Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Pertemuan



Edward masuk ke dalam kantor Dave dengan tiba-tiba. Ia datang seorang diri.


"Siapa nih yang dateng." ucap Dave ketika ia melihat seseorang membuka pintu ruangannya. Ia terkejut melihat Edward ada disana. Setelah ia keluar dari proyek bersama mereka, ia sudah hampir tidak pernah bertemu dengan keduanya. Edward duduk dikursi yang ada didepan meja Dave.


"Sorry, Dave.. Aku kekanak-kanakan." ucap Edward tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Dave. Ia bingung melihat sikap Edward yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Aku mengecewakan kalian. Aku salah. Maafin aku." ucapnya tulus. "Aku sadar pertemanan kita gak bisa diputus oleh apapun."


Dave menyandar di kursinya. "Jadi karena perempuan itu?" tanyanya penasaran.


"Adriana? Bukan sama sekali. Dia gak salah. Aku yang salah."


Dave mengerutkan keningnya. "Tapi kalian berhubungan kan?"


"Ya, karena aku lagi ngerjain proyek punya mamanya, aku berhubungan sama dia."


"Kalian pacaran atau tunangan?" tanya Dave


"Kita pacaran dan mungkin setelah kamu menikah, kita bakal tunangan." jawab Edward.


"Kamu cinta sama dia?" tanya Dave serius.


"Dia yang selama ini ngisi kekosongan, Dave. Dia yang bisa bikin aku ngelupain wanita itu." jawab Edward berapi-api.


"Wanita itu? Siapa?" tanya Dave. Inilah saat yang ia tunggu. Sejak Edward pulang dari Phuket, ia aneh. Calvin dan dirinya sudah bisa menduga jika Edward sedang patah hati pada seorang wanita.


"Aku ketemu dia waktu di Phuket dulu. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya sama wanita itu. Percaya atau enggak, aku gak pernah ngerasain jatuh cinta sebelumnya. Aku gak tau gimana rasanya." jelas Edward.


"Ya, aku tau. Kamu gak akan ngelakuin hal konyol kayak waktu itu. Aku tau kamu lagi patah hati. Kamu gak pernah kayak gitu sebelumnya." ucap Calvin yang tiba-tiba masuk.


Dave tersenyum melihat Calvin masuk.


"Aku sempet nyari dia pake detektif, tapi hasilnya nihil. Aku udah bayar mahal dan hasilnya tetep gak ada. Wanita itu hilang. Tapi aku yakin dia masih di Phuket, mungkin sedang melancarkan aksinya menggoda laki-laki lain." ucap Edward kesal.


Calvin duduk disampingnya. "Kamu dirugikan apa?"


"Kita udah tidur bareng. Aku cinta sama dia. Dia ninggalin aku aja udah merugikan."


Dave berdiri. "Bentar, kalian udah tidur bareng? Bukannya dia yang udah dirugikan?Apa wanita itu minta uang dari kamu?"


Edward menggeleng.


"Trus apa yang dirugikan? Kamu salah Ed." ucap Calvin bingung.


"Hati aku. Aku udah dirugikan. Aku gak pernah sakit hati sebelumnya." ucap Edward emosi.


Dave menggaruk dahinya yang tidak gatal. "Kamu terlalu cinta sama dia, Ed. Kamu gak terima dia pergi begitu aja. Sampai sekarangpun kamu masih cinta sama dia. Kalian harus ketemu dan menyelesaikan semuanya." ucap Dave.


Calvin tertawa. "Konyol, aku gak ngerti sama pikiran Edward."


"Dia yang tinggalin aku. Aku gak terima." protes Edward.


Calvin memeluk bahu sahabatnya. Ia menggeleng sambil tertawa. Walaupun Edward sahabatnya, usia nya lebih muda dari mereka berdua. Ia menganggap Edward sebagai adiknya. Tapi apa yang ia pikirkan adalah salah. Ia terlalu mengikuti emosinya. Padahal alasan wanita itu pergipun, Edward tidak tahu.


"Halo.."


"Dave, perempuan yang kemarin udah sadar." ucap Alena senang.


"Oke, aku kesana sekarang." jawab Dave. Ia mengambil dompet dan kunci mobilnya. "Aku pergi dulu."


"Oke." jawab Calvin.


Clara mengerang kesakitan. Ia tidak percaya ketika bangun ditempat yang ia tidak tahu dimanakah ia berada. Ia melihat tangannya. Sebuah selang infus terpasang di tangannya. Ia mendengar langkah kaki berjalan ke tempat tidurnya. Ia melihat seorang wanita cantik sekali. Ia terlihat anggun dibalik jubah dokternya yang putih. Ia memakai kacamata namun kecantikannya tetap terlihat. Ia sedang tersenyum padanya.


"Kamu udah bangun?" tanya Alena. Ia melihat gadis didepannya kebingungan. "Apa kamu inget sesuatu?"


"Dokter yang selamatkan saya?" tanya Clara pelan.


"Iya, saya yang selamatkan kamu. Kemarin kamu babak belur. Wajah kamu biru-biru kemarin, tapi hari ini sudah hilang.


"Terimakasih dokter. Saya gak tau harus bayar pake apa kebaikan dokter." ucap Clara pelan.


"Gak apa-apa. Waktu itu saya nemuin kamu dipinggir jalan. sebenernya ada apa?" tanya Alena


"Saya mau dijual ke orang lain." jawab Clara sedih.


Alena terkejut. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Sekarang gimana? Kamu mau pulang kemana setelah dari sini?" tanya Alena.


Clara menggeleng. "Aku dibuang sama ibu tiri, papa sudah meninggal dan aku udah gak punya tempat tinggal."


"Dibuang?" tanya Alena terkejut.


"Dokter tau Hotel Aquino. Atau Aquino Group?" jawab Clara.


Alena berdiri. "Aquino?", tentu saja ia tahu. Aquino adalah perusahaan milik ayahnya. Ia menatap wajah gadis didepannya dengan mata nanar. Ia tidak mengharapkan akan bertemu adiknya di peristiwa seperti ini. Ia yakin gadis didepannya adalah adiknya. Orang yang paling dicarinya sampai sekarang.


"Kenapa dok? Kenapa dokter mau nangis?" tanya Clara bingung.


"Clara?" tanya Alena sambil berjalan menghampirinya.


"Dokter tau saya?" tanya Clara bingung.


"Clara, ini kakak kamu. Alena." ucap Alena dengan bibir bergetar.


Clara tertegun. Ia menatap wanita didepannya tak percaya. Apakah ia sedang bermimpi?


"Ini Alena. Aku nyari kamu kemana-kemana gak nemu, sayang. Aku gak nyangka bakal ketemu kamu ditempat seperti ini."


"Kak Alena?" tanya Clara bergetar.


"Iya. Ini Kak Alena. Kakak kamu." bisik Alena. Ia langsung memeluk Clara dan mereka mulai menangis bersama.