
Clara berjalan mondar mandir di kamarnya. Ia tidak bisa tenang jika belum mendengar kabar terbaru dari kakaknya. Saat ini keadaan sudah menjelang malam. Tidak ada tanda-tanda kedatangan nenek Siska. Kenapa lama sekali? pikirnya. Beberapa kali terdengar ada telepon masuk tapi bukan dari orang yang akan mengabarkan keadaan kakaknya. Entah harus bagaimana lagi ia mencari tahu keadaan kakaknya. Ia merasa frustasi.
Ia berjalan menuju jendela. Tiba-tinq Ia melihat pintu pagar terbuka. Mobil yang ditumpangi nenek Siska masuk. Clara langsung berlari ke bawah untuk segera menemuinya. Ia membuka pintu dengan cepat dan berlari menuju mobil yang baru saja parkir. Pintu mobil ia buka perlahan.
Siska turun dari mobil dan terlihat lelah. Clara membantunya untuk turun.
"Gimana nek? Aku gak tenang. Gimana kakak?" tanya Clara cemas.
"Alena masih shock. Dia kehilangan bayinya." ucap Siska sambil berjalan.
Clara terdiam. Ia sedih karena kakaknya harus mengalami hal seperti ini. Ia menatap Siska. "Aku mau ketemu sama Kak Alena."
"Besok aja. Kakak kamu harus banyak istirahat. Besok pagi kita kesana lagi." ucap Siska lembut.
"Orang itu ya nek?" tanya Clara tiba-tiba.
Siska menghentikan langkahnya. Ia menoleh pada Clara. "Belum bisa dipastikan. Kakak kamu sedang mengusut."
Clara memegang lengan Siska.
"Nek, ijinin aku buat ketemu Om Sakti." ucap Clara serius.
"Nanti. Kalo semuanya sudah membaik."
"Tapi Clara udah gak sabar nek."
Siska memegang tangan Clara. "Denger nenek, Clara. Saat ini jangan terlalu cepat ambil keputusan. Percaya sama kakak kamu. Sekarang lebih baik kamu istirahat karena sudah malam. Nenek lelah. Besok kita bicara lagi." ucap Siska sambil berjalan kedalam.
Clara masih terdiam diparkiran mobil. Ia memikirkan sesuatu. Sudah saatnya ia kembali. Jika ia terus berada disini, ia hanya akan mencelakakan orang-orang yang disayanginya. Ia tidak mau itu terjadi. Iapun berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu kamarnya. Ia duduk di meja rias dan menatap wajahnya. Ia sudah pulih. Semuanya sudah kembali seperti semula.
Edward menatap kesal pada Dega. Seharian ia melarang dirinya pergi kemanapun. Ia harus bertemu dari satu klien ke klien yang lain. Menjengkelkan. Ia jadi tidak bisa melihat Clara hari ini. Ia menghubungi Dave tapi tidak diangkat sejak siang. Calvin pun sama. Kemana semua sahabatnya pergi?
"Nih. Udah beres. Apalagi?" tantang Edward sambil menyimpan beberapa laporan dengan keras di meja.
Dega tersenyum puas. Kapan lagi ia bisa mengerjai adiknya yang menyebalkan itu. Dengan seenaknya ia keluar masuk kantor tanpa memiliki beban apapun. "Thanks sayang."goda Dega.
"Why not?" tanya Dega sambil tertawa.
Edward mengambil salah satu map yang ada di meja Dega. Ia tertarik ketika melihat gambar bangunan yang pernah ia datangi. Ya, hotel yang dianggap oleh Adriana adalah miliknya. Ia membuka satu persatu halaman. Ia membacanya sekilas. Terdapat beberapa aset yang dimiliki ayahnya Clara dan Alena. Ternyata mereka tidak seperti yang ia bayangkan. Bahkan resort yang sedang direnovasi itupun termasuk dalam salah satu aset mereka.
"Asetnya gila, kak. Pantesan waktu di Phuket , Clara kok gampang banget ngeluarin uang." ucap Edward tanpa sadar.
"Sebenernya kalian berdua kenal dimana?" tanya Dega penasaran. Ia menutup laporan yang sedang dibacanya.
Edward menghela nafas sebelum akhirnya berbicara. "Aku ketemu Ara di pesawat waktu penerbangan ke bangkok. Aku sempet kejar dia tapi aku salah sangka. Ternyata sepupunya yang jemput. Lalu aku ngeliat dia di beranda kamarnya. Itu kejadian pas hari pertama aku ada di Phuket, sebelumnya aku ke Bangkok buat meeting."
"Trus?"
"Kita ikut challenge yang kita gak tau, ternyata itu challenge buat pasangan honeymoon. Intinya kami mabuk, dan terjadilah semuanya. Ara terbangun dengan ketakutan yang luar biasa waktu itu. Dari situ aku nawarin dia pernikahan." jelas Edward.
Dega terkejut. Ia hampir saja berdiri. Seorang Edward yang ia kenal tidak pernah serius pada satu wanita, menawarkan pernikahan pada seorang gadis.
Edward menatap Dega. "Aku tau kamu gak percaya. Tapi begitulah kejadiannya. Aku bersedia tanggung jawab saat itu. Tapi semuanya berubah waktu dia pergi tanpa kata-kata. Aku terlanjur cinta sama dia. Aku gak rela harus kehilangan dia cepet-cepet.
"Ya ampun Ed. Kamu bahkan gak tau kalo Alena sama Dave nemuin Clara itu pas dimana Clara mau dijual buat jadi *******. Aku ngerasain sakitnya Clara waktu kamu hina di kantor kamu."
Edward berdiri. Ia tidak mau mendengar cerita tentang kejadian itu lagi. "Aku cape, mau pulang." ucapnya sambil berjalan keluar. Ia meninggalkan Dega yang masih terlihat gemas padanya. Ia tidak mau disalahkan. Ia melakukannya karena ia tidak tahu.
Edward menjalankan mobilnya. Ia membawa mobilnya keluar dari sibuknya ibukota. Saat ini ia hanya terpikir tentang Ara. Ia ingin menemuinya. Ia berharap bisa melihatnya walaupun hanya dari jendela. Iapun membawa mobilnya menuju rumah nenek Siska.
Ketika sampai didepan rumah itu, ia keluar dari mobil dan berdiri sambil melihat bangunan megah itu. Di setiap sudut, ia bisa melihat beberapa penjaga sedang menjaga rumah. Mereka berpakaian hitam-hitam. Edward terus melihat bangunan itu sambil berharap wanita itu akan keluar dari persembunyiannya.
Tiba-tiba ia melihat salah satu jendela terbuka. Tepatnya di lantai dua. Edward dengan cepat mematikan rokoknya. Ia terus menatapnya. Tak lama sosok Clara nya berada diluar. Ia terlihat murung. Edward hanya melihatnya.
Clara sangat kesakitan malam ini. Ia memutuskan untuk membuka jendelanya dan berdiri di beranda sebentar untuk menikmati angin malam. Ia menatap langit sebentar. Kemudian ia melihat jalanan yang sepi. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang berada didepan mobilnya. Seorang pria yang sangat ia kenal. Wajahnya terlihat senang ketika mereka saling bertatapan. Saat itu pula mereka hanya bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Namun tiba-tiba Clara menunduk dan membelakanginya. Ia pun masuk kembali ke dalam kamar dan menutup jendela.
Maafin aku, Edward. Ngeliat kamu malam ini, aku yakin kamu menyesal. Tapi maaf, saat ini aku cuma mau fokus sama keluargaku. Aku gak mau mereka terluka. Lebih baik aku terluka daripada aku melihat orang-orang yang aku sayangi terluka.
Edward kecewa ketika Clara masuk kembali ke dalam. Tapi ia merasa cukup melihat wanita itu malam ini. Ia akan terus kembali ke sini sampai Alena dan nenek Siska mengijinkannya bertemu dengan Clara.