Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Rencana



Clara duduk di taman yang ada dihalaman villa nya seorang diri. Pagi ini cuaca sedikit sejuk. Ia masih memakai piyama tidurnya. Ia bisa melihat pemandangan hanya dari halaman villa nya. Dan tentu saja, ia bisa melihat rumahnya dari jauh walaupun terlihat sangat kecil. Rumahnya terlihat megah sama seperti biasanya. Ia merindukan rumahnya saat ini. Ia merindukan ayahnya.


Terdengar langkah kaki dibelakangnya. Ia melihat Bi Rumi membawakannya minuman hangat untuknya. Itulah yang biasa Bi Rumi lakukan saat ia sedang seorang diri. Bi Rumi tahu semua tentangnya. Menurut cerita ayahnya, Bu Rumi telah menjaganya sejak usianya masih sangat kecil. Tanpa kehadiran sosok ibu, ia menjadi dekat dengannya.


"Minum dulu, minuman seperti biasa." ucapnya sambil tersenyum.


Clara tersenyum. Ia mengambil gelas yang diberikan wanita itu. "Bi, duduk dulu disini."


Bi Rumi duduk disampingnya. "Kenapa?"


"Bi, aku mau tanya, waktu papa sakit, Desy ngasih obat apa?"


Bi Rumi berfikir. Sulit untuk mengingatnya karena usianya sudah tidak lagi muda."Lupa non."


"Bi, bisa cari tahu obat apa yang papa minum?" tanya Clara.


"Sebentar. Biasanya bibi suka nyimpen obat-obat bapak. Tapi gak tau masih ada apa enggak." ucapnya.


"Bi, kasih tau aku kalo udah ada kabar."


"Iya." jawab Bu Rumi sambil berjalan ke dalam.


Jika ada obatnya, ia bisa memberikannya pada kakaknya untuk dites. Ia yakin tidak butuh waktu lama.


Ia teringat, sejak pindah kesini beberapa hari yang lalu, ia belum pernah menghubungi kakaknya. Kakakny pasti sangat khawatir. Ia benar-benar tidak ingat. Iapun mencoba menghubungi kakaknya untuk menanyakan kabar terbaru.


"Clara?" tanya Alena ketika ia menerima telepon. Padahal ia meneleponnya dengan nomor baru.


"Iya kak. Maaf aku baru ngirim kabar hari ini." jawab Clara.


"Kenapa baru kasih kabar hari ini? Kakak cemas." ujar Alena terdengar kesal.


"Maafin aku kak. Tapi aku baik-baik aja disini." "Kalo kamu disana baik-baik aja, kakak tenang." ucap Alena.


"Apa ada ancaman lagi?" tanya Clara.


"Saat ini gak ada. Tapi kakak masih waspada. Kakak belum ke rumah sakit lagi."


"Apa aku pantas minta maaf lagi ?" tanya Clara sedih.


"Jangan ngomong gitu. Kakak udah ikhlas kehilangan bayi kakak. Oh ya, Edward marah besar saat denger kamu gak ada disini." ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Marah?Kenapa mesti marah?" tanya Clara bingung.


"Sampe sekarang dia masih marah sama Dave gara-gara kamu pergj." ucap Alena.


"Gak apa-apa kak. Cuma sementara. Lama-lama Edward pasti bisa lupain aku." jawab Clara.


"Aku gak yakin." ucap Alena.


Ketika telepon baru saja ditutup, Bi Rumi kembali dengan tergopoh-gopoh. Clara mengangkat tangannya.


"Tenang..tenang.."


"Non.. obatnya masih ada. Kita bisa ambil nanti malam. Soalnya dirumah lagi rame."ucap Bi Rumi.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia bisa tahu jika keramaian itu diakibatkan oleh pesta.


"Nanti malem aku gerak." ucap Clara cepat.


"Dimana Clara?" tanya nya pada Dega.


Dega bingung. Ia menatap wajah Edward yang telah menyimpan kemarahan yang besar.


"Apa?"


"Dimana Clara?"


"Mana aku tau." jawab Dega cuek.


Dengan marah, Edward mengambil berkas-berkas yang ada dimeja Dega dan ia tahu jika berkas yang ada dimeja merupakan berkas pentinng.


"Mau kemana kamu Ed?" tanya Dega panik.


Edward tidak melihat wajah panik kakaknya. Ia terus berjalan menuju ruangan arsip. Ia mulai menyalakan mesin pemotong kertas.


"Ed!!"panggil Dega yang berlari dari ruangannya.


"Kalo kamu gak ngomong dimana Clara sekarang dimana, aku gak segan buat hancurin berkas penting kamu, ga!" ucap Edward marah.


"Oke, aku kasih tau sekarang. Kamu simpen dulu berkasnya di meja, Okey." ucap Dega menyerah.


"Tulis di kertas." ketus Edward.


Dega menulis di kertas sambil melihat handphonenya. Sebenarnya ia tidak tahu dimana Clara berada. Menurut pengacara ayahnya tadi pagi, Clara sedang berada di villa miliknya. Mudah-mudahan ia tidak salah memberikan alamat.


Edward memiliki sifat keras sejak kecil. Jika ia menyukai satu barang, ia akan mempertahankannya. Begitu pula dengan wanita. Sebagai kakak, ia memang keras pada Edward. Tapi jika Edward marah, ia menyerah. Edward menakutkan jika marah. Perlahan ia memberikan alamat itu pada Edward. "Thank you." ucapnya senang sambil melemparkan berkas-berkas itu di lantai. Ia berlari keluar.


"Edward!!!!!!!!" teriak Dega marah.


Adriana duduk di sudut ruangan. Ia melihat orang-orang yang sudah tiba. Mereka adalah teman-temannya yang biasa datang ketika ia mengadakan pesta. Hari ini pesta ulangtahunnya. Ibunya sengaja membuatkan pesta dirumahnya. Entah kenapa ia merasa tidak senang dengan pesta itu. Apa yang dilakukan ibunya terlalu berlebihan. Ia tidak mau pindah dari tempat duduknya. Beberapa hari ini ia selalu merasa ketakutan tanpa alasan. Jika ia tidak menyayangi ibunya, ia pasti sudah meninggalkan rumah ini. Ia bisa berfikir bagaimana menarik Edward kembali ke pelukannya.


"Adri, jangan lupa bentar lagi tiup lilin." ujar Desy bersemangat. Semua orang sudah ikut bernyanyi. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang melihatnya dari kejauhan. Ia mengendap-endap berjalan keluar dari rumah itu.


Pintu kaca mobil ia ketuk dengan pelan. Seorang wanita dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitamnya membuka kaca mobil dan menatapnya.


"Non Clara." ucapnya sedih.


Wanita yang seumuran dengan Clara itu hanya bisa tersenyum sedih ketika melihat wanita yang sudah ia anggap temannya sendiri. Ketika Clara sedih, ia menemaninya. Karena Clara tidak memiliki teman sejak kecil.


"Kenapa?Seneng kan aku pulang?" tanya Clara sambil tertawa.


"Seneng karena kamu selamat. Bi Rumi gak ada. Banyak pembantu baru didalam non."


"Tunggu aku pulang. Mana obat papa?"


Wanita itu memberikan satu keresek obat milik ayahnya.


"Cepet kedalem. Nanti kamu ketauan." ujar Clara cepat-cepat.


"Iya non. Hati-hati di jalan."


"Tunggu aku pulang." ucap Clara sambil membawa mobilnya menjauhi rumahnya dalam kegelapan.


Malam larut dan kedua wanita itu masih mengadakan pesta. Ia tersenyum. Tidak akan lama lagi mereka berdua masuk penjara. Selain kasus penggelapan uang perusahaan, ibu tiri dan anaknya itu bisa dituntut karena bisa saja jika perkiraannya benar, mereka merencanakan membunuh ayahnya perlahan. Setahunya, jika tuntutan pembunuhan akan memperberat hukuman pada mereka berdua. Ia sudah tidak sabar menantikannya.


Mobilnya memasuki halaman villa. Tidak terlihat ada kehidupan. Bi Rumi biasanya jika malam begini ia masih terlihat dari kaca rumah. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang. Ia terkejut. Jangan-jangan orang suruhan Desy?pikirnya. Namun ketika ia didorong ke dinding dan ia terkurung oleh kedua tangan diantara kepalanya, ia langsung menyadari siapa yang ada didepannya. Harumnya masih tetap sama seperti terakhir kali pria itu mengantarnya pulang ke rumah nenek Siska.