Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Mencari Clara



Edward melangkah di koridor kamar hotel. Ia tersenyum jahil setelah melakukan sesuatu pada Calvin. Terdengar teriakan ibunya Calvin. Ia tertawa sambil berjalan. Sudah saatnya menyatukan mereka berdua. Kini ada satu urusan lagi yang harus ia kerjakan . Ia harus menemukan gadis itu. Ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Adriana.


"Adri, aku gak bisa nyusul kamu sama mama kamu. Ada urusan lebih penting dibanding urusan kamu " ucap Edward tajam.


Ruangan hall tempat berlangsungnya pernikahan Alena dan Dave hanya tinggal menyisakan beberapa tamu saja. Alena terlihat sedang merangkul lengan Dave. Begitu pula dengan Dave Mereka terlihat bahagia. Ia pun menghampiri mereka.


"Sekarang langsung berangkat ke Aussie?" tanya Edward. Semalam ia sempat menelpon Dave dan menanyakan tentang planning keduanya untuk berbulan madu.


"Besok pagi." jawab Alena.


Edward mengangguk. Matanya mengarah ke tamu yang hanya tinggal sedikit itu. Ia terus mencari sosok itu.


"Ed.." panggil Alena.


"Aku titip temen aku. Jangan kamu ganggu. Dia sedikit pendiam orangnya." ucap Alena.


"Siapa?" tanya Edward sedikit tertarik.


"Clara. Temen aku yang baru pulang dari Jepang itu." jawab Alena.


"Oh yang itu. Gak salah kamu titip ke aku? Kamu yakin?" tanya Edward.


"Aku yakin kamu gak akan apa-apain Clara. Dia orang baik, Ed. Dia mungkin sedikit aneh. Tapi dia sedang berusaha buat ketemu orang banyak."


Edward mengerutkan keningnya. "Apa orang itu gila?"


Alena langsung memukul Edward dengan keras. "Keterlaluan kamu Ed. Aku nyesel minta kamu buat jaga Clara."


Edward langsung mengangkat kedua tangannya. "Sorry Al, aku cuma becanda kok. Jangan masukin ke hati."


"Terlalu sensitif." ucap Dave.


"Ok,aku pasti jagain temen kamu itu." jawab Edward. Ia menatap sekeliling ruangan. "Dimana temen kamu sekarang?"


Firly keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian nyaman. Kini ia tinggal di rumah Alena dengan Firly setelah sebelumnya ia selalu tinggal di cafe miliknya. Ia tidak menemukan Clara dimanapun. Ia melihat kamar Clara tertutup rapat. Iapun menghampiri kamar itu. Ia mengetuk pintu dan memanggil Clara.


"Clara! Kamu didalem?"panggil Firly sedikit cemas. Tidak ada jawaban. Firly memanggilnya kembali sambil mengetuk pintu dengan agak keras. Terdengar suara sangat pelan dari dalam. Ia tidak tahu Clara mengatakan apa. Tapi ia tenang karena Clara ada di kamarnya.


Clara terduduk disudut ruangan. Ia duduk dilantai sambil berfikir. Jika sedang gugup, ia pasti menggigit kukunya. Pria itu ada disana. Mereka telah bertemu beberapa jam yang lalu. Dunia ini begitu sempit. Dengan mudahnya mereka bertemu. Mengingat nada kasarnya tadi ketika mereka berada hall, ia merasa hidupnya tidak akan sama lagi. Edward yang ia kenal telah berubah drastis. Namun mengingat apa yang pernah terjadi pada mereka, ia yakin Edward marah besar padanya. Jika ayahnya tidak kritis saat itu, mereka tidak akan mengalami sesuatu seperti saat ini.


Sepertinya nomor telepon yang sempat ia tinggalkan di kamar hotel tidak sampai padanya. Ia mengingat dengan jelas saat itu. Begitu mesranya mereka ketika berada di Phuket, sampai lupa untuk saling memberikan nomor telepon. Edward pasti marah besar padanya. Edward sudah berani bertanggungjawab untuk menikahinya. Edward takut dirinya hamil. Dan memang benar, ia tidak pernah hamil sekalipun.


Clara menatap kekiri dan kekanan. Ia gugup. Mendengar Edward mengatakan hal seperti tadi, ia yakin Edward marah besar padanya. Lalu apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika mereka bertemu kembali? Apakah ia akan berpura-pura untuk tidak kenal dengan Edward sebelumnya?


Tak lama, terdengar suara Firly memanggilnya kembali. Iapun bangun dan membuka pintu.


Ia melihat Firly menatapnya kebingungan.


"Kamu sakit ?" tanya Firly padanya.


Sandra menggelengkan kepalanya. "Enggak."


Firly langsung mencubit baju tidur Clara dan membawanya untuk berbicara. Sejak pulang dari pesta, Clara nampak aneh.


"Kenapa?" tanya Firly.


"Aku kangen papa."jawab Clara berbohong.


"Kamu bisa cerita semuanya sama aku. Aku orang yang bisa jaga rahasia." ucap Firly.


Clara tidak menjawabnya. Ia hanya diam. Bagaimana ia bisa menceritakan keluh kesahnya jika yang akan ia ceritakan adalah salah satu teman mereka?


Ia melihat Firly berjalan ke meja makan. Ia membuat dua gelas teh hangat. Seandainya ia bisa menceritakan semuanya. Musuhnya sekarang menjadi 3 kelompok. Apa yang harus ia lakukan saat ini?


"Mungkin kamu belum mau cerita, nanti kalo udah mau cerita, ceritain semuanya sama aku. Jangan ada yang ditutup-tutupi." ucap Firly. Clara hanya mengangguk pelan. Ia tidak yakin Firly akan mendengarkan cerita sesungguhnya.