
Ketika malam menjelang, Clara keluar dari villanya untuk menemui wanita itu. Ia membawa uang yang isinya tidak sesuai permintaan didalam tas jinjing. Sebelum pergi, ia mendapat telepon jika Om Sakti dan beberapa polisi sudah berada di tempat ia dan wanita itu bertemu. Selain itu, iapun akan diikuti dari belakang dengan jarak sedikit jauh, namun keahlian polisi tidak akan membuatnya kehilangan jejak. Jauh didalam hatinya, ia merasa ketakutan. Namun ucapan Om Sakti menguatkannya. Tidak ada yang tahu tentang kejadian malam ini termasuk kakaknya. Hanya Om Sakti yang tahu. Ia tidak mau semua orang khawatir. Termasuk Edward. Ia merasa egois.
Clara melihat kaca untuk melihat sebuah mobil yang mengikutinya. Bukan satu mobil, tapi dua mobil. Ia yakin salah satu mobil itu adalah polisi. Jantung Clara berdetak kencang. Kedua tangannya yang memegang kemudi gemetar. Keringat dingin mulai keluar dari dahinya. Belakang bar itu merupakan jalan sempit yang hanya bisa dilewati oleh tiga orang saja. Iapun memarkirkan mobilnya tak jauh dari jalan itu. Ia melihat jam tangannya. Sudah pukul 11 malam. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ia melihat Edward menghubunginya. Ia membiarkan handphonenya terus berbunyi dan meninggalkannya di mobil. Ia keluar sambil membawa tas. Jalanan begitu gelap. Dan udara malam ini terasa lebih dingin. Ia terus berjalan memasuki jalan sempit itu. Ia melihat satu buah tiang listrik yang menerangi jalan sepanjang itu. Kakinya terasa gemetar. Ia mulai merasakan kehadiran orang-orang yang mengikutinya dari belakang.
Iapun berhenti dibawah tiang listrik dan melihat kedua pria yang kini berada disampingnya. Mereka menggunakan topi dan pakaian berwarna hitam-hitam. Ia menutup matanya. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan mengalami hal seperti ini lagi. Ia menundukkan kepala dan menutup matanya. Ia memegang dengan erat tas itu. Terdengar suara high heel dan langkah kaki menghampirinya. Ia belum mau mengangkat kepalanya hingga wanita ada didepannya.
"Halo, sayang." ucap wanita itu.
Clara mengangkat kepalanya dan melihat wanita itu. Ia bersama empat orang pria yang menggunakan pakaian hitam-hitam pula. Wanita itu memakai pakaian sedikit mencolok. Bibirnya berwarna merah cerah. Ia menatapnya.
"Pastikan berita itu hilang." ucap Clara tajam.
"Pasti"Jawab wanita itu.
Clara melihat wanita itu menelpon seseorang. "Halo, beritanya jangan ada lagi di televisi, youtube atau media sosial manapun. Oke, nanti kita bahas lagi." ucapnya.
Clara mengerutkan keningnya. Ia masih menggenggam tasnya.
Wanita itupun mengangkat tangannya. "Mana uang yang kita minta?" tanyanya.
Clara memberikan tas itu dengan tangan bergetar. Tiba-tiba ia mendengar suara tembakan yang mengarah pada salah seorang pria itu. Clara menjerit ketakutan. Ia berjongkok dan menutup telinganya karena takut.
"Simpan tangan kalian dibelakang! Kalian sudah kami kepung!" teriak salah seorang. Clara merasakan ada beberapa orang yang muncul dari bangunan atas.
Wanita itu menggeram marah. "Penipu! Kita udah bilang jangan bawa siapapun! Kamu cari mati!" teriaknya. Ia menarik rambut Clara hingga ia terjatuh dan menyeretnya. Clara menjerit ketakutan.
"Lepaskan korban!" teriak salah seorang polisi.
"Jangan harap! Wanita ini akan mati!" teriak wanita itu. Ketika Clara melihat wanita itu dengan tubuhnya yang diseret, ia melihat wanita itu membawa sebuah pisau. Ia menangis ketakutan. Ia hanya menatap para polisi yang sedang berusaha menyelamatkannya. Tiba-tiba wanita itu menjerit dan melepaskan tangan yang menjambaknya. Ia bangun dan mencoba berlari. Namun ketika ia berlari beberapa langkah. Ia merasakan pundak kanannya perih. Ia memegangnya dan merasakan tangannya basah. Ada sesuatu yang menancap di pundaknya.
Clara melihat Om Sakti berlari menghampirinya. Wajahnya pucat. Ia memegang kedua bahunya. "Clara, clara, jangan banyak bergerak." ucap Sakti cemas.
Clara memegang pisau yang menancap di pundaknya dan menariknya dengan kencang, Ia berteriak kesakitan. Ia menatap wajah orang yang paling berjasa untuknya sambil menangis. Ia merasakan darah mulai keluar. Ia memegang pundaknya. "Om.. aku gak apa-apa." bisik Clara. Ia membalikkan wajahnya ke belakang dan melihat wanita itu telah ditekuk oleh kedua orang polisi berpakaian preman. Ia menghela nafas lega. Akhirnya ia selamat.
********************************************************************************
"Clara, kakak kamu harus tau apa yang terjadi sama kamu. Kamu gak bisa melakukan semuanya sendiri." ucap Sakti yang ada didepannya.
"Om, aku gak mau buat kakak khawatir. Gara-gara aku dia kehilangan bayinya. Aku bisa kok ngelakuin semuanya sendiri. Yang penting orang itu dan anak buahnya udah dalam jangkauan polisi. Aku bisa kerja normal lagi. Semuanya akan membaik. Desy udah sidang juga. Jadi aku udah gak perlu khawatir." jawab Clara sambil tersenyum.
Sakti menatap Clara lama. Ia tidak terlihat kesakitan ketika suster sedang menjahit lukanya. Tidak pernah ia menemukan seorang gadis yang mentalnya sekuat Clara. Setelah semuanya selesai, Clara dibawa keruangan untuk dirawat. Kaki dan tangannya terluka karena diseret tadi.
"Om, aku gak apa-apa. Gak usah khawatir. Besok pagi aku pulang kok." ucap Clara. Ia melihat pria itu terus menatapnya khawatir.
"Clara, kalau kamu pegang pekerjaan kamu tanpa ada om, apa bisa?" tanya Sakti tiba-tiba.
Clara tersenyum. Sejak perusahaan dipegang olehnya, pria didepannya ini memang tidak pernah beristirahat sekalipun. Ia memegang tangannya. "Om mau pulang?"tanyanya.
"Ya, Om harus pulang dulu karena putri Om akan menikah bulan depan." jawab Sakti berat.
"Om, aku ijinin Om buat pulang. Terimakasih untuk semua yang udah Om berikan. Perhatian Om melebihi perhatian papa sama Clara. Kadang Clara berfikir, apa mungkin papa sedang menempati tubuh Om?' tanya Clara sambil tersenyum sedih.
"Om akan kembali secepatnya." Ucap Sakti.
Clara menggelengkan kepalanya. "Om, udah waktunya Om beristirahat. Mulai saat ini Om harus lebih perhatian sama keluarga Om."
"Masalah penggabungan dua hotel itu.."
"Om gak usah khawatir. Nenek Siska udah menyiapkan semuanya. Clara gak akan kesulitan." ucap Clara sambil memegang tangan Sakti.
Sakti memeluk Clara. "Om udah anggap kamu sebagai anak om sendiri. Kamu harus jaga diri baik-baik. Mungkin Om gak pantas bicara seperti ini disaat kamu sedang terluka."
Clara melepaskan pelukan Sakti. "Lebih baik bicara sekarang daripada nanti. Sekarang, lebih baik Om pulang. Bi Rumi sebentar lagi datang kesini. Om harus istirahat. Om kan udah tua." goda Clara.
Sakti berdiri. "Oke, kalo gitu Om pulang dulu. Kamu jangan khawatir, Clara. Om baru pergi minggu depan." ucapnya sambil berjalan kepintu.
Clara tersenyum dan melambaikan tangannya. Pintupun tertutup. Ia mulai menitikkan airmata. Ia berbohong jika ia baik-baik saja. Ia sendiri. Bi Rumi bahkan tidak tahu jika ia sedang berada dirumah sakit. Ia mengambil handphonenya dan melihat panggilan dari Edward yang memenuhi notifikasi handphonenya. Teringat Edward, sama saja ia teringat ibunya. Ia menatap jari manisnya yang masih tersemat sebuah cincin. Ia mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya dan menatapnya lama.