
Clara merasa tidak tenang ketika duduk. Ia tidak nyaman melihat pria didepannya terus menatapnya. Ia menunduk. Sulit untuk mengakui kesalahan yang telah ia lakukan. Beberapa makanan yang dibawa pelayan telah tiba secara bergantian. Semuanya terdiam ketika makan. Seenak apapun makanan didepannya, untuk Clara rasanya tetap tidak enak. Ia belum menyuapnya dibanding yang lain.
Sandra melihat Clara hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa Clara? Makanannya gak enak?" tanya Sandra.
Clara menggelengkan kepalanya. Sekarang semuanya menatapnya. Ia gugup. "Enggak, kak. Aku cuma masih kenyang."
"Emang kamu makan apa seharian ini? Aku sama kamu dari pagi. Kamu gak sarapan sama makan siang. Ini makan siang kita yang kelewat. Aku gak mau kamu sakit." ucap Sandra cemas
"Iya kak, maaf. Aku makan sekarang." jawab Clara gugup.
Edward tersenyum masam. "Mungkin bukan selera dia makan ditempat ini. Mungkin maunya makanan thailand." ucapnya sambil menatap Clara.
Clara gugup hingga menjatuhkan sendok miliknya ke lantai.
"Ed, kamu apa-apaan sih?" tanya Sandra kesal. Ia mengambilkan sendok yang jatuh itu dan memberikannya pada Clara. "Edward suka becanda, Clara. Jangan kamu anggap serius."
Tiba-tiba handphone seseorang berbunyi. Calvin dan Edward langsung mencari suara dering telepon itu. Ternyata dari tas Edward. Ia menatap sekilas dan tersenyum.
“Halo, ya sayang.” Ucap Edward sambil menatap Clara. Sedangkan Clara masih menunduk. Ia tidak mau melihat siapapun.
“Pasti orang itu.” Jawab Calvin kesal.
“Aku ke toilet dulu, kak.” Ucap Clara gugup. Ia berjalan dan bertanya letak toilet pada salah seorang pelayan. Ia bisa melalui beberapa meja dengan menundukkan kepalanya.
“Aku tau. Jangan coba maksa aku. kamu tau dari awal resikonya berhubungan sama aku!”seru Edward marah. Nadanya berubah setelah melihat Clara pergi.
Calvin mengerutkan keningnya. Ia bingung melihat sahabatnya. Ketika menerima telepon tadi ia terlihat mesra. Namun setelah Clara pergi, nadanya berubah.
“Dasar gila. Gak bisa dikasih hati dikit mamanya Adriana."Umpat Edward sambil menutup teleponnya.
“Kenapa Ed? Sebelumnya kamu ngobrolnya mesra gitu. Tapi kenapa jadi sewot?”tanya Sandra sambil tertawa.
“Besok aku ke Singapura beresin kerjaan Adriana. Ibunya minta dipercepat. Gila, emang dia pikir aku robot. Resort yang lagi di renovasi itu mau dipercepat buat acara apa, aku juga lupa. Sebelumnya gak pernah bilang dipercepat. Cuma sesuai planning awal kalo kerjaan itu butuh waktu 6 bulan."
“Dari awal aku udah ngingetin kamu kalo Adriana dan mamanya itu memang bermasalah. Mereka seenaknya.” Ujar Calvin. Ia menghentikan makannya dan fokus pada sikap Edward.
“Aku gak butuh nasihat dari kamu. Aku lagi kesal. Aku ke toilet dulu.” Ucapnya sambil berdiri. Ia berjalan menuju toilet pria.
Ketika diperjalanan menuju toilet yang berada dilantai 2, ia berpapasan dengan Clara ditangga. Edward menarik lengan Clara dan menahannya dipojokan sebelum ketoilet. Clara terkejut namun ia tidak bisa menghindar lagi. Ia tidak tahu apa yang akan Edward lakukan padanya saat ini.
“Aku gak tau ada apa alasan kamu dengan tiba-tiba nyamperin Alena. Apa kamu dari awal tau kalo aku ini sahabat Dave?” tanya Edward tajam.
“Sekalinya kamu macem-macem sama aku, kamu akan dapat balasannya.”Ucapnya sambil mengangkat telunjuknya tepat diwajah Clara. “Aku pengen tau gimana perasaan kamu saat ini setelah ketemu aku.” Tambahnya sambil tersenyum sinis.
Clara mencoba tenang walaupun ia masih gugup. “Bi..biasa aja.”
Edward melepaskan topi Clara, rambutnya yang sudah panjang terurai. Rambutnya masih tetap sama seperti terakhir ia bertemu di phuket. “Oke. Kalau gitu kamu gak bisa nolak untuk kali ini.” Ucap Edward sambil mencodongkan wajahnya kewajah Clara.
Clara memejamkan matanya dengan kencang. Ia takut. Ketika tidak ada yang terjadi, Clara membuka matanya perlahan.
“Sikap kamu hari ini kayak perempuan yang belum terjamah laki-laki.” Ucap Edward sambil berjalan ke toilet.
Clara menyentuh dadanya. Matanya nanar. Ia merasa tak berdaya seperti ini. Tunggu sampaia ia sembuh, ia pasti melawannya. Clara dengan cepat menghapus airmata yang keluar dari sudut matanya. Iapun kembali ke meja tempat Calvin dan Sandra duduk.
“Kamu ketemu Edward tadi?”tanya Sandra cemas. Clara menggelengkan kepalanya.
“Maaf ya Ra, mungkin kamu sedikit terganggu sama sikap Edward. Tapi dia sebenernya baik kok.” Ucap Sandra.
“Gak apa-apa kak.”
“Emangnya aku apaan Sandra?Aku gak mungkin jahat sama orang baru. Ngomong-ngomong aku udah kenyang. Kita pindah ketempat biasa.” Ajak Edward. Ia sudah berada dibelakang mereka.
"Masih sore. Mending kita jalan-jalan dulu sebentar." ucap Sandra. Clara hanya terdiam tak berdaya. Rasanya ia ingin menceritakan semua ketakutannya pada orang-orang yang ada didepannya. Tapi ia tidak sanggup. Ia memikirkan keselamatan semuanya. Ia hanya ingin menunggu kakaknya pulang dan mereka akan mulai membahas semuanya.
Handphone Sandra bergetar. Ia terlihat panik.
“Halo.” Ucap Sandra. “Apa? Iya, iya Sandra pulang.” Sandra panik.
“Kenapa?”tanya Calvin.
“Ada mama sama papa dirumah. Kita harus cepet pulang. Kata Dean mereka marah-marah” Jawab Sandra panik. Ia menatap Clara. “Aku antar pulang ya sekarang sekalian.” tambahnya.
“Udah gak usah, kalian pergi aja. Aku anterin Clara pulang dengan aman.” ucap Edward.
“Oke kalo gitu, aku titip Clara sama kamu ya Ed. Aku percaya sama kamu.” Ucap Sandra sambil bersiap-siap. Wajah Sandra terlihat panik. Dan Clara tidak bisa berbuat banyak. Ia harus mengiyakan ucapan Edward.
Elisapun berjalan diikuti Edward. Mereka keluar tanpa berbicara sepatah katapun.
Ketika sampai diparkiran, ia menoleh kekiri dan kekanan. Sepi. Tidak ada orang sama sekali. Dan paling utama. Tidak ada CCTV yang akan merekam tindakannya sore ini.
Ketika Clara berjalan didepannya, Edward dengan kencang memukul pundak Clara sehingga ia pingsan. Ia tersenyum karena bisa membalas jahatnya Clara. Siapapun tidak bisa mempermainkannya. Termasuk gadis yang kini ada ditangannya.