementara. Aku masih ada urusan tentang Desy. Kita harus menunggu sebentar." ucap Clara sambil tersenyum.


"Itu jawaban yang cukup buat aku." jawab Edward sambil tertawa senang. Iapun menarik Clara untuk kembali duduk dikursinya. Ia hanya cukup membunyikan bell ketika seorang pelayan keluar membawakan satu buah ember berisi es dan satu botol wine. Clara menatap Edward antusias. "Kamu tau kalo aku paling gak kuat minum wine?" bisik Clara.


"Liat dulu." jawab Edward pendek. Ketika ember itu disimpan di meja, Clara melihatnya, Ia terkejut untuk kesekian kalinya. Itu adalah jenis wine yang biasa mereka pesan ketika berada di Phuket.


"Ed.." bisik Clara. Ia menatap Edward tidak percaya.


"Cukup susah bisa dapet jenis yang sama. tapi kamu puas kan? Aku sengaja pesan tempat disini buat menjaga privasi kita. Kalo kamu bingung kenapa sepi? Karena tempat kita berada ada ditempat spesial. Kamu wanita spesial buat aku. Gak mungkin aku pesan tempat yang biasa-biasa aja kan?"ucap Edward membuat Clara tersipu malu. "Apa menurut kamu surprise aku kurang bagus? Aku gak mau Alena atau siapapun yang ngasih surprise kamu yang pertama selain aku."


Clara tertawa ringan. Ia kemudian menatap Edward serius. "Ini terlalu bagus Ed. Aku gak tau harus ngomong apa sama kamu. Ini terbaik. Aku gak pernah nyangka bakal dapet surprise sebagus ini seumur hidup aku." ucap Clara sambil memegang tangan Edward.


"I love you." ucap Edward sambil mengangkat tangan Clara ke bibirnya.


"I love you too and thank you." bisik Clara sambil tersenyum.