Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Penolakan



Ami tengah bersiap-siap untuk pergi. Ia berharap Clara sudah kembali. Ia akan menemuinya hari ini. Ia yakin esok pasti ia akan sibuk dan akan sulit ditemui. Ia menunggu Edward dan suaminya pergi terlebih dahulu. Ia ingin melakukannya sendiri. Setelah memberikan sentuhan akhir di wajahnya, ia keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Ketika keluar, ia melihat sebuah mobil masuk dihalaman rumahnya. Ia melihat mobil itu dan menunggu. Siapa yang datang menemuinya?


Sasha keluar terlebih dahulu. Kemudian kedua orangtuanya keluar. Ia menghampiri mereka.


"Kamu gak kerja?" tanya Ami


"Sasha udah ijin sama Edy, Tante.. Hari ini Sasha libur karena papa sama mama dateng dari Singapura."


Ami menatap malas pada Sasha. Ia berkata sebentar dan mempersilahkan ketiganya masuk kedalam rumah. Ia menatap ketiganya.


"Ada apa kalian kesini?"


Wanita berkaca mata itu mulai berkata. "Tolong maafkan Sasha, Ami. Dia memang belum dewasa. Aku udah denger semuanya dari Sasha. Dia merasa bersalah karena info yang gak diketahui kebenarannya itu membuat hubungan kamu dan anak kamu retak. Kami tidak mengharapkan semua ini terjadi. Jadi tolong maafkan Sasha."


"Aku udah maafin Sasha. Jadi tolong jangan membahas ini lagi. Mereka berdua saling kenal sejak kecil. Aku anggap mereka berdua masih anak kecil. Edward masih harus aku nasehati. Aku sadar cara yang aku lakukan salah."


Sasha menundukkan kepalanya. Ia merasa tidak enak ketika melihat Ami. Ia menggenggam tangannya.


"Sasha!" panggil Ami.


"Iya Tante?"


"Tante ngomong ini didepan kedua orangtua kamu. Maaf kalo Tante sedikit keras. Tante harap kamu jangan pernah berharap Edward akan mencintai kamu. Lebih baik kamu menyerah mulai sekarang."


Sasha hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Ami.


Clara melihat kantornya yang baru. Ia senang sekali bisa bekerja dan dekat dengan kakaknya. Beberapa karyawan dari kedua kantor disatukan di gedung ini. Ia tidak bisa membayangkan betapa ramainya mereka.


Ia berjalan untuk melihat beberapa karyawan yang sudah berada di kursinya. Tidak semua karyawan datang karena hari ini mereka hanya membereskan mejanya. Begitu juga dengannya. Ia pergi sendirian ke kantor ini tanpa sepengetahuan kakaknya. Iapun masuk kedalam kantornya. Ia memegang papan nama dengan nama dirinya. Kemudian ia menghampiri lemari kaca yang berisi berkas-berkas penting perusahaan. Besok semua orang akan datang untuk peresmian gedung baru. Iapun kembali ke meja dan duduk di kursinya. Ia melihat ke bawah. Terdapat dua laci yang tertutup. Ada satu buah kunci otomatis yang tertanam di mejanya. Iapun memijit tombol-tombol itu. Dan terbuka. Isinya adalah foto kedua orangtuanya. Ia tersenyum. Kakaknya pasti yang menyimpannya disana. Kakaknya memang pintar membuatnya terharu.


Tiba-tiba pintu diketuk. Seseorang muncul dari balik pintu.


"Bu, ada tamu dibawah."ucapnya gugup.


Clara berdiri. Ia merasa bingung. Ia baru saja tiba tapi tiba-tiba ada tamu untuknya. Padahal tidak ada yang tahu kedatangannya.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan."


Clara mengerutkan keningnya. Iapun berjalan keluar. Ia terdiam ketika menuruni eskalator. Ia melihat siapa yang menunggunya. Dengan jantung berdebar, ia menghampiri wanita itu.


"Siang, Tante." ucapnya ramah.


Ami membalikkan kepalanya dan menatap Clara. Wanita didepannya sudah ia sakiti, tapi ia tetap sopan padanya, pikirnya dalam hati. Iapun tersenyum.


"Syukurlah kamu sudah pulang. Tante was-was kalo kamu belum pulang. Kita gak ada kesempatan untuk berbicara berdua."


Ami tergertak. Ia terkejut dengan jawaban Clara. "Jangan Clara, tolong demi Tante kembalilah pada Edward. Tante menyerah dan menyesal. Edward terlihat seperti orang frustasi. Ia terus menyalahkan Tante karena memisahkan kalian. Tante juga minta maaf sama kamu. Ketidaktahuan membuat Tante menjadi bodoh. Tante menyesal."


Clara memegang kedua tangan Ami. "Tante, jangan berkata bodoh. Sejak Clara pindah ke Aussie buat belajar, Clara mencoba melupakan kejadian disini. Karena kesibukan membuat Clara bisa melupakan Edward. Clara juga harap Edward bisa melupakan Clara dan menemukan wanita yang pantas untuknya." ucap Clara lembut.


Ami langsung terisak. "Gimana Tante jawab hal ini ke Edward? Kamu baik sekali, Clara. Tolong kamu pikir kembali. Tante memohon sama kamu. Pikirkan kembali tentang Edward. Mungkin saat ini kamu sedang sibuk, tapi lain waktu ketika kamu gak sibuk, kamu bisa memikirkannya kembali."


Clara memegang bahu Ami. "Jangan menangis Tante. Clara merasa gak enak. Tapi Clara bersyukur, kalo bukan karena Edward, mana mungkin kita bisa mengobrol." ucap Clara sambil tersenyum.


Setelah kedatangannya ke kantor Clara, ia kembali ke rumah. Ia langsung mengganti pakaiannya dan berbaring di ranjang ketika sampai. Ia memikirkan janjinya pada Edward. Ia menarik selimutnya dan mulai menutup matanya. Ketika dibawah, ia sudah meminum obat untuk meredakan pusingnya. Sekarang ia mengantuk. Ia harap ketika bangun nanti, ia sudah memiliki jawaban pada Edward.


****************************************


Edward berada dibelakang kemudinya. Ia melihat dari kejauhan gedung yang terlihat mewah itu. Ia termasuk orang yang mengerjakan renovasi gedung itu. Ia tidak mungkin mengambilnya jika bukan karena nenek Siska.


Tiba-tiba targetnya keluar. Ia mengerutkan keningnya. Clara keluar seorang diri. Iapun dengan cepat membawa mobilnya ke depan wanita itu.


Clara mengerutkan keningnya ketika melihat mobil Edward berhenti didepannya. Ia melanjutkan langkahnya. Terlalu mendadak semuanya. Tadi siang ibunya datang. Sekarang anaknya yang datang.


Edward menghentikan mobilnya dan berlari mengejar Clara.


"Ara! tunggu!" serunya.


Clara berhenti dan membalikkan badannya. "Hai, Ed" ucapnya sambil tersenyum.


"Aku kangen sama kamu. Apa kita bisa memulai dari awal lagi?" ucap Edward langsung. Ia tidak peduli dengan waktunya yang terlalu cepat.


Clara menghela nafas. " Dengan sangat menyesal aku bilang enggak."


Wajah Edward langsung berubah. "Kenapa? Mama menyesal. Mama setuju sama hubungan kita."


Clara menggelengkan kepalanya. "Maaf tapi aku gak bisa." Ia kembali berjalan meninggalkan Edward.


Edward berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Clara berbalik dan melepaskan diri. Ia menampar pipi Edward. "Jangan kurang ajar kamu Ed! Kita udah gak ada hubungan lagi." ucap Clara marah.


Edward memegang pipinya yang panas. Ia terkejut mendapatkan tamparan dari Clara. Tamparan itu tidak sakit tapi bunyinya cukup terdengar keras.


"Kamu nampar aku?" tanya Edward bingung.


"Ya, karena kamu meluk aku. Aku bisa kasih kamu lebih parah dari tamparan ini." ucap Clara marah.


"Pulang dari Aussie, kamu sakit Clara!" ucap Edward marah. Ia langsung berbalik dan membawa mobilnya pulang kerumah.


Clara menatap kepergian mobil Edward sambil tersenyum hambar. Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menatapnya. Ia telah menampar Edward. Edward pasti marah sekali padanya. Tapi ia senang, Edward akan lebih cepat melupakannya. Sejak awal hubungan mereka banyak sekali rintangan. Ia akan disebut egois ketika membiarkan Edward terus tinggal bersamanya dan terus mengalami hal buruk dengannya. Lalu hatinya? Tidak akan ada yang perhatikan bagaimana hatinya berkecamuk saat ini.