
Dave dan Alena baru saja melakukan foto pra wedding mereka di salah satu objek wisata terkenal. Mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk sampai ke sana. Beberapa take foto sudah dilakukan, fotographer yang mereka pakai merupakan fotographer terkenal yang biasa memfoto artis-artis terkenal. Tentu saja, untuk Dave pernikahan mereka tidak main-main. Mereka harus melakukannya dengan sempurna.
"Kenapa harus disini foto-fotonya? Kayak gak ada tempat lain aja. Ini kan jauh." protes Alena.
Dave menghampirinya dengan membawa beberapa pakaian miliknya dan milik Alena.
"Aku ngelamar kamu disini, apa salahnya aku mau tempat yang sama buat foto pra wedding kita." jawabnya. Ia memasukkan kotak-kotak berisi pakaian itu kedalam mobil.
"Aku gak nyangka ternyata kamu terlalu romantis." jawab Alena sambil berjalan ke samping mobil.
Dave menarik Alena dan memeluknya dari belakang. "Kamu makin cinta sama aku kan?"
Alena tampak berfikir. "Baru nambah 10 persen." ucapnya.
"Gak apa-apa, lumayan. Kemarin kamu bilang 84 persen. Mendekati 100 persen." jawab Dave sambil melepaskan pelukannya. Ia berjalan ke samping disebelahnya. "Kita mau langsung pulang aja?"
"Iya pulang. Firly mau ngeluarin resep baru. Aku mau kesana." jawab Alena. Ia menaiki mobil dan duduk disamping Dave.
Mobil mereka mulai melaju melewati berbagai pohon rindang disamping kiri dan kanan. Dave terus bersenandung mengikuti alunan musik di CD player nya. Ia terus bercanda sepanjang perjalanan. Mobil mereka kini memasuki sebuah hutan dimana jurang disamping kiri dan kanan. Alena terkejut melihat sebuah tubuh tergeletak disamping jalan. Mobil mereka berhenti mendadak. Alena dengan cepat keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Dave sendiri.
Alena memegang nadi tangannya. Masih ada detak. Ia membalikkan tubuh gadis itu. Ia memakai masker pelindung. Perlahan Alena membukanya. Ia terkejut banyak bekas kekerasan di wajah gadis itu. Ia menepuk-nepuk pipinya.
"Tolong jawab saya, saya dokter. Saya akan bawa kamu ke rumah sakit terdekat. Kamu harus bertahan." ucap Alena panik.
"Gimana?" tanya Dave yang datang menghampirinya. Ia ikut menunduk.
"Masih ada detak. Kita bawa ke mobil." jawab Alena cepat.
"Oke.." jawab Dave. Ia mengangkat tubuh Clara dan membawanya ke dalam mobil. Alena berlari dan masuk ke mobil. Ia dan gadis itu berada di belakang.
Mobil mulai melaju kencang. Ia sesekali melihat kaca depan. "Gimana, sayang? anak itu kenapa? Masih hidup kan?"
"Diem, Dave! Fokus ke depan. Kita masih jauh. Kita harus cari puskesmas terdekat." seru Alena kesal. Ia memegang tangan gadis didepannya. Didalam hatinya ia begitu khawatir. Ia seakan merasa ada ikatan dengan gadis didepannya. Ia melepaskan masker gadis itu yang tadi ia sempat pasang kembali.
Kamu cantik, kenapa kamu kayak gini? Siapa yang jahat sama kamu? tanya Alena sambil membelai wajah gadis didepannya.
"Sayang, ada puskesmas." seru Dave membuyarkan lamunan Alena. Tanpa jawaban Alena, ia langsung memasuki puskesmas itu. Ia melihat kerumunan orang-orang didepan pintu masuk.
Alena turun dengan cepat. Ia menemui bagian informasi.
"Ada dokter jaga?" tanya Alena cepat.
"Saya tanya ada dokter jaga?" tanya Alena marah. Ia melihat kebelakang. Ia menghampiri seorang ibu muda. " Udah ngantri dari jam berapa Bu?"
"Udah satu jam. Dokternya belum ada."
Alena kesal. Ia benar-benar marah. Iapun menghubungi seseorang.
"Prof, saya minta ijin buat ke kementrian. Saya harus menyelamatkan seseorang prof. Tapi puskesmas yang saya datangi tidak ada dokter jaga." jelas Alena.
"Kamu kirim ke saya nama puskesmasnya. Saya langsung kontak kementrian."
Tanpa banyak berfikir, ia langsung mengetik sesuatu. Ia melihat kembali orang-orang yang sudah antri begitu lama. Ia merasa kasihan. Tiba-tiba ia didekati oleh seorang perawat. "Maaf dok, silahkan pake UGDnya." ucap perawat itu.
Alena langsung berlari ke mobil. Gadis yang ditolongnya langsung dibawa menggunakan dipan menuju ruang UGD.
Dave menatap haru semua tindakan Alena. Ternyata menjadi dokter tidaklah mudah. Apalagi yang memiliki rasa kemanusiaan besar seperti Alena. Ia melihat Alena begitu serius menangani seorang gadis yang baru saja ditemukannya. Ia tidak henti-hentinya memanggil-manggil gadis itu. Ia melihat Alena mendekatinya. "Kenapa?" tanya Dave.
"Kita harus bawa ke rumah sakit. Dia dehidrasi parah." jawab Alena.
"Pake ambulance?" tanya Dave lagi.
"Sayang, kamu lihat sendiri tempat ini. Apa masih bisa kita nyari ambulance?"
Dave melihat kekiri dan ke kanan. "Trus gimana?"
"Kita bawa ke rumah sakit pake mobil. Kayak tadi."
"Anak itu diinfus, sayang. Kamu nanti pegel harus pegang infusan itu." protes Dave.
Alena langsung menatap tajam. Tanpa berkata pun, Dave tahu jika Alena marah.
"Oke, kita bawa sekarang." jawab Dave menyerah.
Dilain tempat. Edward pulang seorang diri ke Singapura. Ia sedang berada di kamarnya. Tempat dimana masa remajanya tumbuh. Ia duduk di meja belajarnya saat ia masih remaja dulu. Ketika ia sekolah menengah dulu, ia sering menghabiskan waktu di kamar karena sekolah yang ia datangi memiliki jadwal belajar sangat padat. Sehingga ia malas untuk bermain diluar. Ia membuka laci meja dan menemukan beberapa foto disana. Ia mengeluarkannya.
Foto pertama yang ia pegang adalah foto ketika ia dan Calvin sedang menggoda Dave. Itu adalah saat Dave mendapatkan hukuman pertama nya karena ia sering bolos kuliah. Kemudian foto keduanya adalah foto ia bersama Dave. Mereka sedang menggoda seorang gadis kampus yang merupakan anak dari salah seorang dosen kampus. Mereka bahkan harus menerima hukuman tidak mengikuti pelajaran saat dosen itu mengajar ketika itu.
Edward tersenyum geli. Rasanya ia ingin kembali ke masa dimana tidak banyak yang mengaturnya. Ia lebih bebas bersama ketiganya. Ia menatap kembali foto terakhir. Itu adalah foto kelulusan mereka. Mereka mengakhirinya dengan minum-minum sampai mabuk. Mereka saat itu harus tertidur di jalanan dan terbangun didalam penjara. Kedua orangtuanya bahkan sampai datang untuk membebaskan mereka bertiga. Ia menatap ke jalanan. Ia termenung. Ia telah salah pada kedua sahabatnya. Tidak seharusnya ia meninggalkan keduanya. Hanya karena seorang Ara, ia bisa meninggalkan Calvin dan Dave. Edward menggeram marah. Ia memang sudah menyerah untuk mencari gadis itu. Tapi, jika suatu saat ia bertemu kembali dengan gadis itu, maka ia sudah siap melakukan pembalasan.