Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Forget



Pagi ini Edward datang ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia cukup serius hari ini. Beberapa karyawan yang menyapanya tidak ia hiraukan satu orangpun. Ketika keluar dari lift, Ia melihat Zahna sedang merapikan mejanya. Hanya ada beberapa karyawan yang datang. Mungkin karena masih pagi. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Sasha sedang duduk di kursinya. Ia melihatnya dan terkejut. Edward tetap berjalan menuju ruangannya.


Tak lama pintu diketuk. Sasha masuk sambil memegang sebuah kertas putih. Ia kembali melihat-lihat dokumennya. Ketika Sasha sudah mendekatinya, ia menyerahkan kertas itu padanya. Edward menatap sekilas kertas itu dan menatap Sasha tajam.


"Resign?" tanya Edward serius.


Sasha mengangguk. "Aku malu ketemu sama kamu dan orangtua kamu. Lebih baik aku mengundurkan diri."


"Untuk apa resign? Kerja kamu cukup bagus. Aku bisa pertahankan kamu disini. Asal kamu jangan bawa masalah pribadi ke kantor ini. Aku ini atasan kamu dan kamu bawahan aku. Hargai itu. That's it. Enough for me, Oke.." ucap Edward serius.


Sasha mengangguk dengan tangan bergetar. Ia mengambil kembali kertas yang dipegangnya dan berjalan keluar.


"Zahna!" panggil Edward.


Zahna berlari dengan cepat menuju ruangan Edward. Sudah lama ia tidak dipanggil dengan teriakannya seperti itu.


"Ya pa?"


"Bawa dokumen dari kantor Dave sekarang! 30 menit harus ada di meja saya!" ucapnya keras.


"Baik pa.."


Zahna keluar dari ruangan dengan wajah pucat nya. Sasha terkejut dengan perubahan Edward. Yang tadinya senang bercanda, sekarang bisa dikatakan seperti singa yang akan melahap korbannya. Ia sendiri ketakutan ketika tadi ia memberikan surat resign.


Edward menghubungi Calvin untuk menanyakan kelanjutan proyek yang mereka kerjakan terakhir. Selama ia tidak ada, Calvin dan Edward yang mengerjakannya. Tentu saja dengan campur tangan ayahnya. Ketika melihat ayahnya begitu kelelahan ketika pulang dari kantor, ia sadar jika ayahnya sudah berkorban untuknya begitu banyak. Pada akhirnya ia kembali ke kantor mulai hari ini.


"Halo.."


"Ed, jam 8 kita ada pertemuan dengan klien. Kamu coba telepon Dave buat nanya tempat. Hari ini aku gak ke kantor dulu." ucap Calvin yang langsung menutup teleponnya.


Dave melihat handphonenya. Ia menghubungi Alena karena hari ini ia ada jadwal kontrol di dokter.


"Halo.."


"Al, gimana kondisi kamu? apa kata dokter?" tanya Dave.


"Baik-baik aja. Baby terlalu antusias buat cepet lahir. Dia nendang terus selama aku periksa." jawab Alena senang.


Dave tersenyum. Ia bersyukur Alena dan bayinya baik-baik saja. Beberapa saat yang lalu ia terasa kontraksi palsu. Ia sempat khawatir. Tapi karena Alena seorang dokter, ia malah yang membuatnya merasa tenang. Selama Clara berada di sydney, Alena harus membantunya. Om Sakti pun sudah pergi untuk menemui keluarganya. Tidak ada pilihan lain.


Alena memegang perutnya yang sudah membesar. "Clara tadi telepon aku."


"Dia ngomong apa? Kapan pulang?" tanya Dave bersemangat.


"Yang penting dia pulang. Clara udah cukup belajar disana. Aku tau dia anak yang pintar dan cukup bertalenta. Sama kayak kamu. Pendidikan bukan masalah buat dia." jawab Dave.


"Edward hubungi kamu lagi?"


"Belum."


"Kalo gitu aku tutup teleponnya. Makan siang aku tunggu dirumah."


"Oke. Bye.." jawab Dave sambil menutup teleponnya. Baru saja ia menyimpan handphonenya, ada panggilan lagi. Kali ini dari Edward. Baru saja ia dibicarakan dengan istrinya.


"Halo.."


"Dave, ketemu klien nanti dimana?" tanya Edward.


"Restoran oriental. Mereka minta ketemu kita disana." jawab Dave.


"Oke.."


"Mulai kapan kamu kerja lagi?" tanya Dave.


"Mulai hari ini."


"Syukurlah. Menghindari pekerjaan bukan sifat kamu, Ed. Kamu berubah sejak kehilangan Clara." ucap Dave.


"Ya, aku harus bangkit setidaknya sampai dia pulang lagi kesini. Aku masih harus ketemu sama dia. Apapun alasannya. Walaupun dia gak mau ketemu aku, aku akan paksa dia buat ketemu sama aku. Aku gak bersalah." ucap Edward emosi.


"Ya, kita berharap yang terbaik untuk kalian." ucap Dave. Kali inipun ia tidak mau mengatakan keberadaan Clara.


 



 


Clara duduk seorang diri di restoran North Bondi Fish Sydney dimana ia bisa memanjakan matanya untuk melihat pantai indah disiang hari. Ia memesan makan siangnya. Hari ini dan beberapa hari ke depan ia sudah mendapatkan libur dari nenek Siska. Ia gunakan kebebasannya dengan berjalan-jalan di beberapa pantai Sydney. Nenek Siska tidak memaksanya untuk cepat pulang. Tidak seperti kakaknya yang terus memaksanya pulang. Padahal, pulang ke Indonesia adalah hal yang ingin ia hindari.


Ia sudah merenung untuk waktu yang lama. Ketika ia pergi ke Sydney untuk pertama kalinya, ia tidak pernah keluar dari dorm nya. Ia lebih senang menghabiskan waktunya hanya didalam kamarnya. Beberapa kali kakaknya mengatakan tentang Edward, ia selalu menolak untuk mendengarnya. Bukan tanpa alasan. Ia tidak mau sakit hatinya kembali. Sudah cukup ia merenungkan semuanya. Ia menyadari jika cinta mereka tidak bisa menyatukan mereka. Ada dinding yang sangat tinggi.


Seorang pelayan menghampirinya dan memberikan piring pesanannya. Ia menikmati tinggal di Sydney untuk beberapa waktu ini. Ia menikmati keindahan, makanan dan orang-orangnya. Ia menikmati semuanya. Tapi minggu depan ia akan kembali. Apa yang akan terjadi disana nanti, ia sendiri tidak pernah tahu. Ia tidak mau memikirkannya. Iapun mulai makan dan mendengarkan lagu untuk waktu yang bersamaan. Ia ingin menikmati hidup kali ini dibandingkan memikirkan semua kejadian yang telah lalu.