Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
LAST BUT NOT LEAST



Dave datang ke rumah sakit setelah menyelesaikan masalah yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Ia baru dari kantor polisi sebagai saksi kasus Adriana. Wanita itu sudah mendekam sebagai tahanan di kantor polisi. Setelah kejadian itu, ia dan keluarga besarnya tidak mau mendengar tentang seseorang bernama Adriana maupun Desy lagi. Keduanya sama-sama toxic. Ia tidak menyangka dendam Adriana pada Clara akan sebesar itu. Sungguh tega Adriana menusuk Clara. Ia ingat bagaimana Edward menangisi Clara yang tidak sadarkan diri saat itu. Ia sempat tidak mau melepaskan Clara dari gendongannya. Untung saja ia dan Calvin bisa membujuknya jika Clara masih bisa diselamatkan. Waktu itu adalah pertama kalinya mereka melihat Edward hancur seperti itu.


Tadi siang ia sempat menghubungi Alena untuk menanyakan kabar terbaru tentang Clara. Jawabannya masih sama. Belum ada tanda-tanda siuman. Yang ia cemaskan saat ini adalah Alena. Ia sedang hamil besar. Ia selalu protect padanya. Tapi dengan kejadian ini, ia menyerah. Clara adalah adiknya. Tidak mungkin ia melarang Alena untuk mengunjungi Clara. Langkahnya dipercepat. Ia berharap ada kabar baik sore ini. Ketika berada dilorong, ia melihat neneknya dan Alena sedang duduk diruang tunggu yang ada didepan ruang ICU.


Ia duduk disamping Alena dan memegang tanganny "Gimana Clara?"


"Masih belum sadar. Kondisinya masih kritis." jawab Alena tenang. Ia menatap Dave. "Gimana tadi?"


"Udah beres. Aku serahin sama pengacara. Kamu tenang aja. Mereka gak bisa sakitin keluarga kita lagi." ucap Dave.


Iapun berdiri dan melihat Clara dari balik kaca pintu. Ia melihat Edward tidak pernah beranjak dari duduknya. Ia terlihat terus memegang tangan Clara yang terbaring tak berdaya. Iapun memutuskan untuk masuk kedalam ruangan.


Dave memegang pundak Edward sambil menatap Clara yang masih pucat. "Ed, kamu juga harus istirahat."


Edward mempererat pegangan tangannya pada Clara. "Enggak. Aku takut pas aku tinggalin, ada apa-apa sama Ara."


"Tapi kamu gak bisa menyiksa diri. Ada aku, Alena sama nenek disini. Kamu bisa istirahat dulu."


"Aku gak mau. Gara-gara aku semuanya jadi kayak gini." elak Edward.


Dave menghela nafas. Wajar saja Edward seperti itu. Mereka telah mengalami berbagai kejadian buruk. Apalagi Clara. Iapun memutuskan keluar kembali. Percuma menyuruh Edward untuk beristirahat. Ia tidak akan mau.


Dave pun meninggalkan Edward dan memilih kembali keluar bersama istri dan neneknya. Ketika baru saja membuka pintu, ia melihat ibunya Edward ada diluar. Ia sedang berbicara dengan neneknya.


"Tante.." panggil Dave.


Ami menoleh pada Dave dan berdiri. "Gimana Clara?"


Dave menatap Ami. Wanita itu terlihat masih shock. Ya, ia menjadi saksi bagaimana wanita itu menusuk perut Clara didepannya. "Masih belum sadar, Tante.."


Ami menunduk. "Kalo waktu itu Tante gak menolak Clara, kejadiannya gak akan kayak gini."


"Enggak Tante, jangan menyalahkan diri Tante. Penusukan yang terjadi pada Clara itu pure balas dendam Adriana. Semuanya gak ada yang salah disini. Kita semua gak pernah kepikiran sampe kesana. Kita pikir Adriana gak akan melakukan hal itu." jawab Dave.


Ami melangkah untuk melihat Clara dibalik pintu. Ia melihat Edward sedang memegang tangan Clara. Ia tersentuh dengan keteguhan hati anaknya.


"Lebih baik Tante masuk kedalam. Edward belum istirahat sejak Clara pindah kamar. Kalau nanti Clara bangun, bisa-bisa Edward yang gantian sakit. Tolong Tante kasih tahu Edward, setidaknya dia harus istirahat." ucap Alena yang ikut berdiri.


Ami menatap Alena. "Kalian orang baik. Maafin Tante yang udah salah."


"Gak apa-apa Tante. Setelah semua kejadian ini, kita harus mendukung mereka. Alena harap Clara bisa siuman lebih cepat." ucap Alena.


"Iya. Kalo gitu tante masuk dulu." ucap Ami.


Edward menatap jarum infus yang tertancap di lengan Clara. Tubuh wanitanya lemah. Ia tidak sanggup meninggalkan wanita ini apapun yang terjadi. Ketika kemarin Clara kehilangan kesadarannya, ia sangat takut. Apa yang dikhawatirkannya akan terjadi. Untung dokter yang menangani Clara merupakan dokter hebat. Alena mengatakan untuk percaya pada mereka. Dan itulah yang terjadi, mereka yang menyelamatkan Clara walaupun saat itu Clara harus kehilangan banyak darah. Ia hanya tinggal menunggunya untuk sadar.


"Ed.. kita pulang." ucap Ami yang sudah berada dibelakangnya.


Edward tidak mau berbalik. Ia terus memegang lengan Clara. "Aku gak mau ma. Aku mau tetap disini sampe Clara sadar."


"Mama takut kamu sakit."


"Edward kuat. Edward gak mungkin sakit. Demi Clara, Edward akan kuat." ucapnya tegas.


Ami memegang rambut Edward dan merapikannya. "Oke, mama akan percaya sama kamu. Ed.. Sasha dan orangtuanya pulang ke Singapura pagi ini. Mereka titip salam sama kamu. Mereka berharap yang terbaik untuk kalian."


"Nanti aku telepon mereka ma.."


Ami menatap tubuh lemah Clara dan menghampirinya. Ia membelai rambut Clara. "Maafkan mama, Clara. Kamu anak baik. Cepatlah sadar. Kasian Edward." bisik Ami.


Edward langsung memeluk ibunya. Ia terisak. "Edward takut kehilangan Clara, ma."


Ami menepuk bahunya. "Gak akan, nak. Clara gadis kuat. Dia akan sembuh. Kamu harus sabar."


Lama Edward terdiam dalam pelukan ibunya. Ketakutan akan kehilangan seseorang sedang dialami anaknya.


"Kalo gitu mama pulang. Kamu jangan lupa makan. Mama harap setelah Clara sehat, kalian akan cepat menikah. Mama yang bertanggungjawab semuanya." ucap Ami ketika ia melepaskan pelukannya. Edward hanya mengangguk.


**************************************


Edward membuka gorden kamar perawatan Clara. Sudah empat hari ia belum membuka matanya. Kemarin ia telah dipindahkan dari ruang ICU ke kamar biasa karena Clara sudah menunjukkan hasil positif. Ia hanya menunggu untuk Clara membuka matanya.


Iapun duduk disamping Clara dan memegang tangannya.


Tidak ada jawaban dari Clara.


Iapun berbisik kembali. "Sayang, kamu kurusan kalo sakit gini. Cepet bangun, aku mau ajak kamu makan banyak. Kamu inget kan tom yam kesukaan kamu? Aku udah nemu restorannya. Cepet bangun!"


Terdengar suara tersedak Clara . Edward langsung melihat Clara. Ia sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Kamu mau bikin aku gemuk biar aku gak cantik lagi?" ucapnya. Itu adalah ucapan pertama kali Clara setelah ia siuman.


"Sejak kapan kamu sadar?" tanya Edward bengong.


Clara mencoba untuk bangun tapi sulit karena ia harus memegang lukanya. "Sejak kamu pergi buat buka gorden." Iapun bangun dibantu Edward. Ia sesekali meringis. "Aku gak cantik kan?" tanya Clara kembali.


Edward mencubit pipi Clara. "Baru siuman langsung bisa bercanda ya.."


"Eh,,lepas... kamu cubit pasien. Aku laporin sama dokter nanti."


Edward tertawa senang. Ia langsung memeluk Clara tanpa menghiraukan kesakitannya. Ia terlalu senang. Beberapa hari ia merindukan senyum itu. Ia merindukan semuanya tentang Clara. Ia sempat terkejut ketika melihat Clara bangun setelah tidur panjangnya. Ia memang wanita kuat. Ia tidak terlihat kesakitan sedikitpun.


"Jangan pernah sakit lagi." ucap Edward serius.


"Aku juga gak mau. Tapi aku juga mau minta sama kamu." jawab Clara.


"Apa?"


"Jangan pernah menikah sama orang lain selain aku."


Edward tersenyum dan mempererat pelukannya. "Gak akan mungkin. Cuma kamu yang mau aku nikahi. Pernikahan yang hampir terjadi kemarin semuanya kesalahan aku yang gak sabar menghadapi kamu. Maafin aku."


"Aku maafin kok." jawab Clara pendek.


Edward langsung mengecup dahi Clara. "Setelah kamu sembuh seutuhnya, kita harus langsung merencanakan pernikahan. Kamu janji sama aku. Kita jangan menunda lagi."


Clara mengangguk sambil tersenyum. "Apa aku bisa menolak?"


Edward tersenyum. Tidak ada pasien yang baru sadar langsung bisa bercanda seperti Clara. Ia memang gadis yang luar biasa.


Dua bulan kemudian.


Bi Sumi memegang tangan Clara yang sedang dibawa ke tempat acara. Akhirnya hari ini tiba. Tugasnya sudah selesai. Ia menatap Clara dari atas ke bawah. Tiba-tiba ia terganggu untuk mengatakan sesuatu.


"Non.. cincin yang bibi kasih ke kamu minggu lalu gak dipake?"


"Cincin mama? Ini dipake." jawabnya sambil mengangkat tangannya. Tapi ia terkejut ketika tidak melihat cincin itu disalah satu jarinya.


"Ketinggalan Bi!" ucapnya panik.


"Biar bibi yang cari. Non Clara sebentar lagi nyampe."


Clara berlari dengan memakai gaun pengantinnya. Ia berlari beberapa menit sebelum ia dibawa ke tempat pernikahan. Ia melupakan cincin peninggalan mamanya. Ia terus berlari dan menghiraukan panggilan orang-orang disekitarnya. Bahkan bi Sumi ikut berteriak.


Ia membuka pintu ruangan yang ia pakai untuk berias diri dengan kencang. Ia mulai mencari ke beberapa sudut ruangan. Hany berselang beberapa menit pintu terbuka kembali dengan kencang. Edward datang dengan keringat di wajahnya.


"Kenapa?" tanya Edward panik


"Cincin mama gak ada dijari aku." jawab Clara panik.


Edward menggelengkan kepalanya. "Tadi kamu simpen dimana?"


Tiba-tiba Clara berbalik dan tersenyum malu. "Aku lupa. Cincin nya kan ada di apartemen. Aku tinggalin karena takut ilang."


Edward langsung berjalan cepat dan mengangkat tubuh Clara diatas bahunya. "Dasar cari masalah! Suka banget cari masalah. Awas kalo kamu ganggu lagi. Acaranya harus beres dulu, baru kamu boleh cari masalah."


Clara tertawa. Ia memukul punggung Edward. "Turunin Ed. Aku malu."


"Enak aja! Hari ini kamu udah bikin aku shock." Ucap Edward.


Iapun memasuki ruangan dimana tamu-tamu sudah menunggu mereka untuk melakukan pernikahan. Tidak ada yang melakukan pernikahan dengan kedua pengantin datang bersama-sama. Tidak ada yang melakukan pernikahan yang menolak semua prosesi acara. Hanya Edward dan Clara yang menolaknya. Tapi mau bagaimana lagi, mereka lebih baik kabur daripada melakukan beberapa prosesi. Semua ide Ami yang sudah disiapkan dua bulan ini hancur oleh tingkah mereka berdua. Tapi kali ini ia tidak akan marah lagi. Mereka bebas berbuat apapun. Mereka telah berbahagia atas keinginannya.


END