
Dave berlari ke parkiran untuk menuju rumah sakit tempat Alena berada. Ketika Alena menghubunginya jika gadis yang ia rawat sadar, ia senang. Beberapa hari Alena menghabiskan waktunya di rumah sakit untuk merawat gadis itu. Alena tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ketika sampai dirumah sakit, ia berjalan menuju kamar gadis itu. Di pintu, ia sempat terkejut melihat Alena dan gadis itu berpelukan. Ada sesuatu yang aneh. Mereka berdua menangis. Iapun masuk.
"Halo, ada apa ya?" tanya Dave.
Alena dan Clara saling melepaskan pelukannya. Clara menatap Dave takut. Ia sedikit menjauh dari Alena.
"Gak apa-apa, sayang. Laki-laki ini calon suami kakak." ucap Alena tenang.
"Calon suami?" tanya Clara bingung.
"Ada apa sih? Aku bingung." ucap Dave.
Alena memegang tangan Dave dan memintanya duduk. "Gini, Dave. Ternyata gadis ini Clara. Adik aku yang selama ini kita cari."
Dave terkejut. Tapi ia tidak gampang percaya. Ia menatap Clara lama. "Apa bener?"
"Bener, Dave. Dia Clara. Aku yakin." jawab Alena. Iapun menatap Clara. "Clara, jangan takut. Dave gak jahat. Dia calon suami kakak. Kita akan menikah minggu depan."
Clara terlihat senang. "Selamat, kak. Tapi gimana bisa kakak yang nolong aku?"
"Takdir sayang. Kita memang sudah seharusnya bertemu. Waktu itu kakak sama Dave udah pemotretan buat pra wedding kita nanti. Perjalanan pulang, kakak liat tubuh kamu dijalan. Siapa yang siksa kamu selama ini?" tanya Alena serius.
"Banyak yang jahat sama Clara kak. Setelah Clara dilepaskan dua orang pria yang Clara gak tau itu, Clara ditolong dua orang pria juga yang ternyata mereka penjual wanita muda ke kota. Clara hampir mati kalo gak ada kakak." ucapnya sambil menangis.
"Keterlaluan. Kita harus cari orangnya biar ditangkap polisi." ucap Dave marah.
Alena memeluk Clara. "Jangan cerita lagi. Nanti kamu cerita kalo udah ngerasa baikan." ucap Alena.
Clara menatap kakaknya dengan pria tampan itu yang terlihat sangat bahagia. Tiba-tiba ia berfikir, bagaimana jika sekarang musuhnya jadi dua kelompok? Yang pertama adalah ibu tiri dengan anaknya. Yang kedua adalah orang yang telah membelinya dari Edi.
Alena melihat Clara melamun. Iapun menghampirinya. "Jangan banyak pikiran, Clara. Hari ini kamu akan kakak bawa pulang ke rumah. Nanti kita ngobrol dirumah aja. Kamu udah bisa jalan kan?"tanya Alena.
Clara hanya mengangguk. Apapun yang akan dilakukan kakaknya, ia percaya.
Edward sedang berada di bar langganannya. Besok pagi ia akan kembali ke Singapura sebelum pernikahan Dave. Tapi ia akan kembali saat pernikahan Dave.
"Tumben dateng kesini. Bukannya udah gak mau ngumpul sama kita lagi." sindir Calvin yang datang seorang diri.
"Aku tobat. Aku minta maaf sama kalian. Tanpa kalian, aku bukan apa-apa." ucap Edward sambil meminum minumannya.
Calvin memeluk bahu Edward. "Kamu tobat juga dari perempuan itu?" sindir Calvin.
"Adriana? Aku pikir dia gadis baik."
Calvin duduk disampingnya. "Aku pikir lebih baik kamu tinggalin dia. Dia bukan tipe kamu. Kamu bisa dapetin yang lebih dari Adriana."
"Aku pikir belum ada yang lebih baik dari Adriana." jawab Edward. "Ngomong-ngomong Dave kemana? Aku mau minta maaf sama dia."
"Katanya lagi ngebahas soal nikahan minggu depan. Tapi dia udah terima permintaan maaf kamu." ucap Calvin.
Calvin tertawa. "Siapa juga yang mau nikahin Sandra."
"Jangan munafik kamu. Aku masih inget kamu nangis-nangis gak bisa nemuin Sandra." jawab Edward serius.
Calvin hanya diam. Yang Edward katakan memang benar. Tapi itu adalah masa lalu.
Siska menatap Clara sambil tersenyum. Ia senang pada akhirnya semua kembali normal. Tapi ia harus mengetahui cerita sebenarnya dari mulut Clara.
"Kamu beda sama kakak kamu, Clara." ucap Siska.
Clara tersenyum. "Banyak yang bilang kalo saya jiplakan dari papa." ucap Clara.
"Tapi Clara lebih cantik dari Alena kan, nek?" ucap Alena senang. Wajahnya terlihat bahagia.
"Kalian sama-sama cantik dalam porsi yang berbeda." jawab Siska bijak.
"Jadi Clara, gimana ceritanya kamu bisa ada dikampung itu?" tanya Siska.
"Clara ditemuin sama dua orang warga. Waktu itu keadaan Clara memprihatinkan. Badan Clara hancur karena siksaan Desy dan anaknya. Sebelum Clara dibuang, Clara dipukul sampai gak sadar. Tapi kalau bisa nek, Clara mau cari dua orang yang buang Clara disana. Clara denger mereka berdua minta maaf karena harus membuang Clara disana. Kemudian, Clara ditemuin lagi sama dua orang lagi warga disana. Mereka membantu Clara melewati masa kritis selama dua bulan. Tapi sayangnya, mereka memang bukan berniat membantu Clara dengan tulus. Mereka berniat menjual Clara." jelas Clara.
"Semua ini gara-gara Desy dan anaknya. Kita harus balas mereka." ujar Dave kesal.
"Kita gak bisa gitu aja membalas, Dave. Mereka taunya Clara sudah tewas. Bener kan?"tanya Alena.
Clara mengangguk. "Jujur, Clara masih takut ketemu orang-orang. Kalau bisa Clara cuma mau bersembunyi dulu. Clara butuh waktu."
Alena mengangguk setuju. "Ya, Clara butuh banyak istirahat setelah semua yang terjadi. Kita lakukan pelan-pelan."
"Kalian fokus dulu ke pernikahan minggu depan." ucap Siska.
"Iya nek."
"Clara tinggal dimana nanti?"tanya Siska.
"Clara tinggal di rumah Alena, nek."
"Lebih baik ditempat lain. Nenek akan cari tempat baru buat kamu sampai kamu pulih."
"Lebih baik Clara tinggal sama kakak." ucap Clara cepat.
"Tetep aja, Clara. Kakak gak bisa 100% jagain kamu. Nanti kakak pikirkan harus gimana."ucap Alena.
Clara hanya mengangguk.
"Pokoknya sekarang kamu fokus buat pernikahan kamu minggu depan. Dan Dave, kamu jangan cerita ke siapa pun tentang sosok Clara. Kalau ada yang nanya siapa Clara, kamu bilang dia teman Alena yang baru pulang dari Jepang." ucap Siska pada Alena dan Dave.
"Iya nek. Makasih untuk semuanya. Sekarang Alena pulang dulu sama Clara." ucap Alena sambil berdiri.