Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Pertemuan kembali



Edward berlari menuju bandara untuk melanjutkan perjalanannya ke Phuket. Meeting tadi pagi sedikit alot. Dan ia tidak bisa menunggu. Otaknya sudah terlalu lelah untuk berfikir mengenai pekerjaannya. Ia tidak dapat membayangkan jika kedua temannya tahu tentang kepergiannya yang sangat mendadak ini.


Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan taxi. Setiap menit akan tersedia. Ia sampai ke Phuket agak gelap karena tadi pesawatnya mengalami keterlambatan. Ia tidak tahu di daerah mana sekretarisnya menyewakan hotel untuknya. Ia hanya melihat nama dan alamat hotelnya. Beberapa taxi berjajar dengan rapi. Sepertinya ia tidak ingin langsung ke hotel. Ia akan berjalan-jalan sebentar di sekitar pantai. Karena yang ia tahu setiap malam pantai akan sangat ramai.


Clara baru saja pulang dari makan malam. Ia kembali ke hotel setelah perutnya terasa kenyang. Ia berdiri di beranda dan menatap keramaian malam. Di pantai terlihat olehnya tampak lampu berwarna warni. Karena resort yang ia tinggali berada di dataran tinggi, ia bisa melihat pantai dari kamarnya yang berada dilantai dua. Iapun duduk di sofa malas dan melihat handphonenya. Bahkan sudah dua hari kepergiannya dari rumah, ayahnya tidak menanyakan keberadaannya. Ia merasa kesal. Tidak ada teman pula yang menanyakan kabarnya. Semua teman-temannya palsu. Tanpa terasa air matanya menetes. Ia sedih. Tidak ada yang peduli padanya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Itu panggilan dari ayahnya.


"Sawadekap" ucap salah seorang resepsionis disana. Mereka terlihat ramah dan cantik-cantik. Phuket memang surga kecantikan. Edward tersenyum sambil mengangguk. Sambil menunggu para gadis itu menyiapkan kunci kamar, ia melihat beberapa brosur. Di hotel yang ia pesan, ia bisa memesan yatch.


Wanita didepannya terlihat gugup. Ia sesekali menatap Edward. Edward hanya tersenyum.


"Enjoy your day in Phuket!" ucap gadis itu.


Edward mengangguk. "Thank you beauty. Can I have your phone number?" goda Edward.


"Oke, I want the best quality service from this hotel" ucap Edward sambil mengedipkan matanya.


Edwardpun diantar menuju ruangan yang benar-benar ia sukai. Ia puas melihat kamarnya yang luas itu. Hari sudah malam. Untung tadi ia sempat makan malam diluar. Iapun mandi. Tadinya ia ingin pergi berjalan-jalan lagi diluar tapi ia bisa keberanda dan melihat situasi pantai sebelum keluar.


Edward membuka pintu kaca yang menghubungkannya keberanda. Ia dapat melihat pantai Phuket dimalam hari. Bukan hanya itu. Sepertinya dipantai sedang diadakan acara. Ketika ia berbalik untuk masuk kedalam, ia terkejut melihat seorang wanita berdiri diluar seorang diri. Ia melihat wanita itu memakai pakaian tipis. Jantungnya berdebar dengan kencang. Siapapun yang memakai pakaian yang menggoda itu? Tolong berbaliklah, ucap Edward pelan. Rambutnya panjang terurai ikut melambai mengikuti tiupan angin.


"I hate you, papa. Clara benci papa." Ucap Clara sambil menangis. Sesaat ia senang karena ayahnya menghubunginya. Tapi ternyata ayahnya meminta Clara untuk tidak kembali kerumahnya. Ia kecewa pada ayahnya. Ia menangis. Tidak pernah ia merasa sakit hati seperti ini. Iapun membalikkan badannya dan sekilas bertatapan dengan pria yang berada diberanda samping kamarnya. Ia tidak peduli dan berjalan masuk kedalam kamar sambil menangis.


Edward tertegun. Itu, gadis yang kemarin dipesawat. Tapi benarkah ini nyata? Kenapa gadis itu menangis? Tadi ia memanggil ayah? Siapa ayahnya? Kenapa dia sendiri? Kemana pria yang kemarin ia lihat di bandara? Apakah mereka putus?


Dunia memang sempit. Siapa sangka ia bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Tapi bagaimana bisa ia bertemu dengannya di Phuket? Mereka bahkan tinggal dihotel yang sama. Edward tertawa ringan.