Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Panggilan Malam



Clara menatap jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 8 malam. Setelah dari perusahaan ayahnya, ia pergi ke kantor Om Sakti. Ia benar-benar sibuk hari ini. Ia lelah. Ia sampai lupa untuk makan hari ini. Iapun berpamitan pada Om Sakti dan pulang. Beberapa kali sahabat ayahnya itu memintanya untuk di dampingi seseorang selama perjalanan ke villa, tapi ia tidak menolak dengan tegas. Alasannya adalah karena ia bisa menjaga diri. Tidak ada yang berani melukainya.


Langit malam mulai berubah hitam pekat. Awan hujan mulai menunjukkan jati dirinya. Sedangkan udara sudah mulai dingin. Clara menyetir dengan hati-hati. Apalagi ini bukan mobilnya. Ah, tiba-tiba ia teringat Edward. Ia belum menghubunginya hari ini karena kesibukannya. Edward sendiri tidak menghubunginya. Sepertinya iapun sama-sama sibuk. Ia akan menghubunginya nanti ketika sudah sampai di villa. Ketika mobilnya memasuki halaman Villa, Bi Rumi terlihat gelisah di luar pintu. Ia terus melihat mobil yang ditumpanginya. Clara mengerutkan keningnya, Iapun turun dari mobil. Beberapa orang bodyguard menghampirinya. Ia memberikan kunci mobil ke salah satu dari mereka.


Clara menghampiri Bi Rumi. "Kenapa bi?"


"Non, ibu Desy kabur dari rumah." ucap wanita tua itu. Wajahnya terlihat panik.


Clara tersenyum. "Tenang bi, gak apa-apa. Biarin aja Desy kabur. Kita disini udah banyak orang. Kita aman." ucap Clara walaupun ia sendiri was-was. Melihat pembantunya panik, ia tidak boleh ikut panik. Ia harus berfikir sesuatu.Ia akan menghubungi Dega untuk menanyakan tentang hal ini. "Aku ke kamar dulu bi. Tenang, bibi istirahat aja. Aku juga mau istirahat. Aku cape."


Bi Rumi mengangguk. Ketika Clara pergi, ia mendengar Bi Rumi berkata pada para penjaganya untuk terus menjaga dirinya. Ia tidak pernah tahu jika ayahnya terbaik dari segi apapun. Bahkan asisten rumah tangganya memiliki loyalitas yang tinggi padanya.  Ketika berada di kamar, ia menghubungi Dega dengan cepat.


"Halo, Kak. Maaf ganggu."


"Kenapa Ra?" tanya Dega serius.


"Apa bener Desy kabur?"tanya Clara. Ia duduk disamping tempat tidur dan menunggu jawaban dari Dega.


"Ya, aku baru dapet infonya dari kepolisian. Desy pergi keluar negeri sendiri. Tanpa anaknya. Tapi, imigrasi dia bisa dilacak polisi. Kamu gak perlu takut, Clara. Dia pasti bisa ditangkep soalnya melarikan diri saat penyidikan." jelas Dega.


"Syukurlah. Aku pikir dia bisa lepas." jawab Clara.


"Dia bisa menghirup udara bebas tapi cuma sementara. Dengan kaburnya Desy, dia bisa langsung ganti status dari tersangka ke terdakwa. Dia bisa langsung dipenjara." Ucap Dega.


"Aku ngerti sekarang. Kemanapun dia pergi, pasti ketauan kan?"


"Ya. Setiap kabar tentang Desy, aku pasti kabarin kamu." ucap Dega. Clara tersenyum senang.


"Thank you, Kak."


"It's Ok. Itu jadi kerjaan aku juga. Ngomong-ngomong,sekarang bodyguard di Vila kamu nambah banyak ya?" tanya Dega.


"Ya, biasanya cuma dua orang. Sekarang ada hampir 7 orang yang jaga Vila." ucap Clara sambil terkekeh.


"Makasih dulu sama Nenek Siska. Dua jam yang lalu Nenek Siska telepon aku karena susah hubungi kamu." jawab Dega.


Tanpa menunggu lama, ia menghubungi nenek Siska.


"Halo." ucap Siska.


"Nenek Siska, ini Clara. Maaf tadi Clara sedang meeting. Nenek cari Clara?"tanya Clara.


"Ya, nenek dari pagi baca berita tentang penjualan saham perusahaan papa kamu. Jadi hasilnya gimana?"tanya Siska perhatian.


"Nenek tenang aja, aku udah berhasil gagalin semuanya. Mereka masih bertahan tanpa mau menjual saham mereka ke orang lain." jelas Clara.


"Nenek tahu kamu orang yang bisa diandalkan. Nanti kalo semua urusan nenek disini sudah beres, nenek pasti jenguk kamu disana. Kasian kamu sendiri, Clara. Nenek percaya Sakti ada terus disamping kamu. Kamu harus bisa jaga diri. Apalagi nenek dengar ibu tiri kamu kabur keluar negeri."


"Aku bisa jaga diri, nek. Makasih karena udah khawatir sama aku." Ucap Clara pelan. Sejak kecil ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang kakek dan neneknya. Kali ini ia benar-benar senang. Kakaknya beruntung memiliki keluarga baru yang menyayanginya.


"Sibuk banget hari ini." ucap Edward ketika ia baru saja mengangkatnya.


"Ed.." panggil Clara manja.


"Aku suka kalo kamu manggil aku dengan nada manja gitu. Kenapa sayang? Kamu pasti capek. Perjalanan dari kantor papa kamu ke kantor Om Sakti itu lumayan jauh. Belum lagi pulang ke Vila. Untung ada si blue yang antar kamu kemanapun" ucap Edward.


Clara mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu tahu? Kamu pasang pelacak di handphone aku?"


"Mobil yang kamu pake itu ada GPS nya. Aku bisa lacak kamu kemanapun kamu pergi pake mobil itu." jelas Edward.


"Keren.." jawab Clara tanpa sadar. "Jangan-jangan kamu pasang pelacak di hanpdhone aku juga. Kemarin kan kamu pinjem hp aku terus."


Edward tertawa. "Sedikit. Tapi aku bisa tebak kamu ada dimana sekarang."


Clara mengerutkan keningnya.  "Aku dimana?"


"Aku yakin kamu masih pake baju semalam. Trus sekarang kamu ada di kamar kamu." jawab Edward cepat


Clara langsung melihat ke setiap penjuru kamarnya. Bisa saja Edward memasang CCTV di kamarnya. "Kenapa kamu tahu?"


"Jadi bener?"tanya Edward sambil tertawa.


"Iya bener. Aku baru nyampe.dan belum sempet ganti baju."


"Sebelum ganti baju, aku minta kamu keluar sebentar." ucap Edward.


"Buat apa?"


"Keluar aja dulu, aku kasih kamu kejutan." ucap Edward.


Clara berjalan keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga perlahan. Ia sedikit waspada. Apa yang Edward lakukan?Apa ia langsung pulang? Ketika membuka pintu, ia terkejut melihat karangan bunga mawar merah yang begitu besar. Ditengahnya terdapat bunga berwarna putih berbentuk love. "Ed.."


"Apa sayang?Kamu udah liat kejutan aku?" tanya Edward tenang.


"Ini apa? Kenapa kamu bisa kirim bunga sebanyak ini?" tanya Clawa bingung.


"Sebisa mungkin aku bakal kasih kamu bunga setiap saat. Berhubung besok hari spesial kamu, aku mau aku jadi yang pertama buat kamu."


"Tapi kemarin kamu udah kasih aku surprise.." Protes Clara.


"Kamu pantas dikasih surprise sama aku setiap saat, sayang." jawab Edward membuat Clara tersipu malu. Ia merasa ia adalah wanita paling beruntung karena memiliki Edward. Iapun mengambil bunga itu dengan kedua tangannya dan membawanya ke kamar. Ia merasa rasa lelahnya hari ini terbayar oleh surprise yang diberikan Edward.


"Ed, I Love you." bisik Clara.


Edward tersenyum senang. "I Love you too, sayang."


Tak terlihat oleh Clara, Bi Rumi tersenyum melihat Clara bahagia. Sejak Clara beranjak sekolah menengah awal hingga akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah, ia tidak pernah melihatnya sebahagia ini. Kemarin ketika Edward datang sore hari, ia memberinya uang untuk membelikannya satu bucket bunga yang besar untuk Clara. Ia bahkan tidak peduli harganya. Pria itu hanya mengatakan jika Clara pantas menerimanya. Ia senang karena Clara menemukan pria yang mencintainya. Rasanya jika seperti itu kejadiannya, ia merasa dirinya sudah tidak terlalu dibutuhkan oleh Clara. Bi Rumi berbalik dan berjalan ke kamarnya. Tanpa diketahui oleh siapapun, ia yang telah diminta oleh almarhum ibunya Clara untuk berada disampingnya hingga gadis itu menemukan kebahagiaannya. Permintaan ibunya telah ia sanggupi hingga hari ini.