
Adriana menatap koran yang menampilkan wajah Edward dengan jelas. Ia tersenyum puas sekali. Kedatangannya ke kota ini hanya untuk membalas dendam pada Clara. Ia harus bekerja keras menjadi pelayan untuk mendapatkan biaya tinggal di kota ini. Tapi melihat berita pagi ini, ia tersenyum. Ia hanya perlu memastikan pernikahan itu dapat berlangsung dengan lancar. Prinsipnya hanya satu. Jika ia tidak bisa mendapatkan Edward, Clara pun tidak bisa. Berbekal kertas koran , ia mencari kediaman Edward dan Clara dengan mudah. Nama mereka sudah dikenal di kota ini. Tapi sepertinya ia hanya membutuhkan alamat tempat mereka akan melangsungkan menikah.
Edward membawa mobilnya menuju kantor Clara karena ada yang harus ia lakukan disana. Tidak lupa ia membawa Sasha bersamanya. Ia melirik sekilas pada Sasha yang sedang sibuk memainkan game di handphonenya.
"Ed, kok aku ngerasa kasian sama pacar kamu. Apa aku bakal aman setibanya disana?" tanya Sasha tanpa melihatnya. Walaupun sedang sibuk bermain game, ia memikirkan perasaan wanita itu.
"Justru aku bawa kamu buat manasin Clara. Dia terlalu munafik buat mengakui kalo dia masih cinta sama aku."
Sasha hanya menggelengkan kepalanya. "Dua temen kamu juga gak tau soal ini. Kamu emang seneng bikin dosa."
"Gak usah banyak ngomong. Tinggal ngikutin omongan aku. Baru kesalahan kamu dibayar lunas."
Sasha menyimpan handphonenya dan melihat Edward dengan kesal. "Dasar gila!". Setelah ia menyanggupi permintaan Edward untuk membantunya, ia menjadi lebih nyaman jika mereka berteman seperti saat ini.
Ketika mereka tiba di kantor Clara, ia sengaja meminta Sasha untuk memegang lengannya. Resepsionis kantor itu sudah mengenalnya dengan baik. Ia langsung menaiki lift untuk menuju tempat Clara berada. Beberapa orang terlihat saling berbisik.
Setelah mereka berada didepan pintu ruangan Clara, Edward mengetuk dan membukanya dengan sekaligus. Ia melihat Clara sedang melamun. Ia terlihat gugup ketika melihatnya. Kemudian matanya menatap Sasha dengan jelas.
Edward masuk bersama Sasha tanpa dipersilahkan. Keduanya duduk di sofa panjang. Clara berdiri dan menghampiri keduanya.
"Ada apa ya kalian datang kesini?" tanya Clara sambil duduk di sofa.
Edward mengeluarkan sebuah amplop berwarna emas dan menyimpannya dimeja.
"Ini undangan pernikahan kita. Aku harap kamu datang." ucapnya.
Clara mengambil amplop itu dan menatapnya nanar. Ia pernah mengatakan pada Edward jika warna kesukaannya adalah emas. Undangan itu cantik sekali. Seharusnya namanya yang tertulis disana. Kenapa ia merasa sedih ketika melihatnya? Ia menggigit bibirnya ketika menutup kembali undangan itu dan memasukkan kedalam amplop. Ia menatap mereka berdua dan tersenyum.
"Sayangnya tanggal segini aku gak ada disini. Aku ada perjalanan bisnis ke luar negeri." jawab Clara.
Edward tersenyum sinis. "Bilang aja kamu menghindar."
Sasha langsung melihat Edward dan mencubit tangannya. Edward sedikit meringis. Lalu ia menatap Sasha dan tersenyum. "Sayang, kamu bisa tunggu aku di mobil? Atau di cafe. Aku ada urusan pekerjaan sebentar."
Sasha mendekati wajah Edward dan berbisik. "Jangan kejam-kejam. Awas! Aku juga perempuan." ancamnya. Iapun berdiri dan mengangkat tangannya pada Clara. Tapi ia melihat wajah Clara yang terlihat kesakitan ketika menatap Edward. Ia menghela nafas. Ia harus secepatnya pergi dari tempat ini sebelum kucing betina ini menyerah. Ia terlihat seperti akan menangis. Iapun keluar dari ruangan dan menutup pintu.
Clara berdiri dan berjalan menuju mejanya. "Ada urusan apa kamu datang kesini selain memamerkan calon istri kamu itu." ucapnya dengan nada malas.
Edward berdiri menghampirinya dan menarik tangan Clara dengan kencang. Tubuh Clara limbung kedalam pelukan Edward.
"Aku tau kamu masih cinta sama aku, Ara. Aku bisa berhenti. Asal kamu ngomong aja." ucap Edward sambil mempererat pelukannya.
Clara mendorong tubuh Edward dan menatapnya marah. "Ini kantor! Jangan macem-macem Ed!Kamu mau nikah!" sahut Clara.
Edward kesal dan menarik leher Clara dan mencium bibirnya dengan paksa. Clara mendorong kembali tubuh Edward dan menamparnya. Ia mengangkat satu jarinya dengan bergetar. Ia menunjuk wajah Edward. "Kamu...kamu... jangan pernah sekalipun kamu paksa aku! Aku gak akan pernah kembali sama kamu!" ucap Clara dengan bibir bergetar. Airmata nya sudah jatuh sejak ia pertama kali berbicara.
"Oke! Aku gak akan dateng lagi kesini. Aku gak akan ganggu hidup kamu lagi. Kamu gak pantes dicintai sama orang lain selain aku. Kamu akan merasakan kesakitan yang sangat karena penolakan kamu hari ini. Disaat kamu menyesal nanti, semuanya udah terlambat CLARA! Selamat tinggal!" jawab Edward marah dan berjalan keluar. Ia membanting pintu dengan kencang.
Clara ambruk dilantai dan mulai menangis. Ia menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Untungnya ruangannya kedap suara. Sekeras apapun ia menangis, tidak akan ada yang mendengarnya.
Edward masuk kedalam mobil dengan marah. Sasha yang sejak tadi menunggu di mobil hanya bingung melihat wajah Edward merah.
"Kenapa?" tanya Sasha.
"Sha, kita menikah beneran. Panggil orangtua kamu." ucap Edward marah.
"Hutang kamu lunas sampe kita menikah minggu depan." jawab Edward sambil menjalankan mobilnya.
Sasha memegang kedua tangannya. Ia tidak mau menikah dengan Edward. Pria disampingnya sedang marah besar. Ia tidak mungkin dijadikan korban karena kemarahan Edward.
*****************************************
Alena sedang memegang perutnya. Dua bulan lagi ia dipastikan melahirkan. Ia bersenandung sambil mengelus perutnya. Ia menatap jam dinding. Sudah jam 10 malam Clara belum pulang. Empat jam yang lalu adiknya menghubunginya jika ia akan pulang malam.
Terdengar mobil berhenti. Iapun berdiri dan berjalan keluar. Clara keluar dari mobilnya. Ia terlihat sempoyongan. Alena mengerutkan dahinya. Ia pun memanggil Dave untuk menghampirinya.
"Clara. Kamu kenapa?" tanya Alena cemas.
Clara mendekatinya dan tersenyum. Ia memeluk Alena. "Kak, aku pulang" ucapnya.
Alena melepaskan pelukan Clara dan memegang tangannya. "Kamu mabuk ya? Kenapa?" tanya Alena panik.
"Cuma sedikit!" jawab Clara sambil tersenyum. Ia kembali merangkul Alena.
Dave menghampirinya dan terkejut melihat Clara mabuk. Ia melihat Alena panik. "Kenapa?"
"Dave, Clara mabuk. Kita bawa ke kamar." ucap Alena panik.
Dave mengangkat tubuh Clara dan membawanya ke kamar. Setelah semuanya tenang, ia meninggalkan Alena dan Clara berdua.
Alena memegang tangan Clara dengan erat. "Sayang, bangun. Kamu sadar gak sih?" ucap Alena.
Clara membuka matanya dan menatap Alena setelah ia memberikan air jahe. Matanya mulai berkaca-kaca. Iapun bangun.
"Ada apa? Cerita sama kakak, sayang."
Clara menatap Alena lama. Iapun mulai menangis tersedu-sedu. Ia memegang dadanya dan memukul dengan tangannya. Alena langsung menghentikannya. "Kenapa?dada kamu kenapa?Apa yang sakit?" tanya Alena khawatir.
"Hati aku sakit kak.. Ini disini." ucapnya sambil memukul dadanya.
Alena menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Clara dan memegangnya erat. "Kenapa? Apa yang bikin hati kamu sakit?"
"Pernikahan Edward minggu depan. Aku gak sanggup melewati hari itu kak. Aku mau mati aja."
Alena memegang bahu Clara. "Kamu bisa membatalkan pernikahan itu. Kakak bantu kamu!"
Clara menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa. Undangan mereka udah tersebar. Kedua keluarga bakal malu kalo aku batalin pernikahan mereka. Aku kasian sama orangtua mereka."
"Tapi kamu gak kasian sama diri kamu sendiri. Sampai kapan kamu kayak gini?"
Clara menggelengkan kepalanya. Ia tetap menangis tersedu-sedu. Alena hanya diam dan memegang kedua tangan Clara hingga akhirnya tangisannya berhenti. Ia melepaskan pegangan tangan Alena.
"Kak, tinggalin aku sendiri. Aku mau sendirian." ucap Clara.
"Iya, kakak keluar. Kalo perlu apa-apa, kamu panggil kakak." ucap Alena sambil berjalan keluar.
Clara menatap nanar jendela kamarnya. Diluar terlihat bintang berkelip-kelip dengan indahnya. Ia sesekali meneteskan airmatanya. Bahkan bulan dan bintang pun terlihat menertawakan kesedihannya. Kenapa tidak saat itu ia membatalkan pernikahan Edward. Kenapa baru sekarang ketika jangka waktunya tinggal beberapa hari lagi?