
Clara menatap berkas-berkas yang harus ia arsipkan diruang arsip. Kebetulan Dega tidak ada karena tadi ia ada panggilan telepon dan ia harus pergi, jadi ia harus biasa sendiri. Sejauh ini ia merasa betah dan tidak merasa takut. Sudah seminggu ini perasaannya mulai terbuka. Mengingat pertemuannya dengan Edward tadi ketika lift tadi, rasanya ia akan mendapat perhatian lebih kali ini. Edward. Kemarin sore ia menceritakan kegelisahannya mengenai pria itu. Walaupun ia tidak jelas mengatakan pada kakaknya tentang siapa pria itu, tapi setidaknya ia merasa tenang.
“Clara” panggil Andi. Salah satu karyawan bagian arsip yang sudah 3 tahun bekerja disana.
Clara membalikkan tubuhnya kebelakang. Ia tersenyum. “Ada apa?”
“Sini aku bantu. Aku gak ada kerjaan.” Jawab pria itu ramah.
“Iya, makasih ya.” jawab Clara senang
Clara tidak menyadari jika sikapnya seperti itu telah dilihat oleh seseorang yang berada kurang dari 10 meter darinya. Pria itu menahan amarahnya ketika melihat gadis itu ada dikantornya dan sedang tersenyum pada salah satu karyawannya. Ia berjalan kembali ke kantornya. Entah apa yang membawanya ke kantor arsip siang ini. Tapi setelah mendengar Dega membawanya kesana, ia penasaran.
“Zahna!” panggil Edward marah
Zahna berlari tergesa-gesa masuk keruangan Edward. Ia terkejut melihat atasannya bekerja hari ini. Padahal setaunya atasannya ada di Singapura. “Ya, Pak”
“Ada karyawan baru?”tanya Edward kesal.
“Iya, namanya Clara”
“Kenapa bisa kerja disini tanpa sepengetahuan saya?” tanya Edward marah.
“Ibu Dega yang bawa.”
Edward langsung berjalan keluar untuk bertemu dengan kakaknya. Ia menggebrak pintu dengan kencang. “Kenapa masukin karyawan tanpa sepengetahuan aku?”
“Hey, Kenapa datang-datang marah gitu? Sopan sama aku! Siapa yang kamu maksud?” tanya Dega marah. Walaupun ia tahu siapa yang adiknya maksud. Tapi ia tidak menyangka adiknya akan bersikap seperti itu.
Edward hanya menatapnya sambil mengangkat kedua alisnya.
“Oke. Dia temannya Alena. And I need her. Enough Oke. Case closed.” Jawab Dega tenang.
“Dont complaint me. Aku kerjain dia sekarang” ucapnya sambil berjalan keluar ruangan.
Clara mengelap keringat diwajahnya. Beberapa hari ini ia merasa ketenangan walaupun masih ada sedikit yang mengganjal dihatinya. Bertemu dengan orang-orang baru membuatnya begitu berkesan. Ia terus berjalan untuk sampai kedalam lift. Langkahnya terhenti ketika ia melihat pria itu berada didepan lift. Orang-orang terlihat sungkan dan tidak berani berbicara. Iapun membalikkan badannya kebelakang dan kembali ke mejanya. Ia melihat data perusahaan dan terdiam. Tidak ada yang dicarinya.
“Clara sayang!!!”panggil Edward kesal. Ia kembali ke kantornya setelah tadi berada di lobi untuk menghubungi seseorang. Ruangannya berada tak jauh dari ruangan Dega dan tentu saja dari meja Clara.
Clara berlari memasuki ruangan Edward. Banyak pegawai yang terkejut dengan teriakan Edward. Apalagi pria itu menambahkan kata sayang saat memanggilnya. Pria itu menatapnya dari atas kebawah.
Edward membanting berkas yang dikerjakan oleh Clara. “Kerjaan macam apa ini? Kalo gak bisa kerja, jangan kerja disini! Kerja aja ditempat hiburan!”
Clara terkejut pada kata-kata Edward. Ia berusaha untuk tidak bertemu dengan Edward. Karena ia yakin harinya akan berbeda jika ada pria itu.
Clara tidak sanggup menatap wajah Edward. Apapun yang ia lakukan akan tetap salah dimatanya.
“Sayang!”panggil seorang wanita dibelakangnya.
Wajah Edward langsung berseri ketika melihat siapa yang datang. “Adriana!” serunya yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Clara tidak bisa menggerakkan badannya. Kedua kakinya bergetar. Suara itu, ia tahu suara itu. Dan namanya persis. Tidak mungkin dia orang yang sama.
“Kamu lagi ada tamu?”tanya Adriana manja.
“Oh, gak penting. Dia karyawan aku yang gak bisa kerja. ”ucapnya sambil menatap Clara. “Udah, kamu pergi sana! Jangan datang lagi kesini, aku muak” Tambahnya ketus.
Clara dengan terpaksa membalikkan badannya dan mereka pada akhirnya bertemu. Adriana terkejut melihat Clara begitupun sebaliknya. Perasaan ketika diinjak dan dijambak oleh wanita itu masih terekam di memori kepalanya. Ia mulai ketakutan. Trauma itu datang kembali ketika mereka saling bertemu. Dan ia harus memutuskan sesuatu. Ia harus keluar dari perusahaan ini secepatnya.
Clarapun berlari keluar menuju ruangan Dega. “Kak Dega, aku gak sanggup. Hari ini juga aku mengundurkan diri.”
“Kenapa Clara?”tanya Dega bingung
“Orang itu, anaknya ibu tiri aku ternyata kekasih Edward.” Jawab Clara dengan wajah pucat. "Aku pikir kerja di sini bisa mancing beberapa karyawan perusahaan papa, tapi aku salah. Aku mancing pemiliknya."
"Gimana kalo aku tanya Edward sekarang?"tanya Dega cemas. "Gak kak, jangan. Orang itu masih ada disana." Ucapnya sambil menangis.
"Tapi aku khawatir keselamatan kamu. Gimanapun kamu adik Alena. Aku gak bisa ngebiarin kamu terluka." Ucap Dega. Ia dapat melihat gadis didepannya ketakutan.
"Tolong kak, jangan kasih tau Edward dulu. Adriana pacarnya Edward. Nanti Edward marah sama aku. Jangan kasih tahu dia masalah aku. Aku takut. Please" jawab Clara memohon dengan memelas. Ia takut jika Edward bersekongkol dengan keluarga ibu tirinya. Tiba-tiba terpikir olehnya, bisa saja ia memang dikirim ke thailand untuk menjebaknya.
"Oke, aku hubungi Alena biar jemput kamu sekarang. Kamu harus jaga diri baik-baik dan jangan lupa hubungi orang yang deket sama kamu." Ucap Dega sambil pergi keluar dan mulai menghubungi Alena.
Clara mulai membuat surat pengunduran dirinya. Edward, ia adalah pria yang selalu diingatnya. Edward adalah cinta pertamanya. Walaupun Edward berbuat kesalahan seberat apapun, ia tidak bisa tidak memaafkannya karena namanya sudah terpaut didalam hatinya.
Pintu ruangan Edward diketuk dengan pelan. Ia melihat Clara masuk dengan membawa selembar kertas. Ia mengerutkan keningnya. Kemudian pandangannya ia alihkan kewajahnya. Wajahnya masih terlihat pucat.
"Ada apa?"tanya Edward ketus.
"Aku mau mengundurkan diri."
Edward terkejut. "Ngundurin diri! Jangan seenaknya kamu! Memang kamu pikir ini perusahaan nenek kamu yang seenaknya mewujudkan keinginan kamu! Baru seminggu kerja, udah ngundurin diri lagi."ucapnya marah.
Clara menatap Edward dengan memelas. "Aku mohon. Aku gak ada alasan lagi untuk bekerja disini."
"Kamu marah gara-gara Adriana? Kamu marah kalau ternyata kamu gak bisa ngebohongin aku lagi?"
Clara menggeleng. "Bukan!"
"Lalu apa? Kamu sadar kalau ternyata aku tidak sebodoh yang kamu kira. Kenyataannya aku udah punya pacar dan seksi. Dia juga pintar.."
"Cukup."ucap Clara sambil menghela nafas. Ia merasa tak sanggup lagi mendengar ucapan Edward.
Edward mendekati Clara dan menunjuknya. "Kamu bxxxsxk, Ra! Kamu bukan wanita terhormat jadi jangan bertingkah layaknya wanita terhormat. Gak semua laki-laki mau sama kamu.. Semua yang kamu lakukan salah dan gak akan pernah bener dimata aku. Kamu bener-bener bxjxt! Kamu nipu aku buat tidur sama kamu kan?" Teriaknya.
Clara menggelengkan kepalanya. Ia menundukkan kepalanya dan menangis. Ia yakin semua orang yang ada diluar mendengar perkataan Edward. "Aku gak ada niat buat nipu kamu, Ed."
"Lalu apa? Perempuan kayak kamu memang senengnya nipu kok!"
"Cukup Ed, please" Isak Clara
"No. This is my mouth. I said what i'm thinking." (Gak. Ini mulut aku. Aku bilang apa yang aku pikirin?
"Please, Kill me (Tolong, bunuh aku) kalo bisa buat kamu puas." Bisik Clara dengan nada berat. Ia menatap mata Edward dengan airmata penuh dipelupuk matanya "I can't handle this anymore (aku gak bisa menahannya lagi)."
Edward terdiam mendengar ucapan berat Clara. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar nada frustasi dikalimat Clara. Dan matanya menyiratkan kesedihan dan kelelahan. Tiba-tiba ia ingin sekali memeluk gadis itu dan meminta maaf atas apa yang ia katakan tadi.
"EDWARD! KAMU BXSTAXD!"Teriak Alena yang tiba-tiba datang tanpa diduga. Alena curiga ketika mendengar teriakan seseorang yang ia kenal. Tapi ia tidak menyangka jika Edward sedang memarahi adiknya. Alena langsung mendorong tubuh Edward hingga terhuyung kebelakang.
"Kenapa kamu Al? Buat apa kamu ngebela orang yang udah bener-bener salah" tanya Edward kesal.
"Dia adik aku. Asal kamu tau aja! Dan kamu gak tau apa-apa tentang dia"jawab Alena kesal. Ia kemudian menarik lengan Clara. "Ayo sayang, we go home." Ucapnya.
Baru saja selangkah, Clara langsung terhuyung kebelakang. Ia pingsan. Alena terkejut dan menahan tubuh Clara dengan kedua tangannya. Edward menatap nanar tubuh yang ambruk itu. Ia mendekati Alena dan Clara.
"Dont touch my sister. Go (Jangan sentuh adikku. Pergi)!"ucap Alena marah. Edward mundur selangkah dan ia melihat para karyawannya membantu membawa Clara pergi dari kantor itu.
Dega segera menemui Edward saat Alena dan Clara pergi dari kantor mereka. "Kamu brxngsxk, Ed! Aku gak nyangka kamu sejahat itu. Apa bener yang aku denger tadi? Are you two sleep together (Apa kalian berdua tidur bareng)? When (kapan)?"
Edward tidak menjawabnya. Ia terus melihat keluar jendela. Ia masih menerka apa yang sedang terjadi. Ia tidak mengerti apapun. Tiba-tiba telepon Dega bergetar.
"Halo." Ucap Dega. "Ya, aku kesana sekarang. Kalian sama Alena juga? Trus Clara gimana? Belum sadar?"
Edward langsung membalikkan badannya. Ia terus menatap Dega tanpa berkedip. "Are you hiding Clara secret from me (apa kamu menyembunyikan rahasia Clara dari aku)?"
"Yes (Ya)!" Ucap Dega kesal.
"Why (Kenapa)?" Tanya Edward marah.
"You know why (Kamu tau kenapa)" jawab Dega sambil berjalan keluar.
"Dega! Kenapa? I love her (aku cinta dia)!" Teriak Edward. Dega langsung membalikkan badannya. "What (apa)? If you love her, you're not act like that (Kalo kamu cinta dia, kamu gak akan bersikap seperti itu). "jawabnya sambil tertawa.
Edwardpun mengikuti langkah Dega dari belakang. "I love her. Trust me (Aku cinta dia. Percaya sama aku)!"ucapnya.
"Stop Ed! Aku gak percaya sama kamu" Jawab Dega tanpa mengentikan langkahnya.
"I'm not stopping until you tell me (Aku gak akan berhenti sampai kamu bilang sama aku)!"jawab Edward kesal
Dega menghela nafas dan kesal. "Follow me (ikut aku)."