Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Break up



Ami terduduk dihalaman rumahnya. Ia memegang tangannya dan gugup. Tidak pernah ia merasa tegang seperti ini. Bagaimana mereka sekarang? Apakah sudah putus? Sepertinya kali ini telah bertindak sebagai ibu yang kejam. Bagaimana lagi? Ia berkaca pada pengalaman pahit sebelumnya. Anak perempuan satu-satunya memilih menikah secara diam-diam dengan seorang karyawannya yang merupakan orang asing. Sudah cukup anak perempuannya yang melakukannya. Hingga saat ini ia dan Dega masih bersitegang. Mereka tidak sedekat dulu ketika Dega belum menikah. Saat itu ia dengan bangganya memperkenalkan Dega kepada semua teman-temannya kalau ia adalah perempuan satu-satunya lulusan hukum terbaik saat itu. Banyak sekali yang memintanya menjadi menantu. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia tidak bisa berbuat banyak karena ketika Dega pulang, ia sedang hamil dan sudah menikah dengan pria pujaannya. Mana mungkin ia meminta Dega untuk menggugurkan kandungannya. Setelah kehadiran anak laki-lakinya yang merupakan cucu satu-satunya itu tetap tidak bisa membuat ketegangan antara keduanya mereda. Ia terus berfikir. Ia tidak mungkin membiarkan Edward akan melakukan hal yang sama. Ia tidak mau itu terjadi.


"Tante, kenapa?" tanya seseorang yang mengagetkan lamunannya.


Ami menoleh ke belakang. Ia melihat Sasha sedang berdiri dibelakang. Ia menatapnya. Sasha memang bukan yang terbaik bagi Edward. Tapi ia memiliki gelar pendidikan yang bagus dan keluarganya bukan keluarga yang buruk. Ia telah mengenal mereka selama beberapa puluh tahun. Keluarga Sasha tidak pernah terlihat cacat sedikitpun.


"Tante.." panggil Sasha kembali.


Ami menatap Sasha dan tersenyum. "Sini duduk. Kita harus ngobrol banyak." ucapnya.


Sasha duduk disamping Ami. "Gimana tante?'tanyanya.


"Sasha, menurut kamu wedding organizer yang kemarin gimana?" tanya Ami.


"Mereka profesional Tante, Sasha suka." ucapnya senang.


**********************************************************************************************************


 


Clara dan Edward duduk di kursi kayu untuk waktu yang cukup lama. Mereka berada di rooftop kantornya. Ketika ia baru mengajak Edward ke atas, ia terkejut melihat rooftop gedung ini telah dibuat taman. Clara tidak asal mengerjakannya. Ia baru melakukannya satu minggu yang lalu. Ia meminta orang yang membuatnya untuk bergerak cepat. Akhir-akhir ini banyak sekali karyawannya yang diam diluar gedung hanya untuk merokok. Gara-gara masalah yang menimpanya di media, ia harus melihat karyawannya banting tulang mempertahankan proyek mereka yang hampir gagal. Mereka stress dan akhirnya ketika istirahat tiba, ia melihatnya mereka berada diluar.


"Sayang, gimana keadaan kamu?' tanya Edward sambil menggenggam tangannya.


Clara melepaskan tangan Edward. "Aku baik-baik aja. Gak usah khawatir." jawab Clara tanpa mau melihatnya.


"Berita tentang kamu perlahan mulai hilang. Aku pikir kita harus mulai membahas tentang kita. Pernikahan kita. Kapan aku harus ketemu kakak kamu buat bicara masalah pernikahan?" tanya Edward serius.


Clara berdiri membelakangi Edward.


Edward mengerutkan keningnya. Ia berdiri. "Kenapa?"


Clara berbalik dan tersenyum. "Ed, kayaknya aku gak cocok deh sama kamu. Aku udah pikirin beberapa hari ini. Kita emang gak cocok."


"Aku gak prank. Aku bicara apa adanya. Kamu liat sendiri. Aku gak pake cincin dari kamu." ucapnya Clara sambil mengangkat tangannya. Tidak ada cincin pemberian Edward.


Mimik wajah Edward berubah pucat.  Ia memegang kedua bahu Clara dan menekannya dengan keras. Clara meringis karena luka yang tadi malam. Ia melepaskan diri dan mundur.


"Kenapa? Kita saling mencintai. Kamu gak bisa bohong soal itu." seru Edward marah.


"Iya, tapi itu dulu. Kamu tau sendiri kalo aku itu wanita nakal. Pasti kamu gak tau kemana aku tiap malam. Kamu hubungi akupun, aku gak pernah jawab. Apa pernah kamu tanya?" tanya Clara dengan menantang.


Edward menyipitkan matanya. Sialnya, wanita didepannya tidak terlihat sedang berbohong. Ia melepaskan tangannya, "Kemana kamu tiap malam?" tanyanya tajam.


"Kemana lagi kalo enggak di bar. Kamu liat kan video dari berita itu. Ya itulah aku yang sebenernya. Aku lebih seneng kehidupan seperti itu ternyata" jawab Clara sambil tersenyum.


"Trus hubungan kita selama ini kamu anggap apa? Semua kejadian kamu? Kejadian kita?" tanya Edward.


Clara tersenyum dan memegang tangan Edward. "Maksud kamu gini? Aku ke siapapun emang suka gini. Gak kekamu aja Ed."


"Bxxsxk kamu Ara! Aku salah karena mencintai kamu terlalu dalam." teriak Edward. Ia marah sekali. Padahal ia sudah memiliki rencana saat bertemu dengan Clara hari ini. Ia tidak mau mendengarkan alasan Clara yang lain karena alasan ini saja sudah membuat darahnya mendidih.


"Kamu bodoh kalo masih mau sama aku." ucap Clara namun ia merasakan pipinya perih karena tamparan Edward. Ia menatap Edward terkejut. Kedua mata pria itu berkaca-kaca. Ia membalikkan badannya ke belakang dan menutup matanya. Pertahanannya hampir bobol jika ia tidak menyelesaikannya hari ini. Iapun berbalik kembali dan memegang tangan Edward. "Edward sayang, kamu pantas dapat seseorang yang baik. Gak kayak aku. Jadi, lebih baik mulai hari ini kita berteman. Kamu mau?" tanya Clara.


"Sampai kamu mati didepan akupun aku gak mau! Aku benci sama kamu, Clara. Kamu gak jauh beda sama Adriana! Kalian sama aja. Kamu memang gak pantes buat aku. Mulai hari ini, terakhir kalinya aku ketemu sama kamu. Bener kata mama, kamu bukan anak baik-baik. Aku menyayangkan Alena punya adik kayak kamu. Kamu gak jauh beda dengan PSK yang menjajakan cintanya dipinggir jalan." ucap Edward marah sambil berjalan dengan cepat dan berlari keluar.


"Ya, Ed. Benci aku. Bencilah aku sesuka kamu. Semuanya sudah selesai." bisik Clara dengan airmata terurai. Ia mengepalkan kedua tangannya dan menutup matanya. Hatinya lebih sakit daripada ucapan ibunya Edward. Ia terus berdiri dan menutup matanya dengan keras.


"Cukup, Clara. Sebenernya ada apa? Ini bukan kamu." tanya Dave yang saat ini ada didepannya. Ketika ia mencari daniel di bawah, ia tidak dapat menemukannya. Terpaksa ia menyusul ke rooftop sambil bertanya jalan menuju ke atas. Namun ketika didepan pintu, ia terkejut ketika melihat Edward menampar Clara dengan sangat keras.


Clara membuka matanya. Airmatanya terus bercucuran. Ia melangkah dengan berat dan memeluk Dave dengan erat. "Kak.." tangisnya histeris.


Dave kebingungan. Tapi sebagai kakak ia akan bijak. "Menangislah kalo itu bisa membuat kamu lega.". Dave prihatin pada Clara tapi sebenarnya ia jauh lebih was-was pada Edward saat ini. Edward bisa melakukan apa saja saat hatinya terluka.