
"Oke, aku duluan. Kenapa kamu dateng ke sini tiba-tiba? Aku bisa jemput kamu kalo emang kamu kangen sama Alena." ucap Edward sambil berkacak pinggang.
"Itulah alasan kenapa aku mau minta penjelasan dari kamu." jawab Clara sambil berkacak pinggang. Ia menatap Edward dengan tajam. Ia tidak mau kalah. Beberapa hari ini ia begitu ketakutan karena tidak diberikan kepastian.
Edward menatap Clara lama. Ia menghela nafas perlahan. "Aku sibuk sama pekerjaan aku. Papa sempet ancam aku. Kalo aku gak beresin kerjaan dikantor, aku gak bisa dapet restu buat nikahin kamu. Makanya kamu ketemu papa tadi waktu di kantor. Seminggu ini papa sama mama pulang ke sini."
Clara tidak menyangka yang ia lakukan untuk kepentingan mereka. Iapun menyipitkan matanya. "Berapa perempuan yang kamu goda sampai pekerjaan kamu gak berantakan?" tanya Clara.
Edward tersipu. Ia langsung menarik lengan Clara untuk berdiri dan memeluknya dari belakang."Semuanya gara-gara kamu." bisik Edward ditelinga Clara.
Clara langsung berbalik. "Gara-gara aku?" tanyanya sambil melotot.
"Tuh kan marah, kamu lucu kalo marah." goda Edward.
"Ed, aku gak main-main sama kamu! Kenapa gara-gara aku?" tanya Clara marah.
Edward langsung menarik Clara kedalam pelukannya. "Kalo aku jelasin, panjang ceritanya. Intinya aku gak fokus sejak aku kehilangan kamu. Aku gak pernah kontrol semua kerjaan di perusahaan. Aku tinggalin di Singapura beberapa bulan, ternyata pekerjaan mereka salah. Intinya begitu."
"Trus gimana cara biar selesai?" tanya Clara.
"Kamu tinggal disini dan nikah sama aku. Dengan begitu aku bisa fokus." bisik Edward.
Tiba-tiba pintu diketuk pelan. Clara melepaskan pelukan Edward dan melihat pintunya yang terbuka. Ia melihat wanita itu ada disana. Wajahnya terlihat terkejut ketika melihat mereka berdua berpelukan. Ia terlihat gugup.
"Maaf, aku cuma mau manggil Clara. Tante Ami manggil. Katanya mau mulai makan." ucap Sasha gugup. ia menundukkan wajahnya karena malu.
"Iya, aku kebawah sekarang." ucap Clara cepat. Tanpa berpamitan, Sasha turun dengan cepat. Clara hanya mengerutkan keningnya ketika melihat kepergian wanita itu. Setelah tidak terlihat lagi, Clara menatap Edward tajam. "Aku butuh penjelasan kamu soal dia."ucapnya tajam.
"Soal apa?" tanya Edward bingung.
"Semuanya. Aku masih butuh penjelasan dari kamu." ucapnya sambil berjalan meninggalkan Edward. Ia menutup pintu dimana Edward masih berdiri. Kalau memang mereka berteman, kenapa wanita itu harus gugup ketika melihat mereka? pikir Clara. Yang pasti ia harus mencari tahu. Ia merasa Edward sedang menyembunyikan sesuatu.
Iapun mulai menuruni tangga yang terlihat melingkar itu. Ia melihat beberapa orang sedang duduk di ruang keluarga. Termasuk ayahnya Edward. Sedangkan ibunya ada diruang tamu yang terhalang oleh tangga. Ketika ia sampai dbawah, langkahnya terhenti ketika ia mendengar obrolan antara ibu-ibu sosialita itu.
"Mi, kamu beruntung dapat calon menantu cantik, kaya, baik." ujar salah satu temannya.
"Sebenarnya awalnya aku mau jodohkan Edward sama ini." Ucapnya sambil memeluk Sasha. "Aku tau anak ini. DIa lulusan S2 dari Inggris. Bangga kan punya menantu yang kepandaiannya gak bisa kita ragukan lagi."
"Sasha ini punya orangtua profesor. Papanya Sasha itu salah satu dosen di kampus tempat aku ngajar. Dia keluarga baik-baik. Dan kita kenal udah lama. Aku tau mereka."ucap Ami bersemangat.
Clara menunduk. Ia pernah mengatakan jika strata seseorang tidak menjamin kesuksesan. Ia masih mengingat itu. Ia memainkan kedua tangannya yang berkeringat. Ia kecewa melebihi apapun kali ini. Ibunya Edward tidak berubah sejak pertama mereka bertemu. Ia menjadi kasihan pada Edward.
"Kalo calon menantu kamu ternyata bukan orang baik-baik gimana? Kan kita tau kalo anak pengusaha itu rata-rata gak bener."
Sasha menggelengkan kepalanya. "Enggak juga tante. Udah stop ngegosipnya. Clara lagi turun kesini. Gak enak kalo kita ngomongin dia."
"Bentar Sasha. Tante mau jawab pertanyaan terakhir. Kalau ternyata Clara bukan wanita baik-baik? Tentu aja harus dipisahkan. Aku gak mau nama baik keluarga hanya karena calon istri gak bener. Masih untung gak sampai nikah. Kalo sampai mereka nikah, mau disimpan dimana wajah kita?" ucap Ami.
Karena tidak tahan mendengar ucapan ibunya Edward, Clara naik kembali keatas. Namun baru saja setengah tangga, ia bertubrukan dengan Edward yang hendak turun. Ia sudah mengganti pakaiannya. Edward memegang kedua bahu Clara. "Kenapa?" tanyanya cemas. Ia melihat wajah Clara seperti hendak menangis.
"Aku mau nyusulin kamu" ucap Clara sambil tersenyum memaksa. Edward langsung memegang tangan Clara dan menariknya untuk turun ke bawah.
"Ed, jangan gini. Aku malu diliatin orang-orang." protes Clara gugup.
Edward tidak mendengarkan. Ia terus memegang lengan Clara hingga mereka berada ditempat kedua orangtuanya berada. Ia menatap semuanya satu persatu. Clara hampir menangis tadi. Ia menyembunyikan sesuatu. Ia akan menyelidikinya. Tidak mungkin ia seperti itu tanpa alasan. Apakah ibunya yang melakukannya? Atau ayahnya? Tapi ayahnya tidak mungkin melakukannya. Ayahnya menyukai Clara.
"Ma, Clara gak enak badan. Aku mau anter pulang sekarang." ucap Edward serius.
Clara menarik lengan Edward. Ia menggelengkan kepalanya namun genggaman tangan Edward yang kuat membuat Clara terdiam.
"Kenapa?" tanya Ami bingung. Ia tidak terlihat telah terjadi sesuatu. Edward menatapnya serius.
"Clara pusing karena perjalanan tadi pagi. Dia nyetir hampir 5 jam. Lebih baik dia istirahat." uca[ Edward.
Ami berdiri. ia menghampiri Clara dan memegang tangannya. "Hati-hati ya Clara. Kamu harus jaga kesehatan." ucap Ami sambil tersenyum.
"Iya tante." jawab Clara pelan.
Edwardpun menarik lengan Clara keluar dari rumah. Ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kencang menjauhi rumahnya yang terlihat masih ramai itu.