Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Pertemuan dengan Sakti



Clara menatap gedung yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Gedung itu tidak terlalu besar. Hanya ada 2 lantai. Kini ia tahu tempat persembunyian ayahnya ketika bersama sahabatnya. Iapun turun dari mobil dengan diikuti oleh bodyguard yang menjagany selama diperjalanan. Ketika ia melangkah masuk kedalam gedung itu, ada seseorang memanggilnya.


"Clara!" panggilnya.


Clara membalikkan badan dan melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata orang yang paling dicarinya.


"Om.."jawab Clara sambil tersenyum senang.


Sakti berjalan cepat untuk membawa Clara kedalam. "Om cemas sama kamu. Katanya kemarin kamu sempet di bius? kamu udah gak apa-apa? Ayo keruangan Om. Om bener-bener cemas." ucapnya.


"Gimana?" tanya Sakti saat mereka sudah berada di ruangannya.


"Aku baik-baik aja om. Orang-orang itu langsung kabur pas udah ada pertolongan dari orang-orang. Itu yang aku denger." jelas Clara.


Sakti berdiri dan berjalan ke arah lemari. Ia mengeluarkan berkas yang tersimpan di dalam brankas.


"Om mau baca surat warisan yang papa kamu buat." ucapnya. Clara hanya mengangguk.


Ia membaca isi warisan perlahan. Tidak ada yang mengatakan jika harta warisan ayahnya jatuh ketangan kedua orang itu.


"Papa kamu memang udah tahu semuanya. Sehari sebelum kecelakaan, dia datang kesini buat mengganti isi surat."


Clara menitikkan airmata. "Selama papa menikah sama orang itu, hubungan aku sama papa gak baik om."


"Om tahu. Papa kamu juga tahu kok."ucapnya. "Jadi semua harta papa kamu jatuh ke tangan kalian berdua."tambahnya kemudian.


"Om, aku mau tanya sesuatu. Papa meninggal karena kecelakaan kan? Apa semuanya pasti?" tanya Clara.


"Menurut kepolisian, papa kamu menabrak tembok pembatas jalan. Tapi ia masih bisa keluar dari mobil. Tiba-tiba ada mobil kencang dari arah berlawanan, dan saat itu papa kamu terpental beberapa meter. Waktunya itu cuma beberapa menit setelah papa kamu pulang dari sini."


Clara mendengar dengan serius. "Ada yang aneh?" tanyanya.


"Sebentar." ucapnya sambil berjalan kembali ke lemari. Ia mengeluarkan sesuatu.


"Ini hasil otopsi seluruh tubuh papa kamu yang om minta ke pihak rumah sakit. Papa kamu bukan cuma patah tulang. Tapi ada sesuatu yang lain."


Clara mengambil kertas itu dan membacanya.


"Om, coba kesini." ucap Clara.


Sakti menghampiri Clara. Ia melihat kalimat yang ditunjukan olehnya.


"Ini kan alkohol Om. Sama obat penenang. Sejak kapan papa minum obat penenang?" tanya Clara nanar. Ia langsung membayangkan sesuatu yang tidak mau ia bayangkan."Apa mungkin papa dikasih obat penenang secara perlahan sama wanita itu?" tanya Clara mulai kesal.


"Om akan bantu kamu, Clara." ucapnya. Kemudian ia mengeluarkan kunci sebuah rumah.


"Ini kunci villa yang papa kamu titip sama Om. ia meminta kamu untuk pindah. Tapi waktu itu belum sempat diberikan."


"Oh ya, kamu butuh apa aja? Biar om siapkan." ucap pria itu.


Clara berfikir sebentar. "Aku butuh mobil sama uang."


"Rencana kamu apa? Jangan gegabah." ucap pria itu.


"Clara harus mempelajari motif dia, om. Tapi rencana Clara saat ini, Clara mau ketemu sama orang yang udah buang Clara di hutan. Kalo bukan karena mereka, Clara udah meninggal om."


"Kamu bisa lobi mereka buat berdiri dibelakang kamu." ucap Sakti.


"Itu bisa diatur om."


Sakti mengeluarkan kunci mobil dari saku jasnya. "Ini kunci mobil om. Sekarang disimpen di depan villa yang tadi om kasih kuncinya sama kamu. Kalo uang, nanti malem om kasih ke kamu."


"Makasih om, aku pergi dulu." jawab Clara.


Tanpa menunggu lama, ia langsung menuju Vila yang telah ayahnya belikan untuknya. Ia ditemani oleh Sakti menuju Vila.


"Om, kalo terbukti wanita itu yang meracuni papa, gak akan aku maafin sampai kapanpun." ucap Clara kesal.


"Asal kamu tau Clara, berkas tuntutan karena penggelapan uang perusahaan sudah dimasukkan ke kepolisian. Yang om dengar dari Ibu Dega, berkasnya kini sudah P21 yang artinya berkas itu sudah masuk kejaksaan. Sebentar lagi kemungkinan ada pemanggilan dalam beberapa hari oleh penyidik." jelas Sakti.


Clara sama sekali tidak mengerti mengenai pengadilan dan penggelapan. Sejak ia tahu tentang kematian ayahnya, Ia hanya ingin menjebloskan wanita itu ke penjara karena telah meracuni ayahnya dengan sempurna sehingga membuat ayahnya meninggal dengan perlahan.


Mobil pun memasuki daerah sejuk. Clara bisa merasakannya ketika ia membuka kacanya. Ia tidak pernah tahu ayahnya akan membelikannya vila yang jauh dari keramaian. Didepan sebuah rumah yang terdiri dari 2 lantai dengan model minimalis itu membuatnya terkesima. Ia turun dari mobil dan menatap dengan serius setiap sudut rumah itu.


"Non Clara." panggil seseorang.


Clara membalikkan badannya dan melihat seseorang tak percaya. Ia menatap nanar. Ia tidak ingin menangis tapi airmatanya tetap keluar.


"Bi Rumi?" panggil Clara sambil berjalan mendekatinya.


Bi Rumi memegang tangan Clara dengan erat. "Non Clara baik-baik aja kan? Saya seneng non Clara kembali." ucap wanita itu sedih.


"Saya baik-baik aja bi, kenapa bibi ada disini?" tanya Clara.


"Bibi diusir nyonya. Tapi untungnya ada pak Sakti. Ia yang bawa bibi kesini. Katanya disini gak ada yang menjaga. Bibi disini sama 2 orang lainnya. Ada pembantu sama tukang taman." jelasnya.


"Aku seneng bibi ada disini. Aku gak akan takut lagi selama bibi temenin aku."


"Iya non, kita masuk kedalam." ucapnya.


Clara bisa membuat rencananya sempurna. Ia bisa meminta Bi Rumi sebagai saksi. Ia yakin apa yang akan dilakukannya sangat membahayakan. Untuk itulah ia bisa menggunakan beberapa orang yang ia percayai.


"Desy, siap-siap. Aku kembali buat ngirim kamu ke panjara."