
Ami duduk didepan laptopnya. Ia membuka situs yang tadi diucapkan gadis itu. Ia penasaran, betapa sombongnya gadis itu. Ia mencari situs itu namun tidak dapat menemukannya. Ia merasa frustasi ketika tidak menemukannya.
"Sasha!" panggil Ami.
Sasha berlari menghampiri Ami yang sedang duduk diruang keluarga. Ia berada di halaman belakang rumahnya sejak tadi untuk melihat peliharaan ikan-ikannya yang ia titipkan dirumah ini.
"Kenapa tante?" tanya Sasha.
Ami masih saja mengutik laptopnya. Ia terus menatap google pencarian. Ia bingung. "Sha, tolong kamu cariin situs forbes asia. Dari tadi tante cari gak nemu." ucapnya gemas.
Sasha duduk disampingnya. "Emang mau cari apa di majalah itu tante?" tanyanya bingung.
"Tante cuma nyari berita aja. Mumpung santai."jawab Ami berbohong.
"Agak susah ya tante. Nanti aku coba cari lagi." ucapnya.
Andi baru saja masuk setelah dari teras depan. "Kamu cari apa?"tanyanya pada Ami.
"Ini pah, situs majalah forbes asia. Aku penasaran sama ucapan gadis itu." jawab Ami kesal.
Andi melemparkan buku di pangkuan Ami. "Kamu baca sendiri. Jangan nyari lagi di sana." ucapnya sambil duduk di sebrang Ami.
Ami menatap suaminya. "Jadi bener ada?" tanyanya.
"Kamu liat sendiri." jawab suaminya.
Sasha yang sejak tadi diam disamping Ami ikut menyimak. Walaupun ia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi. Tapi ia sempat berfikir jika ini ada hubungannya dengan kekasih Edward.
Ami membuka majalah itu lembar demi lembar. Cerita bisnis yang di ceritakan di majalah itu sama sekali tidak membuatnya tertarik. Ia kembali membuka lembaran itu. Ketika ia sampai di halaman tengah, ia melihat wajah gadis tadi disana. Dengan balutan gaun mewah, gadis itu ditampilkan sebagai New Beginner of Asia. Ia sesekali menatap suaminya. Ia tidak mengerti maksudnya. Ia membaca pelan-pelan. Di majalah itu disebutkan jika Clara merupakan salah satu pewaris dari Aditya Group yang baru saja meninggal setahun yang lalu.
"Makanya jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang. Papa setuju ucapan Clara." jawab Andi tajam.
"Pah, aku tanya tentang Aditya. Papa kenal?" tanya Ami.
"Ya, papa pernah ketemu dia di Jepang. Mungkin 15 tahun yang lalu. Waktu itu lagi ada pameran Interior dunia. Dia datang cuma karena waktu itu dia sedang membuat hotel. Kekayaan dia banyak. Dan Aditya hanya mewariskannya pada 2 orang anaknya. Papa sempet baca juga hal yang viral itu. Di usia masih sangat muda, Clara harus mengurus beberapa perusahaan seorang diri. Salah satu saudaranya adalah seorang dokter. Itu tidak memungkinkan dia untuk terlibat langsung. Papa sempet gak yakin kalo gadis yang dibicarakan media itu adalah kekasih Edward. Tapi ternyata papa benar." jelas Andi.
Ami kembali melihat isi berita di media itu. Gadis itu bahkan dimuat dalam 2 halaman majalah Forbes. Ia melirik Sasha. "Kamu yakin ini orang yang sama?" tanya Ami.
Sasha mengangguk. "Aku yakin tante. Ini orang yang sama."
Ami terdiam. Ia terus membaca untuk melihat jika ia salah orang.
"Jangankan karena papa ajak mama buat pindah, jadi menyakiti hati orang seperti itu. Kasian kan Clara. Jauh-jauh datang ke sini cuma buat ketemu sama kita. Tapi mana malah mengungkit pendidikan. Gak etis." ucap Andi sambil berdiri. Iapun berjalan keluar. "Papa mau mancing." ucapnya.
Sasha menatap Ami. "Tante, mau pindah?" tanyanya cemas.
Ami mengangguk. "Ya, Om Andi mau mulai kembali perusahaannya yang sekarang lagi kacau gara-gara Edward. Sebenernya tante lebih nyaman ada disini."
"Kalo aku ikut sama tante boleh? Aku bosen tinggal disini. Siapa tau aku bisa jadi asisten Edy." ucap Sasha. Bukan itu sebenarnya alasan utama Sasha. Ia ingin dekat dengan kekasihnya yang seorang musisi.
"Pekerjaan kamu disini gimana? Kamu kan guru. Memang bisa dapat pengganti yang cepet?" tanya Ami.
"Tante kan tau kalo aku belum sempet kerja. Aku bisa kerja apapun." ucap Sasha.
"Oke. Ikut tante aja."ucapnya. Melihat Sasha, ia teringat ucapan Clara. Pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang. Sasha. Gadis disampingnya ini telah berhasil menyelesaikan S2 nya di Inggris. Tapi kemudian ia berfikir. Sasha belum bekerja hingga saat ini. Ucapan gadis itu ada benarnya. Sepertinya ia menyesal.