Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Mesra di kantor



Edward menunggu di seberang jalan rumah nenek Siska untuk menunggu Clara keluar dari dalam mobilnya. Ia tidak mau masuk kedalam untuk menghindari pertanyaan dari Alena dan suaminya. Ia tahu jika Clara belum menceritakan tentang ibunya kepada mereka berdua. Tapi lebih baik ia tidak turun dulu. Ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Clara untuk segera keluar. Ia harus meeting satu jam lagi. Iapun melihat gerbang rumah itu dan menghentikan panggilannya ketika ia melihat Clara keluar sambil membuka pintu gerbang.


Clara memakai pakaian mencolok pagi ini yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah. Rambutnya terurai panjang dengan warna coklatnya. Dari kejauhan saja, Edward bisa melihat bibir Clara berwarna merah terang. Ia menggelengkan kepalanya. Clara bisa menjadi pusat perhatian hari ini. Ia tidak boleh membiarkannya lolos dari pengawasannya. Clara menyebrang dan melihatnya membuka jendela. Ia tersenyum sangat manis. Ia senang melihat wajahnya yang ceria seperti itu. Clara melambaikan tangan padanya. Dibalas oleh lambaian tangan Edward.


Clara membuka pintu dan duduk disamping Edward. Edward tersenyum dan membuka seatbelt nya sejenak.


"Biar aku peluk kamu dulu pagi ini." ucapnya sambil memeluk Clara dengan erat.


Clara tersenyum dan membalas pelukan Edward.


"Pagi ini kamu bener-bener wangi. " ucap Edward sambil melepaskan pelukannya. Ia mengecup ringan pipi Clara dan menarik seatbelt miliknya. Ia memasangkannya dengan cepat. Clara tersenyum sambil memegang seatbelt yang tadi dipasangkan Edward.


"Aku bisa sendiri." ucap Clara malu.


Edward mencubit pipi Clara. "Gak usah malu. Kita udah bukan pasangan baru. Kita udah tau semuanya masing-masing." goda Edward.


Clara terkekeh sambil memukul pelan tangan Edward. "Cepet jalan. Katanya mau meeting sejam lagi." ucap Clara.


"Siap, putri." jawab Edward senang. Iapun mulai menjalankan mobilnya. Ia mengendarai mobilnya dengan satu tangannya. Sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menggenggam tangan Clara.


Sasha berjalan cepat menuju kantornya. Ketika sarapan tadi ia tidak terfikir jika ditinggalkan oleh Edward. Padahal setiap hari Tante Ami selalu menyuruh mereka pergi bersama. Kali ini ia harus menggunakan taxi dengan ongkos yang sangat mahal. Ia telah sampai didepan lobi. Terdengar desas-desus karyawan lainnya. Mereka menyoroti ke sebuah titik. Sasha berbalik dan terkejut melihat Edward keluar ditemani oleh Clara. Sasha melirik ke beberapa karyawan yang kini sedang membicarakan pakaian yang sedang digunakan wanita itu.


Iapun sempat tertegun dengan indahnya dress itu. Ia terlihat menggoda dengan pakaian dan dandanannya. Ia melihat dirinya didepan cermin yang biasa ia bawa. Mereka berbeda. Clara memiliki aura yang tidak dimilikinya. Iapun sangat cantik. Ketika membayangkan itu, teleponnya berbunyi. Ia melihat kekasihnya yang seorang musisi menghubunginya. Ia malas.


"Halo.." jawab Sasha.


"Hari ini aku pergi ke luar kota. Kamu bisa pergi sendiri?" tanya pria itu.


"Tentu aja aku bisa pergi sendiri. Kamu emang gak bisa bikin aku bahagia. Aku udah pindah kesini tapi kamu malah gak sempet ketemu aku." protes Sasha.


"Aku lagi banyak event, Sha. Nanti kalo udah beres, kita juga pasti banyak waktu kok." ucap pria itu.


"Terserah. Aku cape sama kamu." jawab Sasha sambil menutup teleponnya. Iapun kembali melihat pasangan itu. Hatinya bertanya-tanya penuh penasaran. Untuk apa Clara datang ke kantor dengan Edward?


"Sayang, kamu tunggu aku di sini selama aku meeting. Gak akan lama kok. Kamu bisa ngobrol-ngobrol sama orang-orang yang ada disini. Kamu kenal juga kan sama Zahna?" tanya Edward ketika mereka berada di ruangan. Terdengar suara pintu diketuk. Sasha masuk dengan membawa beberapa dokumen. Ia sedikit kaku ketika melihat mereka berdua didalam.


Clara berdiri dan duduk di kursi milik Edward. Ia hanya ingin membuktikan jika Edward adalah miliknya.


"Ruang meeting udah siap, Ed. Kita langsung kesana." ucap Sasha sambil tersenyum.


Edward menghampiri Clara dan memegang tangannya. Ia mengecupnya ringan. "Tunggu aku, mudah-mudahan gak lama."


Clara mengangguk sambil melirik sikap Sasha. Ia pasti terkejut melihat kemesraan mereka. Ketika mengingat pertemuan mereka untuk pertama kali di Singapura, jauh berbeda. Ia tidak terlihat seperti rubah betina. Ia pikir Sasha gadis baik. Tapi nyatanya? Clara menggelengkan kepalanya. Iapun hanya bisa melihat Edward dan Sasha keluar dari ruangannya bersama.


Ia kini sendiri didalam ruangan. Tidak ada yang menemaninya. Ia melihat Zahna yang sepertinya sedang sibuk bekerja. Ia tidak berani mengganggu. Iapun keluar untuk mencari kopi. Walaupun sebenarnya lambungnya tidak akan kuat meminum kopi, tapi ia terpaksa. Semalam mereka baru pulang tengah malam, ia merasa masih mengantuk.


Clara berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata ayahnya Edward datang kembali ke kantor. Ia menghampirinya.


"Halo om." ucap Clara


"Kemarin disayangkan sekali kamu gak ikut makan malam. Padahal masakan Tante itu enak. Tapi katanya kamu enggak enak badan ya?"ucapnya.


"Iya om. Maafin Clara. Semalam tiba-tiba Clara enggak enak badan. Clara harus pulang dan istirahat." jawab Clara berbohong.


"Padahal kamu istirahat di kamar Edward. Kalian kan mau menikah." ucap Andi membuat Clara terkejut. Ia tidak menyangka ucapan menikah akan keluar dari mulut ayahnya Edward. Ia terharu. Ayahnya Edward sangat berbeda dengan ibunya.


"Kita ngobrol dulu. Om mau ngobrol sama kamu banyak masalah pekerjaan." ucap Andi sambil berjalan memasuki cafe perusahaan. Clara mengikutinya dari belakang. Ia senang sekali hari ini.


***************************************************


Edward menutup laptopnya dengan cepat. Ia melihat jam tangannya. Meeting kali ini sedikit lama. Ia kasihan pada Clara yang menunggunya di ruangan. Ia pasti lapar.


"Ed, kita makan siang dimana?" tanya Sasha ketika ia berdiri.


"Aku gak bisa makan siang sama kamu." jawab Edward cepat.


Sasha mengerutkan keningnya. Selama ia bekerja,, mereka selalu makan siang bersama. "Kenapa?" tanya Sasha dengan nada panik.


"Kamu kan tau kalo Clara lagi nunggu aku di ruangan. Pokoknya hari ini aku cuma milik Clara. Aku gak bisa diganggu sama siapapun. Jadwal hari ini kamu pending." jawab Edward cepat. Ia meninggalkan Sasha yang masih bingung. Ia tidak pernah membatalkan sebuah acara milik Edward. Ia akan melapor pada ayahnya Edward. Clara bukan wanita baik-baik. Ia bahkan tidak mendukung pekerjaan Edward dengan baik.


Ketika Edward masuk ke ruangannya, ia tidak menemukan Clara disana. Ia hanya melihat tas dan handphonenya disana. Ia mengambil tas Clara dan memasukkan handphonenya. Sebelumnya ia menghubungi front office untuk menanyakan dimana ia bisa menemukan Clara.


Tidak lama untuknya dapat menemukan Clara dimana. Ia kini sedang berbincang dengan seseorang. Dan sepertinya mengasikkan. Clara bahkan bisa tertawa seperti itu. Iapun berlari menghampiri Clara dan memanggilnya.


"Clara!"


Clara melihat asal suara dan melambaikan tangannya. Ayahnya yang berada disampingnya ikut melambaikan tangannya.


"Kalian ngobrol apa?" tanya Edward yang sudah ada disamping mereka.


"Kita ngobrol asik ya om. Makasih udah sharing sama Clara." ucap Clara sambil tersenyum.


"Ya udah kalo gitu, om pergi dulu. Edward udah dateng jadi kamu gak perlu sendiri. Om masih banyak kerjaan." ucap Andi sambil berdiri. Ia menepuk bahu Edward dan berjalan meninggalkan mereka berdua.


Clara tersenyum dan memegang lengan Edward dengan erat. "Ayo kita pergi. Mau makan dimana siang ini?" tanya Clara.


"Kemanapun." jawab Edward sambil tersenyum


Merekapun berjalan keluar dari cafe dan menuju mobil. Tanpa terlihat oleh mereka, seorang perempuan terlihat kesal melihat kemesraan mereka. Baru saja ia akan melapor pada Andi, ia malah melihat Clara bersama dengannya. Ia mengepalkan tangannya dan berjalan kembali ke kantornya.