Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Siapa Sasha?



"Ada tamu ya?" ujar Sasha ketika Edward melepaskan pelukannya yang tiba-tiba. Ia berlari mengejar Clara dan menariknya.


Clara terkejut karena wanita itu menarik tangannya. Ia menatap wanita itu dari ke atas dan ke bawah. Wanita itu terlihat ceria. ia tidak mengenalnya sama sekali. Tapi sepertinya ia cukup mengenal Edward dengan baik. Kenapa Edward tidak pernah mengatakan tentang wanita itu? Siapa wanita itu? Saudaranya? pikir Clara.


"Halo, aku Sasha. Temannya Edy waktu kecil. Jangan salah paham dulu. Aku temenan sama Edy karena rumah aku cuma 100 meter dari sini."Jelas wanita itu. Ia menarik lengan Clara. "Kamu pacar Edy ya?"tanyanya sambil tersenyum.


Clara membalas jabatan tangan wanita itu. Ia ikut tersenyum. "Clara." ucapnya pendek


"Sasha, kesini" Panggil Ami.


Sasha berbalik dan menatap wanita itu. "Iya tante" teriaknya. Ia melihat wanita itu berdiri. Kemarin sore ia menyanggupi wanita itu untuk membantunya membuat kue. Ia sempat mengatakan jika Edward akan pulang dengan membawa kekasihnya. Iapun melihat Clara.dan tersenyum. "Aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi." ucapnya sambil berjalan menjauhi Clara dan Edward.


Edward memegang tangan Clara dan membawanya keluar dari rumah itu. Perkenalan hari ini gagal total. Ia tidak menyangka ibunya akan berkata sesuatu yang menyakitkan seperti itu. Ia kecewa. Merekapun mulai menaiki mobil dan pergi dari tempat itu dengan cepat. Tidak ada perkataan diantara keduanya. Mereka terdiam untuk waktu yang lama. Ia sesekali melirik Clara. Ia berfikir. Kenapa hari ini ia menjadi pria yang lemah? Ia tidak berani mengeluarkan sepatah katapun pada Clara. Kenapa niatnya untuk menikahi Clara sulit sekali? Kenapa banyak sekali godaan yang menimpa mereka?


Clara terdiam untuk waktu yang cukup lama. Sebenarnya ia sudah menyiapkan hati jika sesuatu terjadi saat perkenalan mereka. Pagi ini adalah puncaknya. Pendidikan? Ia bahkan tidak menyelesaikan sekolah menengahnya dulu. Kemudian ia mengingat wanita tadi. Ia pikir usianya tidak terpaut jauh darinya. Sasha. Ya,, nama wanita itu Sasha. Dan tentu saja ia disukai ibunya Edward. Wanita itu terlihat berpendidikan. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa sangat rendah. Clara mengangkat salah satu tangannya dan memegang kepalanya. Ia menatap jalanan.


Mobil merekapun sampai di hotel. Clara turun terlebih dahulu. Sedangkan Edward menyusulnya dari belakang. Ia sedikit berjalan cepat dan memegang tangan Clara.


"Kamu marah?" tanya Edward.


Clara menundukkan kepalanya. Ia tidak berani berkata apapun pada pria itu.


"Ara, jawab aku." ucap Edward cemas.


"Aku marah sama diri aku sendiri." ucap Clara tenang.


Pintu kamarpun dibuka. Clara langsung mengeluarkan pakaian-pakaiannya yang ada dilemari. Ia berjalan ke samping ranjang untuk mengambil tasnya. Edward yang melihat itu merasa bingung.


"Kamu mau kemana?"tanya Edward.


"Aku mau pulang ke rumah. Tempat aku bukan disini." ucap Clara.


"Ayo kita cerita." Ucap Edward sambil memegang tangannya.


Clara menatap Edward. "Aku masih shock. Aku mau pulang."


"Ara, aku cinta sama kamu. Aku rela berkata seperti ini berulang-ulang kali. Mama gak tau keadaan kamu sebenarnya. Kalo mama tau apa yang udah terjadi sama kamu, mama pasti mengerti. Siapa yang gak mau punya menantu kayak kamu." ucap Edward sambil tersenyum.


Clara menghela nafas. "Terlalu complicated Ed. Aku orang yang gak suka ditolak. Ngeliat mama kamu kayak tadi, aku sempet mau menyerah."


Edward menggelengkan kepalanya. "No..no.. don't give up. Kamu baru sekali ketemu mama. Lagipula papa suka sama kamu. Mama aku itu seorang pengajar. Jadi kalo masalah pendidikan, ia pasti mengatakannya paling utama. Tapi mama kan gak tau keadaan kamu sebenarnya."


Clara cemberut. "Trus sasha itu siapa?"


Edward mencubit pipi Clara. "Kenapa? Cemburu?"tanyanya


"Edy? Kenapa dia panggil nama kamu Edy?"


Edward memegang wajah Clara dengan kedua tangannya. "Sasha adalah satu-satunya temen aku waktu aku kecil. Waktu dulu dia gak bisa manggil Edward. Dia cuma bisa manggil nama aku Edy. Aku sama sekali gak pernah menganggap Sasha selain adik. Buktinya dia tadi ngenalin diri kan? Aku gak mau kamu cemburu sama Sasha. Aku minta maaf sama peristiwa tadi, sayang." bisiknya tulus.


Clara mengangguk pelan. Hatinya masih terasa campur aduk. Ia tidak bisa menghilangkan prasangka buruknya pada wanita itu. Ia menatap Edward. "Lebih baik kamu tunda dulu rencana kamu menikahi aku, Ed. Sampai ibu kamu bener-bener terima aku."


"Oke.Aku ikut ucapan kamu walaupun aku kecewa" ucap Edward. "Sekarang kamu mau kemana?"tambahnya.


"I wanna go home. Aku gak mau tinggal disini terlalu lama. Aku mau tinggal di rumah." ucap Clara.


Edward mengangguk. "Oke kita pulang sekarang." ucapnya.


Setelah membereskan pakaian-pakaian mereka, tak lama merekapun segera check out dari hotel tempatnya menginap. Dari kejadian hari ini Edward bisa menyadari satu hal. Dibalik sikap tegasnya di perusahaan, ternyata Clara sama seperti wanita pada umumnya. Ia sangat sensitif. Kali ini ia akan membiarkan ibunya berfikir dengan segala sesuatu yang ada di otaknya. Tapi ia yakin jika kini ibunya tengah mencari tahu tentang siapa Clara sebenarnya. Ia tersenyum ketika melangkah di bandara Changi. Tidak sulit untuknya mendapatlan tiket pesawat. Ia menggenggam tangan Ara dan melangkah bersama untuk menaiki pesawat dan kembali ke rumah.