Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Ijin Alena



Clara berlari menuju mobilnya diikuti oleh kedua bodyguardnya. Ia harus mendatangi perusahaannya karena ada pertemuan dengan beberapa kilen. Ini adalah pekerjaan pertamanya. Kemarin Om Sakti menghubunginya jika tidak ada yang bertanggungjawab di perusahaannya. Desy berhasil kabur dan belum ditemukan sampai saat ini. Terpaksa ialah yang memipin rapat hari ini walaupun pengetahuannya terbatas. Semalaman ia sudah belajar bagaimana mengendalikan rasa gugupnya nanti ketika diruang meeting. Tommy sudah memberinya bahan untuk presentasi pagi ini. Ia harap semuanya akan lancar.


Lalu bagaimana kabar kekasihnya pagi ini? Ia belum menghubunginya hingga saat ini. Ia hanya menghubunginya ketika ia berkata akan pulang ke tanah air setelah pulang dari bangkok. Namun sudah beberapa hari ini ia sulit dihubungi. Hanya dua buah pesan yang ia terima setiap hari. Ia berkata jika ia sedang sibuk karena pekerjaannya. Awalnya ia tidak percaya. Tapi Dave mengatakan jika Edward memang sedang mengurus pekerjaannya yang sangat serius. Ia merasa sedih tidak bisa mendengar suaranya. Sebelumnya, ketika ia baru pulang dari Singapura, setiap saat ia menghubunginya. Terakhir adalah ia berkata jika kedua orangtua Edward ingin menemuinya. Edward benar-benar serius terhadapnya. Ini seperti mimpi. Terkadang ia merasa semuanya terlalu cepat. Apakah Edward memang sedang mempersiapkan sesuatu?


Mobil berjalan dengan cepat karena jalanan sedikit kosong pagi ini. Salah satu bodyguardnya membawa mobil dan keduanya duduk didepan. Sedangkan ia sendiri duduk di belakang. Ia menatap kedua bodyguardnya sambil tersenyum. Ia mengeluarkan beberapa kue yang ada ditasnya. Ia menyerahkan kue itu kesalah satu bodyguard. "Jangan terlalu serius, bro.." goda Clara. Ia menatap keduanya yang masih terdiam.


Tidak ada jawaban. Saking gugupnya Clara, ia mencoba untuk bercanda dengan keduanya. "Jangan serius! Aku lagi gugup. Bisa gak sih kalian jangan terlalu serius."protesnya.


"Kami hanya menjalankan tugas non. Tolong kooperatif." jawab salah satunya.


"Oke." jawab Clara pendek. Ia malas jika ada yang menolak perintahnya. Iapun menghubungi seseorang. Sudah beberapa hari ia tidak menghubungi kakaknya. Ia merindukannya.


"Halo." jawab Alena.


"Kak.. pagi ini aku ada meeting. Ini pertama kalinya aku dateng ke kantor untuk kerja." curhat Clara. Nadanya terdengar sedih.


"Semangat ya sayang." ucap Alena.


"Gak ada. Emang ada apa?"tanya Alena sambil menatap kedepan.


"Gak ada apa - apa kak, aku cuma nanya aja." jawab Clara malu. "Oh ya kak, udah dulu ya. Aku udah sampai ke kantor."


"Oke, jaga diri baik-baik. Jangan sampai telat makan." seru Alena. Ketika telepon ditutup, ia menatap pria yang ada didepannya dengan tajam. Ketika Dave baru pergi, ia mendapatkan tamu yang tidak pernah ia sangka. Edward mendatangi rumah nenek Siska seorang diri. Kini ia sedang duduk didepannya sambil menunduk. Ketika pertama kali datang tadi, ia meminta untuk dapat menikahi Clara.


Alena belum menjawab permintaan Edward. Ia belum cukup percaya pada pria didepannya. Edward tidak pernah hidup dengan satu wanita. Itu yang ia tahu selama kenal dengannya. "Gimana aku bisa percaya sama kamu kalo kamu mau serius sama Clara?" tanya Alena tajam.


Edward menengadahkan kepalanya. "Aku serius Al. Aku udah bilang sama kedua orangtua aku. Mereka mau mengenal Clara lebih jauh. Kalau semuanya memungkinkan, aku mau bawa Clara ke Singapura buat berlibur. Sekalian ketemu orangtua aku."


"Percaya sama Edward, Al." ucap Siska yang kini berada di belakangnya. Edward dan Alena menoleh ke belakang. Ia kemudian duduk didepan mereka. "Nenek lihat, tatapan Edward berbeda pada Clara. Kamu inget? Waktu Clara dibius. Dia setia menunggu Clara. Nenek memang gak liat. Tapi banyak yang memberitahu nenek. Jadi Al, kasih Edward kesempatan. Biarkan dia bawa Clara pergi menemui orangtuanya."


Alena menatap Edward. Jika bukan karena nenek Siska, ia pasti masih mengulur waktu agar Edward tidak segera membawanya ke Singapura untuk menemui kedua orangtuanya.