
Edward baru saja membuka matanya ketika ia mendengar handphonenya berbunyi. Ia melihat sejenak, ibunya menghubunginya. Masih dalam keadaan terbaring, ia mengangkatnya.
"Kapan pulang ma?"tanya Edward sambil menutup matanya.
"Mama sama papa ada dirumah." jawab ibunya santai. Sejak kedua orangtuanya menikah dan memiliki pekerjaan, mereka memutuskan tinggal di Singapura. Hanya Dega yang dilahirkan disana. Sedangkan Edward dilahirkan di Indonesia karena ayahnya saat itu sedang berada disana selama 2 tahun. Namun setelah itu, mereka kembali lagi ke SIngapura dan menetap disana. Kehidupan masa kecil dan remaja Edward dihabiskan di Singapura. Namun setelah ia kuliah di Michigan, ia memutuskan untuk tinggal di Indonesia dan menjalankan usaha bersama kedua sahabatnya. Tidak disangka perusahaan ayahnya kembali dibuka. Dan ia lah yang mengurusnya hingga saat ini.
"Ma, aku harus ketemu mama. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan." ucap Edward.
"Bad news or good news?"tanya ibunya.
"Actually, good news." jawab Edward dengan nada senang.
"Oke, mama tunggu kamu." jawab ibunya.
Edward tersenyum senang. Iapun bangun dari tidurnya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap. Jam dinding menunjukkan pukul 11 siang. Ia bersiul setiap saat. Tidak ada yang bisa menggantikan kesenangannya hari ini. Semalam ia berbicara banyak dengan kekasihnya. Mereka membicarakan tentang masa depan. Bagaimana mereka akan memiliki rumah impiannya sendiri, bagaimana mereka akan pergi untuk bulan madu, bagaimana mereka akan memberikan nama anaknya kelak. Ia tidak mau semuanya berubah. Ia akan segera menikahi kekasihnya dan semua yang dibicarakan oleh mereka akan segera menjadi kenyataan.
Mobil milik Edward memasuki pekarangan rumah. Sudah lama ia tidak bertemu dengan kedua orangtuanya. Dari luar ia melihat bangunan megah kedua orangtuanya. Halaman belakang mereka langsung menatap lautan. Dan rumah mereka hanya satu dari sekian rumah yang memiliki akses tersebut. Tidak salah jika Edward sangat pintar berenang karena sejak kecil ia terbiasa berenang di samping kapal yang dimiliki ayahnya.
Terdengar suara ibunya yang sedang tertawa di halaman belakang. Iapun berjalan untuk segera menemui ibunya. Ia melihat ibunya sedang berbincang dengan seseorang yang tidak ia kenal. Mereka terlihat sangat dekat. Kemudian ia melihat ayahnya yang sedang bersiap-siap untuk memancing bersama beberapa pegawainya. Ia lebih baik menghampiri ayahnya terlebih dahulu.
Pria itu menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Edward? Ngapain kamu kesini?"tanya ayahnya bingung.
"Aku mau ketemu kalian." jawab Edward senang.
"Tunggu papa pulang mancing. Ada yang harus kita obrolkan." ucap ayahnya.
Edward hanya melihat ketika ayahnya perlahan mulai meninggalkan dermaga. Ketika libur seperti saat ini, hobi ayahnya hanya memancing. Tidak ada yang bisa mengganggunya kecuali ibunya. Iapun mulai meninggalkan dermaga dan berjalan menuju tempat ibunya berada. Ibunya masih bersama temannya,
"Ma.."Panggil Edward.
Ami menoleh dan menatap Edward. "Tuh anaknya dateng." ucapnya pada temannya sambil melambaikan tangannya pada Edward.
Ami langsung mencubit pipi Edward. Ia menatap temannya. "Tuh liat, sekalinya pulang langsung nyari masalah. Aku gak kesel gimana coba sama anak ini." protes Ami.
Wanita didepannya tersenyum. "Halo, Ed. Masih inget sama tante?" tanya wanita itu.
Edward menggelengkan kepalanya. "Maaf, tante aku gak inget." ucapnya bingung.
Wanita itu tersenyum. "Wajar gak inget. Kita ketemu Edward waktu Sasha masih kecil. Mereka masih sama-sama imut."
Edward menatap ibunya bingung. Ia tidak mengerti. Ia menatap ibunya bingung. Ami hanya tersenyum. Terdengar olehnya suara sepatu high heel berjalan dibelakangnya.
"Hai, Edy!" panggil seseorang.
Edward berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ia melihat seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang terurai sangat indah. Ia tersenyum merekah. DI tangannya terlihat sedang memegang sebuah toples kaca berwarna emas. Ia menatap penampilan itu dari ke atas dan ke bawah. Semuanya sempurna. Sesaat ia terpana, namun ia langsung mengingat Clara. Jika dibandingkan, mereka berdua sama-sama cantik dan sempurna menurutnya.
"Edy.." panggilnya lagi.
Edward langsung menoleh padad ibunya. "Edy, ma? Siapa?"
"Edy, kamu gak inget sama aku? Aku Sasha, temen kamu waktu kecil. Kita biasa main di halaman ini berdua. Waktu itu aku sering dititipin sama mama kamu. karena kesibukan mama sama papa."
"Kenapa Edy?"tanya Edward bingung.
"Kamu lupa kenapa aku manggil kamu Edy? Coba inget-inget siapa yang suka manggil kamu dengan sebutan Edy?" tanya Sasha gemas.
Tiba-tiba Edward mengingatnya. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan Edy. Dia adalah seorang gadis imut berkepang dua. Tapi kenapa wanita didepannya sangat jauh berbeda? Ketika mereka masih kecil, Sasha tidak dapat berucap dengan lancar. Untuk itulah ia memanggil Edward dengan sebutan Edy. Tidak ada yang lain. "Sasha? Is it you?"
"Yes!" Jawab Sasha sambil memeluk Edward dengan erat. "Finally kamu inget sama aku. Aku kembali, Edy." serunya senang.
Baik Ami maupun ibunya Sasha hanya menatap mereka penuh arti.