Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Perbincangan



Clara membuka matanya perlahan, cuacanya begitu dingin pagi ini. Ia menarik kembali selimutnya dan kembali menutup matanya. Ia ingin bermalas-malasan karena hari ini ia berulang tahun. Panggilan telepon dari Edward semalam sudah cukup membuatnya bahagia. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Clara masih enggan untuk membuka matanya. Dari langkah kakinya, ia tahu jika Bi Rumi akan membangunkannya. Clara melirik sekilas. Bi Rumi ternyata menghampiri buket bunga yang ia terima semalam. Ia membawa vas bunga ukuran besar.


"Non, gak akan bangun? Udah siang. Tadi ada telepon dari Ibu Dega, nanti siang mau mampir kesini." ucap Bi Rumi tanpa melihat Clara karena sedang sibuk memasukkan bunga ke dalam vas.


Clara bangun dan melihat Bi Rumi. "Jam berapa Kak Dega kesini?"


Bi Rumi membalikkan badannya. Ia tersenyum. "Mungkin jam 11an. Oh ya, selamat ulang tahun ya non. Mudah-mudahan semuanya membaik seperti semula."


Clara turun dari tempat tidur dan menghampiri Bi Rumi. Ia memeluk wanita itu dari belakang. "Makasih bi, kalo gak ada bibi aku sendirian. Makasih karena bibi selalu ada disamping Ara." bisiknya.


"Bibi berdoa kebahagiaan semua keluarga."ucap Bi Rumi tenang. Matanya berkaca-kaca.


"Bi, kalo aku nikah sama Edward, bibi jangan pergi ya. Bibi masih harus jaga aku sama anak aku nanti." ucap Clara tanpa melepaskan pelukannya.


"Edward pria baik. Bibi langsung setuju pas tau dia pacar non Clara." ucap Bi Rumi.


Clara melepaskan pelukannya. "Iya, sampai bibi mau aja disuruh beli bunga sebesar itu."


Bi Rumi hanya tersenyum. Ia kembali merapikan bunga-bunga itu. "Bibi senang melakukannya." ucapnya pendek.


Di lain tempat


Selagi Ami sedang membereskan meja makan, ia sesekali melihat Edward yang sedang duduk di meja makan . Ia terlihat gugup. Sebenarnya ia sedikit terganggu dengan tingkah Edward yang sejak tadi siang mengikutinya kemanapun ia pergi. Ia seperti anak kecil. Ia melirik kembali sekilas. KiniEdward terlihat gelisah. Apakah karena pertemuannya dengan Sasha tadi? Mereka sempat berbincang berdua di halaman belakang. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan.


"Sasha cantik ya Ed" ucap Ami tanpa melihatnya.


"Mama cantik juga." jawab Edward santai. Entah kenapa, ia merasa ibunya sedang menggodanya.


"Mama lagi ngomongin Sasha. Gimana menurut pendapat kamu?" tanya Ami. Kini Ia duduk didepan Edward dan menatapnya serius Ia yakin ada yang akan disampaikannya.


"Sasha?" Tanya Edward. Ia berfikir sejenak. "Smart dan cantik"


"Kamu suka? Kamu mau mama jodohkan sama Sasha? Mama liat Sasha anak baik. Pendidikan dia tinggi. Dia baru aja lulus S3 di Inggris. Kamu aja kalah" ucap Ami bersemangat. Ia menatap Edward yang terkejut. Iapun menambahkan. "Keluarga Sasha bukan keluarga buruk. Keluarga kita udah kenal mereka dengan baik. Sudah waktunya kamu menjalin hubungan dengan perempuan. Daripada kamu ganti-ganti pacar terus. Lebih baik kamu menikah kan."


Edward membunyikan jari tangannya. "Nah, untuk itulah anakmu ini datang kesini. Aku berencana buat menikah. AKu mau minta mama sama papa melamar gadis pujaan Edward.ucapnya sambil tersenyum senang.


Ami tersenyum. "Bagus. Dengan Sasha?" tanyanya.


"Clara? Clara siapa? Siapa keluarganya?" ucap Ami terkejut.


"Makanya mama harus ketemu dulu." seru Edward.


"Ada apa ini?"tanya Andi ketika ia memasuki ruang makan dengan ember berisi pancingan ditangannya.


Ami menatap suaminya yang baru tiba. "Pah, Edward minta menikah."


"Bagus. Setidaknya dia masih punya tanggung jawab untuk masa depan dia."ucap Andi tenang. Iapun menatap Edward. "Kita masih ada pembicaraan penting." ucapnya serius sambil berjalan ke dapur. Edward dan ibunya menunggu ayahnya untuk melanjutkan perbincangan mereka di meja makan.


Ayahnya kembali setelah menyimpan ember di dapur. Ia memegang ipadnya dan duduk didepan Edward. Wajahnya tiba-tiba berubah. Tidak seperti tadi ketika ia akan pergi memancing. Begitu pula dengan ibunya. Edward menatap  wajah kedua orangtuanya yang tegang. Rasanya aneh, mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apakah karena ia meminta untuk menikah? Ayahnyapun kini terlihat sedang memegang cangkir berisi kopi. Sedangkan ibunya sedang menatapnya tajam. Tiba-tiba ayahnya berdeham. Edward langsung bersiaga.


"Kamu tahu kalau perusahaan kita mengalami defisit parah?"  tanya Andi tajam.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ayahnya akan membicarakan masalah perusahaan disaat ia meminta sesuatu yang lain. "Papa dapat laporan dari mana?" tanya Edward panik.


"Kamu tanya papa dapat laporan dari mana?"tanya Andi kesal. "Setiap bulan papa dapat laporan langsung. Jangan aneh kamu!" tambahnya sambil menyimpan ipadnya dengan kencang.


Edward tersenyum malu."Ya, sedikit defisit." jawabnya..


"Kalau perusahaan belum untung, jangan berani kamu datang kesini untuk meminta kami melamarkan seseorang buat kamu. Papa udah kasih kesempatan sama kamu buat nerusin perusahaan papa karena papa percaya sama kamu. Jadi kerja kamu apa aja? Kalo defisit terus, papa yang ambil alih lagi perusahaan" ucap Andi marah. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.


Ami menatap Edward. "Sejak kapan kamu gak fokus, Ed? Apa karena wanita yang mau kamu nikahi itu?" tanyanya.


Edward menggelengkan kepalanya. Padahal sejak bertemu dengan Clara, ia memang tidak fokus di perusahaan. Beberapa pekerjaannya bahkan terbengkalai. Beberapa pekerjaan terjadi kesalahan fatal. Tapi ia selalu menutup mata. Kali ini ayahnya sudah mengetahui masalah di perusahaannya. Lalu bagaimana dengan niatnya untuk menikahi Clara?


"Ma, jadi gimana? aku dateng kesini karena aku mau minta mama ngelamar Clara." bisik Edward


"Bawa Clara kesini. Nanti mama menilai. Apa wanita itu pantas buat kamu? Tapi mama kecewa, padahal mama suka sama Sasha." ucap Ami kecewa.


Edward memegang tangan ibunya dengan erat. "Ma, secantik atau sebaik apapun Sasha, tetep gak bisa gantiin Clara di hati aku. Aku cuma mau Clara. Bukan yang lain. Nanti kalau Clara udah ketemu mama sama papa, kalian pasti langsung suka."


"Oke, kalo gitu bawa kesini secepatnya." ucap Ami. Pembicaraan itu selesai. Edward tinggal mencari waktu yang tepat untuk membawa Clara menemui orangtuanya. Kemarahan ayahnya akan ia anggap sebagai tantangan. Ia memang bersalah karena tidak fokus pada perusahaannya. Beberapa karyawan telah menggunakan kepercayaannya dan ia menutup mata padahal ia tahu jika itu salah. Sebelum ayahnya kembali ke perusahaannya, lebih baik ia pulang malam ini.