
Clara menatap koran yang sedang diasong oleh pedagang didepan mobilnya dengan mata nanar. Walaupun gambarnya kecil, ia bisa melihatnya dengan jelas. Iapun membeli koran itu. Ia membacanya sekilas dan menatap foto Edward yang terpampang disana. Hanya dalam waktu satu bulan ia menolak Edward, ada perubahan yang terjadi pada kehidupannya. Ia merasa miris. Pria itu tidak mengejarnya sama sekali. Ia tidak pernah berkorban untuknya. Bagaimana bisa dalam waktu yang sangat cepat, Edward merencanakan sebuah pernikahan dengan wanita lain?
Sebuah klakson mobil yang ada dibelakang mengejutkannya. Ia terlalu lama terdiam di traffic light setelah lampunya telah berganti menjadi hijau. Iapun menyimpan koran itu di kursi sampingnya dan kembali melanjutkan mobilnya. Beberapa pengendara tampak marah-marah. Ia hanya bisa mengelus dada. Ia terlalu terkejut dengan semua berita pagi ini. Dadanya sesak seperti sulit bernafas. Hanya beberapa meter saja ia tidak sanggup melanjutkan perjalanannya. Iapun terpaksa menghentikan mobilnya terlebih dahulu disamping jalan. Airmatanya keluar tanpa ia inginkan dengan tiba-tiba. Semakin lama semakin deras. Ia pikir menolak Edward akan membuatnya kuat. Ternyata ia salah. Semakin lama tinggal di kota ini, ia semakin tidak tahan. Setiap hari ia harus mendengar nama Edward dari nenek Siska karena kerjasama yang telah mereka kerjakan.
Sebuah panggilan mengejutkannya. Kakaknya menghubunginya. Iapun menghapus airmatanya cepat.
"Halo" jawab Clara
"Kamu udah nyampe kantor?" tanya Alena. Dari nada suaranya ia terdengar khawatir.
"Masih di jalan kak."
"Clara, selama sebulan ini Edward susah ditemui sama Dave. Kita terkejut liat berita pagi ini. Kamu udah liat?"
"Udah.."
"Trus gimana menurut kamu?"
"Aku berdoa yang terbaik untuk mereka, kak." jawab Clara.
Alena menekan tangannya. Ia kesal pada Clara. Disaat seperti ini, ia masih bisa mengatakan hal itu. Clara munafik. Di mulut ia bisa berkata seperti itu, tapi seringkali ia menemukan Clara melamun di kamarnya.
"Kamu masih bisa menggagalkan rencana itu! Kita buat rencana biar Edward kembali lagi sama kamu. Masih belum terlambat, Clara.."
Clara menutup matanya. "Gak bisa kak. Aku gak mau."
Alena semakin kesal. "Clara! Jujur sama kakak! Kamu masih mencintai Edward?" tanya Alena dengan nada tinggi.
"Mencintai Edward? Itu udah gak penting lagi kak. Sejak satu bulan yang lalu aku udah menyerah."jawab Clara sambil memeluk kemudi mobilnya.
Dave dan Calvin bergegas masuk ke kantor Edward. Ia melihat Edward bersama wanita yang ada di koran pagi ini. Dave melemparkan koran yang dibawanya diatas meja Edward.
Edward tersenyum. Ia menatap Sasha. "Kamu keluar dulu, sayang" ucapnya.
Calvin menatap marah pada Edward.
"Jelasin!" ucap Dave marah.
***Satu bulan yang lalu....
Edward menatap tangannya yang merah setelah ia memukul tembok kamarnya. Ia kesal dan marah pada dirinya sendiri. Ia menyesal telah menampar Clara. Ia masih ingat guratan berwarna merah di pipi Clara. Ia bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa sabar untuk Clara? Tapi kenapa Clara begitu mudahnya melupakannya? Bukannya mereka telah ditakdirkan bersama setelah semua yang telah terjadi?
Ami masuk ke kamarnya. Ia menghampirinya dan memegang bahunya. Ia melihat tangan anaknya yang memerah. Ia memegangnya. "Kenapa?"
Tidak ada jawaban. Ingin sekali ia mengatakan hasil pertemuannya dengan Clara pagi tadi. Tapi ia tidak bisa mengatakannya karena melihat Edward hari ini terlihat tertekan***.
"Clara tolak aku, ma!"ucap Edward pelan. Ami melepaskan tangan Edward.
"Maafin mama. Mama juga gagal." ucap Ami.
"Mama ketemu Clara?"
"Iya, mama minta maaf dan berusaha meminta dia kembali sama kamu. Tapi mama gagal."
Edward langsung terdiam. Kenapa kali ini ia sulit mendapatkan Clara?
Tiba-tiba pintu terbuka pelan. Sasha datang dengan tiba-tiba ke kamarnya.
"Ngapain kamu kesini?Sekarang gak tepat waktunya." seru Ami.
"Sasha gak bisa menahannya lagi, Tante. Sasha mau ngobrol sama Edy berdua."
"Ed.."panggil Ami.
Edward mengangkat tangannya dan mengangguk. "Mama keluar dulu."
"Cepet bilang, ngapain kamu kesini?"
Sasha menunduk. "Ed, aku masih merasa bersalah sama kamu. Aku sedih liat kamu kayak gini. Kalo dulu aku gak panasin Tante, kalian pasti udah bersama. Aku gak tenang sampe sekarang."
Edward terdiam. Ia memegang kalung yang ia gunakan dengan bandul cincin Clara. Tiba-tiba ia mempunyai rencana cerdik untuk mendapatkan Clara kembali. Ia akan melakukan hal walaupun jahat sekalipun. Ia membalikkan badannya ke belakang.
"Kamu mau menebus kesalahan kamu?"
"Apa? Aku mau berbuat apapun. Yang penting hubungan keluarga aku sama keluarga kamu jadi membaik."
"Tapi reputasi kamu nanti jadi taruhannya."
"Aku gak peduli. Aku mau kembali ke Singapura. Aku gak berniat bikin reputasi disini."
"Bagus. Kesini!" ucap Edward. Iapun berbisik****.
Edward menatap kedua sahabatnya sambil tersenyum. Mereka pasti sudah melihat berita pagi ini. Ia beruntung bisa membeli beberapa paragraf koran pagi ini dengan harga murah. Kedua orangtuanya pasti terkejut. Begitu pula dengan kedua sahabatnya. Ia penasaran bagaimana Clara saat ini. Apalagi ia belum muncul setelah hari ketika ia menampar Clara.
Ia mengambil koran itu dan melihatnya sambil tersenyum. "Kalian pasti seneng akhirnya aku menikah."
"Aku gak seneng sama sekali." jawab Calvin.
"Loh kenapa? Kalian gak seneng aku menikah? Kenapa? Gara-gara pengantin wanitanya? Kenapa Sasha dan bukan Clara?"
Dave duduk dikursi dan menatapnya. "Serius Ed. Kenapa kamu mendadak mau menikahi Sasha yang bahkan enggak kamu suka."
"Mau gimana lagi. Aku udah ditolak sama Clara."
"Ed!Pernikahan bukan mainan. Kamu harus berfikir panjang." jawab Calvin.
"Waktu kamu sama Sandra menikah, apa kalian saling mencintai? Enggak kan? Semuanya terjadi setelah menikah. Aku gak boleh kayak gitu?"
"Sok tau. Aku sama Sandra udah suka sejak SMA." seru Calvin.
"Ed, please kamu pikirin lagi." ucap Dave.
Edward menyimpan kedua tangannya dimeja. Ia menatap Dave. "Kamu bisa kok membuat Clara menggagalkan pernikahan ini. Dengan gitu aku tau kalo Clara masih cinta sama aku" godanya.
Dave berdiri. "Sialan kamu Ed! Pernikahan kamu anggap mainan."
Edward tertawa ketika melihat keduanya keluar dari ruangannya dengan wajah masam. Sasha masuk dengan terburu-buru.
"Gimana Ed?" tanya Sasha.
"Kamu yakin bisa gak?"
"Aku bisa. Pasti. Orangtua aku udah tau kok. Mereka memilih pulang daripada ngeliat aku menikah sama kamu. Mereka ternyata gak setuju kalo aku nikah sama kamu." jawab Sasha sambil tertawa.
"Aku tinggal nunggu mama telepon." jawab Edward. Berselang beberapa menit kemudian ibunya menghubunginya. Ia menatap Sasha. "Tuh liat, nelepon kan?" ucap Edward sambil tertawa. Ia yakin ibunya akan marah besar ketika melihat koran pagi ini.
Iapun mengangkat teleponnya. "Halo mama sayang..." jawab Edward menggoda ibunya.