Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Shock Therapy



Desy membuka catatan perusahaan miliknya yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi. Beberapa waktu yang lalu ia mendapatkan kabar dari perusahaannya jika beberapa pemilik saham akan menjual saham mereka kepada orang lain. Ia sendiri harus melihat saham miliknya. Selama pembacaan warisan belum terjadi, ia masih menganggap saham milik suami dan anaknya adalah saham miliknya. Jika ia menjual saham milik suaminya, ia bisa mendapatkan keuntungan yang sangat banyak karena menurut data yang ia baca, perusahaannya dapat menjual lembaran saham dengan harga mahal.


"Sayang kamu pergi, Adri. Kamu gak mau menikmati harta aditya? Kalo kamu gak mau, biar buat mama aja. Mama mau keliling dunia. Mama gak peduli apapun omongan orang-orang. Selama mama punya uang, mama happy." ucapnya senang.


Beberapa hari yang lalu ia mendapati Adriana pergi dari rumahnya. Ia tidak melakukan apa-apa untuk mencarinya. Ia pikir Adriana akan memiliki sifat seperti dirinya. Ia akan kembali nanti. Ia akan menunggunya.


Mobil yang digunakannya adalah mobil SUV terbaru yang baru saja datang seminggu yang lalu. Ia baru beberapa kali memakainya hanya untuk bertemu dengan teman-teman arisannya. Kali ini ia menggunakan kembali karena ada arisan disebuah mall terbaik di kotanya. Untuk hari ini, ia akan melupakan sejenak masalah yang dibuat oleh pengacara si**an itu. Bukti mereka tentang faktur fiktif itu tidak akan terbukti apa-apa. Hari ini ia hanya akan bersenang-senang mengingat ia akan menjual saham milik Aditya.


Iapun turun dari mobil dan membiarkan petugas yang memparkirkan kendaraannya. Ia berjalan dengan angkuhnya ketika memasuki mall. Baru beberapa langkah menuju lift, ia terkejut melihat seseorang yang ada di hadapannya. Ia terlihat baik-baik saja. Bukankah ia sudah meminta mereka untuk menghabisinya pelan-pelan?


Clara tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu di mall. Ia baru saja pulang dari salon karena Edward akan tiba sore ini. Ia ingin tampil cantik didepannya. Tapi ada yang lebih menarik dari Desy kali ini. Ia menatap wanita itu secara keseluruhan. Perhiasan yang ia pakai adalah perhiasan miliknya. Apakah ia tidak merasa malu? Terdengar olehnya di belakang wanita itu ada beberapa orang yang memanggilnya. Mereka semua tak jauh beda. Padahal usia mereka sudah tidak muda lagi. Ia tersenyum jahil. Ia sudah bukan Clara yang dulu lagi. Dulu ia memang keras, tapi sekarang ia jauh lebih keras.


"Mama..." panggil Clara. Ia sengaja berlari menghampiri Desy yang masih shock ketika melihatnya. Ia langsung memegang lengannya dengan erat. "I miss you, ma"


Desy tidak bisa bergerak. Ia panik apalagi beberapa temannya yang datang menghampirinya. Ia tidak bisa menghindar kali ini.


"Siapa ini Desy? Anak kamu?" tanya seorang wanita yang memakai dress sexy dan mengumbar dadanya. Clara ingin muntah ketika melihatnya.


"Iya tante, saya anaknya mama Desy." jawab Clara.


Wanita yang lain memegang wajah Clara. "Kamu cantik sekali, tapi kenapa gak ada mirip-miripnya sama mama kamu?"tanya wanita satumya yang memakai pakaian lebih sopan.


Desy gugup. "Ini anak dari almarhum suami aku." jawabnya.


"Pantesan gak mirip." jawab wanita itu.


"Kalo gitu kita ajak aja ke arisan kita. Siapa tau dia bissa jadi penerus kamu." ucap wanita berpakaian sexy.


"Enggak kok ma, aku gak akan pergi. Aku ikut mama aja." rengek Clara.


"Kamu ikut aja. " Ucap wanita itu sambil menarik lengan Clara. Desy yang ada dibelakangnya menggeram marah. Tidak mungkin ia memberikan peringatan pada gadis itu didepan teman-temannya. Ketika semua sudah selesai, ia akan minta pertanggungjawaban orang-orang itu. Kenapa Clara masih bisa berkeliaran dengan tenang?


Clara bisa merasakan sorot tajam wanita itu padanya. Ini baru permulaan. Ia akanĀ  memberikannya kejutan yang sebenarnya pada wanita itu. Sayangnya polisi baru saja melakukan pengumpulan bukti sebelum melimpah ke penyidikan, Itu yang dikatakan Dega kemarin. Ia harus menunggu sampai wanita itu digiring oleh polisi. Ia mengangkat wajahnya dan menatap tajam wanita itu. Ia terlihat tidak bisa berkutik. Clarapun bangun dari duduknya. Ia berbisik pada Desy. "Ini baru permulaan, mama. Akan ada yang jauh lebih menarik dari hari ini."


Desy menggeram marah. Ia memegang lengan Clara erat. "Jangan macam-macam kamu! Kamu harus nya udah mati."


Clara tersenyum. "Sayangnya Tuhan masih sayang sama aku." bisiknya sambil berjalan keluar.


Desy benar-benar marah. Anak itu membuatnya ingin segera menghabisinya.


"Aku pulang duluan ma..." ujar Clara sambil melambaikan tangannya.


Ketika keluar dari restoran itu, dua orang pria berpakaian hitam-hitam muncul. Mereka adalah bodyguard setia yang dikirim nenek Siska untuknya. Untuk itulah ia berani pergi ke mall karena ada yang menjaganya, Tidak disangka ia bisa menemukan mainan yang selama ini ia cari. Karena wanita itulah ia harus kehilangan ayahnya. Karena wanita itulah kakaknya harus kehilangan bayinya. Perlahan kebahagiaan orang-orang yang disayanginyanya dirampas oleh wanita itu hanya karena wanita itu gila harta. Ia semakin bersemangat mengingat keterkejutan wanita itu.


Tiba-tiba handphonenya bergetar.


"Halo." jawab Clara


"Kamu dimana sayang?" tanya Edward ketika ia sampai di villa. Ia kecewa tidak dapat menemukan wanita itu di villa nya.


"Aku lagi pulang ke villa. Tunggu aku." jawab Clara senang.


Clara pun berjalan ke parkiran bersama dua bodyguardnya. Ia sudah menyiapkan diri dengan ke salon. Entah kejutan apa yang Edward siapkan untuknya. Rasanya kebahagiaannya dapat segera ia raih.