Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Sial Kuadrat



Edward terus menghubungi Clara beberapa hari terakhir. Tapi handphonenya tidak bisa dihubungi. Ia khawatir pada Clara. Ia tidak bisa bertemu dengan Clara sampai masalahnya selesai. Ancaman ibunya nyata. Ia teringat ibunya memperlihatkan pisau dapur yang dipegangnya.


Ia merindukan Clara. Berita tentang Clara masih terlihat di televisi. Disaat ia sedang mendapatkan masalah besar, ia tidak ada disampingnya. Sedangkan Dega tidak ada dirumah. Ia sudah pindah. Ketika ditanya tentang keadaan CLara, ia menggelengkan kepalanya.


Edward membanting vas bunga yang ada dimeja kerjanya sehingga hancur berkeping-keping. Pintu kamarnya dibuka dengan kencang. Ibunya masuk didampingi Sasha.


“Kamu kenapa?” tanya Ami cemas.


Edward duduk diatas ranjang tanpa mengatakan apapun. Ia menatap Sasha marah. “Keluar kamu dari sini!” Sahut Edward.


Sasha ketakutan. Ia langsung berlari keluar.


Ami menghampiri Edward dan menamparnya. “Sekali lagi mama liat kamu bersikap seperti itu sama Sasha, kamu akan liat akibatnya!” seru Ami.


“Aku mau Clara! Bukan Sasha.”


“Jangan mimpi kamu!” seru Ami. Ia berjalan keluar setelah menutup pintu kamar Edward.


Clara berada di ruangannya setelah melakukan pertemuan dengan beberapa pemilik saham. Video itu sudah tersebar dengan luas. Nama baiknya hancur. Ia tak berdaya. Harga saham terus merosot. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi.


Ia melihat handphonenya bergetar. Nomor tidak dikenal menghubunginya kembali.


“Halo.” jawabnya ketus.


“Clara, ini Ami. Mamanya Edward.” ucap Ami ramah.


Clara bangun dari duduk malasnya. “Iya tante. Apa kabar?”


“Tante baik-baik aja, Clara. Gimana dengan kamu?”tanya Amii.


“Clara baik-baik aja, Tante. Oh ya, Clara mau minta maaf kalau ada yang membuat Tante sedikit cemas.” jawab Clara.


“Nah, justru itu yang mau tante bicarakan dengan kamu. Ini tentang Edward. Tante punya satu permintaan sama kamu.”


Jantung Clara berdegup dengan kencang. Mendegar suaranya ditelepon saja ia merasa takjub. Kali ini ia meminta sesuatu padanya. “Apa tante.”


“Tante mohon kamu bisa melepaskan diri dari Edward.” jawab Ami


“Melepaskan diri?”tanya Clara.


“Iya. Putus. Maafkan Tante, tapi kamu gak bisa masuk ke keluarga kami setelah banyak kejadian menimpa kamu. Tante gak peduli berapa banyak harta kamu. Tante hanya memikirkan anak Tante.” jawab Ami tenang.


“Bisa?”tanya Ami kembali.


Clara menutup matanya. “Bisa, tante.”


“Bagus. Tante berterimakasih sama kamu.” ucapnya.


“Tapi Tante maaf. Clara butuh waktu untuk bicara dengan Edward.”ucap Clara.


“Kamu pikirin perasaan Edward? Gak perlu. Sasha bisa membuat Edward melupakan kamu dengan cepat.” ucap Ami sarkas.


Ketika telepon ditutup, Clara menyimpan wajahnya diatas meja. Ia menangis tersedu-sedu. Itulah yang ia tunggu. Ia ketakutan menerima panggilan dari Ibunya Edward. Namun hari ini menjadi kenyataan.


Ami masuk ke kamar Edward. Ia terlihat kusut. “Mama ijinin kamu buat ketemu Clara akhir minggu ini. Tapi kamu harus ingat. Cuma dua hari. Gak lebih.” ucap Ami


Edward terdiam. Ia tidak beranjak dari duduknya. Iapun melihat handphonenya. Clara menghubunginya.


“Halo, Ara..” ucapnya cepat.


“Ed, gimana kabar kamu?” tanya Clara. “Kapan kamu temuin aku?”


“Secepatnya sayang. Tunggu aku. Aku diijinin mama buat ketemu kamu. Aku kangen sama kamu.”


“Aku juga sama, Ed.” jawab Clara sedih.


Ketika telepon ditutup, pintu ruangannya diketuk.


“Bu, ada tamu.” ucap sekretarisnya.


Tidak pernah ada yang datang ke kantornya kecuali teman-teman ayahnya yang notabene pemegang saham. Ia menunggu siapa yang datang. Langkah high heel seorang wanita membuatnya mengerutkan kening. Tamunya seorang wanita.


Seorang wanita dan dua orang pria masuk keruangannya. Ia tidak mengenalnya. Wanita dengan tubuh besar itu membuka kacamata hitamnya. Kemudian kedua pria disampingnya. Butuh waktu untuk mengingat siapa mereka. Clara menekan tombol cctv yang langsung terhubung ke handphone Sakti.


“Ara atau Clara. Gimana kabarnya? Kita gak nyangka kamu menghilang ternyata kamu adalah seorang CEO.” ucap wanita itu.


Clara mengerutkan keningnya. “Siapa kalian?” tanya Clara.


Salah satu pria maju dan menatapnya sambil tersenyum licik. “Kamu gak inget sama laki-laki yang pernah menyelamatkan kamu di hutan?” tanya pria itu.


Sandra lemas setelah ia mengingat sesuatu. Ia hampir duduk dikursinya namun ia menahan kedua tangannya yang ada di meja. Ia menatap ketiganya dengan mata nanar. Ia melupakan mereka. Ancaman kedua setelah Desy. Ia menatap mereka tanpa mengatakan apapun.