Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Wedding Dave p. 1



Clara duduk disudut sebuah sebuah ruangan. Ia melihat Alena yang sedang didandani karena hari ini adalah hari bahagianya. Ia melihat sahabat Alena. Firly. Sejak semalam mereka selalu bersama. Ia semakin iri pada kakaknya. Kakaknya memiliki sahabat yang selalu ada kapanpun ia dibutuhkan. Ia mengenal Firly sejak ia pindah kerumah kakaknya. Menurutnya Firly adalah orang yang sangat baik. Sejak tiga hari yang lalu ia tinggal dengannya. Ketakutannya pada kedua orang itu akan mengancam saudaranya. Untuk itulah mereka berfikir untuk mengamankan Clara hingga ia siap untuk bertemu dunia luar. Begitu pula dengan Siska. Siska memiliki ikatan dengan Alena. Akan jauh lebih mudah bagi Desy untuk menemukan Clara. Mereka harus mencari orang lain untuk menjadi perlindungan Clara. Hari ini adalah pertama kalinya ia melihat dunia luar. Ternyata ia dan kakaknya tinggal di kota yang berbeda. Pantas saja ia kehilangan jejak ibu dan kakaknya. Ia tidak tahu sedikitpun tentang kota ini.


Clara termenung. Ia merasa harus cepat pulih. Ia berharap malam ini akan bertemu dengan pengacara ayahnya. Ia pasti sangat khawatir. Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahunya. Ia sedikit terkejut ketika melihat Firly datang dengan seorang wanita lain. Wanita itu sama-sama cantik. Ia terlihat lebih anggun dan tangguh. Ia tersenyum padanya.


"Temen Alena ya? Katanya baru pulang dari jepang?" tanya wanita itu. Ia mengulurkan tangannya. "Aku Cassandra. Tapi panggil aku Sandra aja."


Clara mengangguk sambil tersenyum. "Clara." ucapnya.


"Kapan datengnya? Kenapa Alena gak pernah cerita punya sahabat lain selain Firly?" tanya Sandra sambil menatap Firly.


"Tanya sendiri orangnya." ucap Firly.


"Aku takut Clara digoda sama temen-temen kita. Kamu tau sendiri kalo mereka playboy semua." ucap Alena setengah berteriak. Karena ia berada beberapa meter dari mereka.


"Maksudnya sisa dari Dave? Kedua orang itu? Jangan khawatir Al, Calvin aku Iket. Gak tau yang satunya.." jawab Sandra sambil tertawa.


Firly langsung berdiri didepan Clara. "Clara aman sama aku. Gak akan ada laki-laki yang ngegodain dia." ucapnya bersemangat.


Clara hanya tersenyum. Ketiga orang itu termasuk kakaknya adalah orang yang menyenangkan. Jika seperti ini, seharusnya ia bertemu dengan kakaknya sejak dulu. Ia pasti tidak akan mengalami kejadian seperti sekarang.


"Halo.." jawab Edward tergesa-gesa.


"Sayang, kalo udah beres sama acara temen-temen kamu, kamu nyusul aku ya. Aku ada dihotel sama mama aku." ucap Adriana manja.


Beberapa mobil yang menghalanginya, disingkirkan dengan cepat olehnya. Ia terus menatap jam tangannya. Masih ada waktu 20 menit lagi sampai pesawat take off. Tadi siang ia mendapatkan telepon dari Dega. Wanita itu selalu saja membuatnya kesal. Perlakuan Dega padanya melebihi perlakuan ibunya padanya. Ibunya saja tidak peduli padanya, Dega yang merupakan kakaknya bertindak melebihi ibunya padanya. Ia terlalu protect. Tapi ia tidak berkomentar tentang perjalanan cintanya. Ia tidak mau ikut campur.


Sesampainya di bandara, ia berlari menuju terminal keberangkatan dengan cepat. Masih ada 10 menit lagi sampai pesawat take off. Ia melewati beberapa penjagaan dengan lancar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di pernikahan Dave. Hanya saja ia merasa akan ada sesuatu yang besar dan tentu saja akan melibatkannya. Dan ia akan siap apapun yang terjadi. Entah itu mengenai Calvin, Dave ataupun dirinya.


Ia berlari menuju pesawat sesaat sebelum landas. Wajahnya berkeringat. Ia menatap jamnya. Dua jam perjalanan menuju Indonesia dan satu jam perjalanan menuju tempat pesta akan cukup. Ia akan tiba di tempat pesta tepat pada waktunya. Pakaian ganti sudah disiapkan oleh Sandra. Ia hanya tinggal menggantinya di sana. Jika melihat dirinya, ia tidak membawa apa-apa selain dompet dan tiket pesawat. Ia tidak membawa tas lain.


"Finally..." ucapnya pelan sambil menyandar di kursi pesawat. Ia melihat beberapa penumpang tertidur. Ia mengangkat tangannya dan meminta air pada pramugari. Beberapa jam yang melelahkan.


Ketika sampai di bandara, ia langsung mendapatkan telepon dari Calvin.


"Apa?" tanya Edward santai.


"Dimana?Udah nyampe bandara?" tanya Calvin.


"Awas kalo gak dateng. Aku tungguin." ucap Dave dengan nada mengancam.


Edward tertawa "Aku di bandara, on the way sana."


"Oke, kita tunggu." jawab Calvin.


Mendengar nada Dave berbicara, ia terdengar gugup. Edward menunduk sambil tersenyum Ia mengingat bagaimana perjalanan cinta antara Dave dan Alena kala itu. Teringat pula ketika mereka berada di Amerika untuk urusan bisnis. Dave terciduk sedang menelpon mesra pada Alena. Hati seseorang tidak akan ada yang tahu. Satu playboy telah menemukan tambatan hatinya. Begitu pula Calvin dan Sandra yang saat ini masih munafik pada perasaannya masing-masing. Tinggal dirinya yang akan menemukan tambatan hatinya. Tapi pada siapakah hatinya akan berlabuh? Adriana? Entahlah. Ia tidak pernah memikirkan Adriana untuk sampai ke pernikahan. Ia menaiki taxi dan mulai melaju menuju tempat pesta Dave dan Alena.