Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Black Wedding



Dave sudah siap dengan jasnya. Ia menunggu Alena di depan mobilnya. Hari ini ia memutuskan memakai supir nenek untuk mengantar mereka. Sedangkan nenek memakai supir yang biasa mengantar Clara. Dilain tempat, Alena sudah siap dengan gaunnya. Walaupun sedang hamil besar, ia dan Dave harus menjadi saksi pernikahan Edward. Ia sempat menolak untuk pergi ke acara itu, namun Dave memaksanya. Ia melewati kamar Clara dan melihatnya dibalik pintu yang terbuka sedikit. Ia melihat Clara sedang ditemani nenek. Ia menghindari bertatapan dengan Clara. Bisa dibayangkan perasaan Clara saat ini.


Ia pun menghampiri Dave yang mengulurkan tangannya pada Alena. Ia melihat Alena terlihat sedih. Ia mengangkat wajah Alena. "Kenapa?"


"Gak apa-apa." jawab Alena sambil menatap suaminya. Seakan tahu keresahan Alena, Dave merangkulkan tangannya dipundak Alena dan mengajaknya masuk kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Alena terdiam seribu bahasa. Ia kecewa. Ia pikir Edward adalah satu-satunya pria yang dapat membahagiakan adiknya. Ia pikir Edward adalah orang yang tepat mendampingi adiknya. Ia terus berputar dengan pikirannya. Tanpa sadar ia memegang perutnya yang sedikit menegang. Tangan Dave terulur untuk memegang salah satu tangan Alena. Ia menggenggamnya dengan erat.


"Jangan terlalu banyak berfikir. Aku juga kecewa. Sama kayak kamu. Aku gak tau ada masalah apa diantara mereka berdua selain restu mamanya."ucap Dave. Alena hanya diam sambil menatap orang-orang yang sedang menunggu angkutan umum di terminal.


Clara sesekali menatap jam dindingnya. Masih ada waktu 2 jam sebelum pernikahan Edward. Semalaman ia tidak tidur sama sekali. Kepalanya sedikit pusing tapi ia tidak peduli. Hatinya jauh lebih sakit saat ini. Jika saja ada seseorang yang mau menerima setengah dari kegundahan hatinya, ia bersedia memberikannya.


"Nenek tahu kamu resah." ucap Siska sambil masuk kedalam kamarnya.


Clara menoleh pada wanita yang baru masuk itu. Ia bangun dan duduk disamping ranjang. Nenek Siska terlihat sangat rapi hari ini. "Mau kemana nek?"


"Hari ini nenek mau gantikan posisi kamu di kantor. Nenek harap kamu bisa menyelesaikan semua urusan kamu sampai selesai hari ini." jawab Siska. Iapun duduk disamping Clara. "Penyesalan selalu datang terlambat. Tapi kamu masih ada waktu untuk merubah semuanya. Jangan sia-siakan waktu kamu,nak. Ayo, nenek antar kamu ke tempat Edward."


Clara menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau nek, aku gak bisa. Aku gak mau merusak sesuatu yang sakral. Aku gak mau mempermalukan mereka."


"Lalu kamu mau menyiksa diri kamu dengan diam di kamar seharian ini?" tanya Siska.


Clara menunduk. Perkataan neneknya memang benar. Tapi bagaimana ia bisa membatalkan acara itu? Bagaimana jika Edward tidak mau memaafkannya dan tetap melanjutkan pernikahan itu?


"Nenek tunggu diluar sampai kamu berubah pikiran." ucap Siska sambil berjalan keluar.


Dave dan Calvin berdiri bersama Edward disalah satu ruangan tersendiri. Mereka bertiga sama-sama mengeluarkan rokoknya. Calvin yang tidak pernah sekalipun merokok , akhirnya menyerah. Ia menatap Edward yang terlihat tanpa pegangan. Ia terlihat bingung. Iapun menyerahkan minuman yang tadi ia bawa.


"Jangan tegang. Aku sama Dave juga pernah mengalaminya. Aku pikir Sasha juga wanita baik-baik." ucap Calvin.


Edward tersenyum hambar. Tatapannya terus ia arahkan keluar ruangan. Apakah ada keajaiban hari ini?


Dave melirik pada Calvin. Kenapa Calvin membahas tentang Sasha? Iapun mengambil gelasnya dan meminum airnya. Ia melihat dekorasi diruangan ini. Tampak biasa saja. Seorang Edward yang merupakan pria yang tidak diragukan lagi namanya, melakukan pernikahan dengan biaya rendah. Ia tidak habis fikir bagaimana bisa Edward melakukan itu. Ia melirik pada Edward. Sahabatnya menatap keluar dengan tatapan kosong.


"Batalin. Kalo kamu memang terpaksa melakukannya. Demi perasaan kamu.


" Aku gak bisa. Aku cuma berharap ada keajaiban sebelum upacara pernikahan." ucap Edward lesu. Iapun berjalan keluar ruangan diikuti Calvin dan Dave.


Alena memegang perut Sandra yang sudah terlihat membesar.


"Menurut USG, anak kamu ini perempuan kan San?"


"Iya, waktu aku periksa terakhir, anak aku katanya perempuan. Emang kenapa?"


"Kalo suatu saat kita besanan gimana? Kalo anak aku udah dipastiin laki-laki. Cuma tinggal nunggu dua bulan lagi. Kamu kebayang gak sih?" tanya Alena sambil tertawa.


"Nanti aku tanya dulu Calvin. Apa mau dia jodohin anaknya nanti sama anak kamu" jawab Sandra sambil tertawa.


"Oh ya San.. pengalaman kamu kemarin, aku harap kamu jangan terlalu capek ya. Hamil anak inipun aku sebenernya was-was sama kamu."


Sandra memegang perutnya. "Kayaknya enggak. Kandungan aku udah kuat."


"Jadi kejutan apa yang Calvin kasih buat kamu hari ini?"


Alena tersenyum. "Aku seneng dengernya. Eh, mereka datang." ucap Alena ketika ia melihat Dave dan kedua sahabatnya berjalan ke tempat acara akan berlangsung.


"Muka Edward sulit ditebak. Sebenernya ada apa antara dia sama adik kamu? Aku kaget waktu denger dari Calvin kalo dia mau menikah. Semuanya terlalu mendadak, Al."


"Aku gak ngerti sama Clara. Sebelum ada hari ini, mereka sempet ketemu. Edward bahkan minta mereka balikan. Tapi Clara punya pandangan sendiri. Aku gak ngerti.." ucap Alena sedih.


"Kita berdoa yang terbaik buat mereka." ucap Sandra. Mereka berduapun berjalan menghampiri ketiganya.


Clara berada di mobil Siska dengan tangan bergetar. Tidak pernah ia berbuat senekat ini. Tubuhnya berkeringat banyak. Jantungnya berdetak dengan cepat.


"Nek, gimana kalo gak berhasil?" tanya Clara cemas.


"Setidaknya kamu sudah berusaha. Lakukan yang terbaik hari ini." jawab Siska sambil tersenyum.


Mobilpun memasuki area gedung pernikahan. Beberapa mobil dari tamu undangan sudah terparkir dengan rapi di sudut halaman. Sebuah papan nama bertuliskan nama Edward dan wanita itu tertulis dengan jelas didepan pintu masuk. Clara turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Tangannya bergetar. Ia menggenggam erat kedua tangannya. Terdengar suara sambutan dari dalam ruangan. Seharusnya ia tidak terlambat. Mereka belum menikah.


Ia bisa melihat Edward sedang duduk berdampingan dengan wanita itu. Jantungnya sesak sehingga ia harus memegangnya. Iapun berlari dan maju tepat didepannya. Ia berada dijarak sepuluh meter saja dari Edward.


"Ed! Kalian gak bisa menikah! Aku gak akan biarin kamu menikah hari ini" teriak Clara dengan jantung berdebar. Tamu yang sudah datang mengalihkan perhatiannya pada Clara.


Edward tersenyum sekilas. Ia bisa melihat beberapa tamu yang hadir terkejut oleh teriakan Clara. Ia berjalan satu langkah. "Kenapa aku gak bisa menikah?"


"AKU HAMIL! Kamu harus bertanggung jawab sama anak yang aku kandung, Edward!" teriak Clara dengan bibir bergetar. Ia ketakutan ketika mengatakannya. Terdengar suara riuh tamu yang hadir.


Edward tidak bisa menutupi bahagianya. Wanita didepannya tidak bisa berbohong dengan baik. Tapi ia suka. Tiba-tiba dari belakang Clara, ia melihat seorang wanita dengan perawakan langsing yang berjalan sambil menunduk. Ia mengenal wanita itu walaupun kepalanya memakai topi. Ia tidak pernah berfikir wanita itu akan kembali. Ia datang menghampiri Clara. Ia yakin akan ada sesuatu antara mereka.


"Kamu gak akan bisa dapatkan Edward, Clara!" teriak Adriana marah.


Clara berbalik dan terkejut ketika wanita itu menghunuskan sebuah pisau tepat di perutnya. Ia memegang perutnya. Adriana kembali menghunuskan pisaunya. Clara mengeluh kesakitan. Ia merasakan darah segar keluar dari perutnya. Dengan cepat Adriana dibekuk oleh orang-orang disekitarnya.


"Clara!!!"Teriak Alena histeris.


Clara memegang perutnya kesakitan. Ia hanya bisa menatap wajah edward sebelum akhirnya ambruk dilantai. Nafasnya mulai pendek. Ia terus memegang perutnya karena sakit. Ia meringkuk dilantai. Mama....


Edward menatap tubuh Clara yang tergeletak dilantai dengan perasaan takut. Tubuhnya terasa kaku. Kedua matanya tiba-tiba perih. Ia berjalan dengan sekuat tenaga. Ia ambruk dilantai dan mengangkat tubuh Clara. Ia memegang wajah wanita itu.


"Ara.." panggilnya dengan bibir bergetar.


Clara berusaha membuka matanya. Ia tersenyum sambil menahan sakitnya. "Aku gagal ya Ed. Aku bukan pembohong yang baik." ucap Clara dengan nafas pendek. Airmatanya terurai seketika.


"Jangan banyak bicara, sayang. Aku bawa kamu ke rumah sakit. Kamu harus tahan." ucap Edward sambil berdiri dan mengangkat tubuh Clara.


"Maafin aku. Aku inget ucapan kamu waktu kita putus. Walaupun aku mati didepan kamu, kamu gak akan peduli." ucap Clara sambil terengah-engah. Airmatanya terus keluar.


"Diem, Ara! Aku minta kamu diem!" teriak Edward sambil berjalan  dengan cepat. Ia tidak mendengar ucapan kedua sahabatnya yang memintanya untuk membawa Clara menggunakan mobil mereka yang lebih cepat.


Tiba-tiba tangan Clara terjatuh lemas. Edward ,menghentikan langkahnya. Ia menatap Clara. Ia tidak pernah menangis seumur hidupnya. Detik ini pula ia tidak sanggup menahan kesedihannya yang mendalam. Ia memeluk Clara dalam gendongannya. Ia menangis.


"Ara, don't leave me. please! Buka mata kamu, sayang!" teriak Edward sambil menangis histeris.