
Edward menaiki taxi menuju Siam Paragon Mall Bangkok untuk bertemu salah satu kliennya. Disepanjang jalan ia dapat melihat warga lokal sedang melakukan aktivitasnya. Ia menatap jam tangannya. Pukul 10 pagi. Dan pukul 2 siang nanti ia langsung berangkat menuju Phuket. Tapi rasanya ia malas untuk berlibur. Sejak kemarin ia malas keluar kamar. Ia masih kecewa pada gadis yang ia temui di pesawat. Ia menyesal karena menyia-nyiakan waktu beberapa jam untuk mengabaikan gadis disampingnya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Gadis itu telah membuat jantungnya berdebar dengan kencang. Gadis itu pula yang membuatnya langsung menyerah dihari yang sama.
Taxi berhenti tepat didepan lobby mall. Edward turun dan berjalan menuju tempat yang telah dibicarakan sebelumnya. Proyek jangka panjang ini akan membuat perusahaannya semakin terkenal. Ia berjalan serius. Beberapa gadis cantik melewatinya. Mereka terlihat berbisik-bisik. Edward hanya melihat sekilas. Ia tetap melanjutkan langkahnya. Ketika sampai didepan restoran paling ekslusif di mall itu, ia mendapat sambutan dari beberapa pegawainya. Wajar saja, kliennya adalah salah satu pemilik mall terbesar di Bangkok itu.
Ia masuk keruangan itu dimana beberapa orang sudah menunggunya. Mereka berjabat tangan. Bukan pertama kali mereka bekerja sama. Sebelumnya pernah ada beberapa kerjasama antara mereka walau dalam skala kecil.
Dilain tempat.
Clara baru saja turun dari pesawat menuju village yang sudah ia sewa beberapa hari yang lalu. Ia menyewa untuk waktu yang iapun tidak tahu sampai kapan ia akan pulang. Satu koper besarnya didorong menuju pintu keluar bandara. Ia harus mencari seseorang yang menjemputnya. Kedua matanya ia arahkan ke seluruh tempat.
Terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ia harus mencari asal suara itu. Ia melihat seorang pria dengan usia kurang lebih 50 tahun sedang memegang papan nama bertuliskan "Miss Clara." Pria itu terlihat bersemangat. Wajahnya sedikit hitam dan badannya tidak terlalu tinggi. Dibandingkan dengannya, jauh lebih tinggi ia yang seorang wanita.
Clara mendekati pria itu.
"Stay Resort?"tanya Clara.
"Yes, Miss Clara?" tanya pria itu ramah.
"Ok, follow me. I'm your driver for today." ucapnya bersemangat. "Are you model?"tanya nya kemudian.
Clara menggelengkan kepalanya.
"You look like Thai Actress.. You're beautiful." ucapnya.
Clara hanya terdiam mendengar pria itu berbicara. Ia malas untuk berbasa basi. Ia hanya ingin segera sampai ke kamarnya. Beberapa kali ke Phuket tapi ia belum pernah tinggal di resort yang akan ia datangi.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Stay Resort. Ia sedikit terpana dengan keindahan tempat didepannya. Beberapa karyawan terlihat ramah. Kopernya dibawakan sendiri oleh pria yang mengantarnya tadi. Ia berada di resepsionist untuk mengurus check in hotel yang dimulai pada pukul 1 siang. Ia menatap jam tangannya. Sesuai aturan ia harus menunggu satu jam agar ia bisa masuk ke kamar. Tapi resepsionis itu berlaku baik padanya. Ia bisa masuk kekamar tanpa menunggu satu jam. Ketika ia melakukan pendaftaran, ia sempat melihat kebelakang. Lobi itu sangat luas. Terlihat beberapa orang tampak berbincang. Tidak salah ia menetap dihotel itu. Selain sedikit tenang, ia bisa menghirup udara pantai yang sejuk.
Clara mendapatkan kamar dengan nomor 2306. Ia berada dilantai dua resort itu. Tidak buruk untuk memulai. Ia masuk kekamar dan menemukan sebuah jendela super besar dengan berlukiskan pemandangan pantai yang sangat indah. Clara berjalan menuju jendela besar itu dan membukanya. Ternyata jendela itu sebuah pintu besar yang menghubungkannya ke beranda kamar. Ada sebuah sofa malas diberanda. Clara membiarkan pintu terbuka dengan lebar hingga angin masuk kedalam. Gorden yang terpasang di semua pintu dan jendela tersibak mengikuti arah angin. Ia berdiri didepan pembatas beranda.
Ia berfikir. Apakah dengan kepergiannya ke Phuket, ayahnya akan menemukannya dengan cepat?