
"Lapor ibu, tiga hari yang lalu kami sudah melaksanakan tugas. Dokter itu sudah ditabrak oleh salah satu anak buah kita. Kondisinya sedikit mengkhawatirkan. " ucap pria itu dibalik telepon.
Desy tersenyum puas di teleponnya. "Matikah?"
"Salah satunya mati."
Desy mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
"Dokter yang kita tabrak sedang mengandung. Dan bayinya tidak bisa diselamatkan." jelas pria itu.
"Oke, baru permulaan. Saya minta yang lebih sadis. Kali ini adiknya harus mati. Jangan harap kalian akan saya kasih uang lebih kalau gagal." ancam Desy.
"Baik Bu"
Desy berjalan ke rumahnya setelah mendapat telepon tadi ketika berada di mobil. Sebelumnya ia mendapat rentetan pertanyaan membosankan di kantor. Meeting tadi siang ia yakin penggagasnya adalah Sakti. Ia yakin pria itu ada dibalik semuanya. Baginya, siapapun tidak akan mendapatkan warisan suaminya. Jika ia tidak bisa, jangan harap kedua anak itupun bisa.
"Ma, aku gak bisa telepon Edward." seru Adriana ketika ia menyadari ibunya baru saja masuk ke dalam rumah.
Desy berbalik untuk melihat Adriana yang sudah berada di belakangnya. Ia berfikir sesuatu. Edward sepertinya menjauh dari mereka. Pria itu juga telah memutuskan pekerjaan sepihak dengan ganti rugi dibayar penuh olehnya. Ia yakin Edward sudah tahu apa yang terjadi. Ia tidak menyangka Edward berada satu kelompok dengan kedua anak itu.
"Foto yang mama kasih ke kamu ada tiga. Kamu pilih yang lain. Kita jangan berurusan dengan orang-orang yang ada di sekeliling anak-anak itu. Cukup sudah."
Adriana menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa tinggalin Edward, ma."
"Kenapa?"
"Aku udah bilang kalo aku suka sama Edward."
Desy tertawa. "Jangan mimpi kamu Adri, pria itu cuma pancingan. Mama gak akan biarin kamu jatuh cinta." Ucap Desy tajam
Airmata mulai membasahi mata Adriana. "Aku udah ikutin semua ucapan mama. Aku tinggalin Kevin demi mama, sekarang aku harus tinggalin Edward demi mama. Mama egois. Mama gak pernah mikir perasaan aku." serunya sambil menangis. Adriana langsung berlari ke kamarnya.
"Adri, kamu berani membantah mama? Ini semua demi kamu!" seru Desy marah.
Clara berada di perjalanan menuju rumah sakit. Hari ini kakaknya akan pulang. Ia sengaja datang untuk menjemputnya setelah meminta ijin Siska. Kali ini ia pergi sendiri. Hanya supir yang menemaninya. Sebelum pergi, ia sempat menemani Siska hanya untuk minum teh. Semenjak tinggal dengan Siska, ia terbiasa mendapatkan perhatian lebih yang tidak pernah ia dapatkan dari sebelumnya.
Mereka berbincang banyak hal. Salah satunya tentang cerita kakaknya yang saat itu menyelamatkan wanita tua didepannya dan banyak hal lagi. Alena adalah wanita baik. Ia merasa bangga dengan apa yang telah dilakukan Alena untuk orang-orang. Tapi iapun beruntung. Jika bukan karena kejadian kemarin, ia tidak yakin masih ada kesempatan untuk mengetahui betapa baik kakaknya.
Melihat itu, tekadnya sudah bulat. Ia akan bertemu Om Sakti dengan pergi ke kantornya. Ia yakin sahabat papanya itu akan siap membantunya. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Ia sudaj siap. Apapun yang terjadi, ia akan pergi.
Tiba-tiba mobilnya berhenti didepan rumah sakit. Clara turun sambil memakai topinya. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Masih aman. Iapun berjalan cepat dan masuk kedalam dengan aman. Ia menaiki eskalator tanpa melihat ke sekitar. Ia hanya fokus mencari ruangan yang kakaknya tempati.
Ketika ia masuk ke ruangan kakaknya, ia menemukannya seorang diri. Ia sedang membereskan pakaiannya ke dalam tas. Untuk seorang wanita yang baru saja kehilangan anaknya, ia terlihat tegar. Padahal baru beberapa hari yang lalu ia mendapatkan operasi, tapi ia tidak terlihat seperti sudah melakukannya. Ia cukup lama menatap Alena sebelum akhirnya Alena menoleh.
"Kapan nyampe? Aman diluar?" tanya Alena sambil tersenyum.
Clara tersenyum. "Aman kak. Kak Dave mana?" tanyanya.
"Lagi di kasir buat bayar perawatan." ucapnya. Ketika ia melihat tasnya, Dave lupa membawa kertas pengantar. "Aduh, Dave lupa bawa ini.."
"Mana? Aku yang anterin." ucap Clara.
"Gak apa-apa?"
"Aku tau kok kak. Kasir nya ada di gedung samping." jawab Clara.
Clara berjalan menuju kasir yang berada di gedung samping. Ia harus keluar dari gedung perawatan. Ia terkejut ketika melihat sebuah mobil hitam berhenti didepannya. Beberapa orang pria berpakaian hitam-hitam keluar dari mobil. salah satu diantaranya memegang Clara. Dan satu lagi menutup hidungnya dengan saputangan yang diberi bius. Clara langsung tidak sadarkan diri.
Dave berlari dari gedung pembayaran ketika melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. Ia berlari dengan cepat dan menarik salah satu jaket pria itu sehingga terjungkal. Beberapa orang satpam tiba dan langsung menahan kedua orang yang masuk kedalam mobil. Mereka bisa dilumpuhkan dengan gerak cepat Dave.
Ia langsung menghampiri Clara.
"Clara.. bangun Clara.." ucap Dave sambil memukul-mukul pipi Clara.
Tidak ada jawaban. Clara tidak sadarkan diri. Pengaruh obat bius itu begitu kuat. Merekapun langsung membawa Clara ke dalam menggunakan kursi roda. Ia langsung diberikan perawatan tanggap cepat oleh perawat dan dokter. Dave dapat bernafas lega. Baru kemarin ia memberikan pukulan nya pada dua orang yang telah menabrak istrinya. Kali ini ketiga orang itu harus mendapatkan balasan. Tapi kali ini ketiga orang itu bukan mainannya. Ia akan membiarkan orang lain yang melakukannya. Edward. Siapa lagi jika bukan Edward. Hanya pria itu yang bisa melakukannya.