Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Menghadiri undangan



Clara mengaduk-aduk minuman digelasnya. Ia sesekali menatap para pelayan yang nampak sibuk. Ia ingin membantunya tapi ia tidak bisa. Beberapa kali ia dengar teriakan Firly. Hari ini banyak pengunjung. Ya, entah kenapa ia bisa sampai ke cafe kakaknya. Ia melihat Firly dan merasa tenang. Sama ketika Firly membantu menjaganya beberapa bulan yang lalu. Firly telah melepaskan bisnisnya sendiri karena banyaknya kompetitor disekitar sana. Kini ia membantu di cafe milik Alena.


Ia memikirkan sesuatu. Nanti malam apa yang akan ia lakukan? Ibunya Edward apakah masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu? Ia terlalu pusing memikirkan hal itu. Belum lagi Sasha. Tanpa sadar Clara menyimpan kepalanya diatas meja. Tak lama terdengar mejanya diketuk. Ia mengangkat wajahnya. Firly sudah membuka celemeknya. Ia duduk didepan Clara.


"Kenapa?Dari tadi diperhatiin kayaknya pusing banget." goda Firly.


Clara menjawab dengan malas sambil menyimpan kembali kepalanya di meja. "Aku pusing banget kak."


"Kamu kan bisa cerita sama aku. Biasanya juga gitu. Aku yakin Alena gak tau tentang ini." sorot Firly.


Clara mengangkat kembali kepalanya. Ia memegang tangan Firly dengan erat. "Kak, wajar gak sih aku cemburu liat Edward deket sama perempuan lain?"


"Emang dasar laki-laki playboy." ucap Firly kesal.


"Bentar kak. Aku belum cerita. Sebenernya perempuan ini temennya Edward juga. Cuma aku pikir, kedekatan mereka terlalu intim." Ucap Clara.


Firly mengangguk mengerti. "Jadi Edward punya temen trus mereka terlihat mesra gitu?" tanya Firly langsung to the point.


"Sebenernya enggak mesra juga. Cuma, liat dia ngobrol sama perempuan itu aja aku kesel." jawab Clara.


Firly tertawa. "Kamu cinta banget sama Edward. Ya ampun, buat pria se playboy Edward, aku salut kamu masih bertahan. Wanita di sekeliling Edward itu banyak, Clara. Tapi aku kasih nasihat lebih baik kamu jangan terlalu cinta sama laki-laki itu. Nanti kalo kalian putus, kamu yang jauh lebih sakit."


"Edward mau nikahin aku." ucap Clara membuat Firly terdiam.


"Serius?" tanya Firly. "Alena udah tau?"


Clara menggelengkan kepalanya. "Aku ditolak sama mamanya Edward. Katanya pendidikan aku gak tinggi kak."


"Kebangetan. Dia ngomong seperti itu karena dia gak tau siapa kamu sebenernya." ucap Firly kesal.


"Kak, aku itu bingung sama pusing. Aku gak tau harus gimana. Papanya Edward ngajak aku makan malam dirumah mereka. Aku gak tau mau ada apa dibalik undangan ini. Apa mamanya Edward udah terima aku? Sedangkan Edward sendiri gak pernah bilang apa-apa sama aku. Aku bingung kak. Sumpah." jelas Clara.


Firly nampak berfikir. Ia memegang dagunya. "Lebih baik kamu dateng dulu kesana. Gak enak kan udah diundang. Kalo ada apa-apa disana, kamu tinggal telepon aku. Nanti aku jemput." jawab Firly.


Malamnya. Rumah Edward terlihat ramai. Tangan Clara bergetar ketika memegang kemudi. Ia gugup. Edward tidak menjemputnya karena ketika ditelepon tadi ia masih meeting. Terpaksa ia harus pergi sendiri. Iapun keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk rumah itu. Clara tidak berani masuk ke dalam. Ia diam diluar dan menunggu. Lebih baik ia menunggu Edward pulang. pikirnya.


"Loh, ada Clara?" tanya Andi yang saat itu sedang keluar untuk menyalakan rokoknya. Ia terkejut melihat seorang wanita diam diluar.


Clara berbalik. Ia merasa lega ketika melihat ayahnya Edward ada disana. "Malam om." ucapnya pendek.


"Masuk kedalem. Tante Ami udah nunggu kamu." ucap Andi.


Andi menggiring Clara masuk kedalam. Ia bisa melihat beberapa orang sedang bernyanyi. Dan beberapa orang lagi sedang mengobrol. Orang-orang itu terdiam ketika melihat ia masuk ditemani ayahnya Edward.


"Ma, Clara udah dateng." panggil Andi pada istrinya.


Ami melihat Clara yang tiba seorang diri. "Clara, duduk disini." ucapnya sambil menepuk sofa disampingnya yang kosong. Clara langsung berjalan menghampirinya. Ia kini duduk disamping Ami. Clara merasa berbeda. beberapa waktu yang lalu, wanita itu masih bangga dengan mengatakan tentang pendidikan. Kali ini sepertinya jauh lebih baik.


"Ini Clara yang tadi aku ceritain." ucap Ami pada teman-temannya.


"Hebat. Masih muda padahal. Kamu beruntung punya calon menantu yang hebat." ucap salah satu temannya.


Clara merasa malu. Ia hanya tersenyum ketika Amin meremas tangannya.


"Tuh Edward udah dateng." ucap Andi.


Semua orang termasuk Clara menatap ke pintu rumah untuk melihat Edward. Edward tiba masih dengan memakai pakaian kerjanya. Ia berjalan didampingi Sasha. Clara menunduk ketika Ami mengatakan sesuatu.


"Itu Sasha. Tetangga kita waktu di Singapura. Sekarang dia kerja jadi sekretaris Edward. Sekarang dia tinggal disini. Nemenin aku."


Clara kecewa. Edward benar-benar membuatnya kesal kali ini. Ia tidak pernah membicarakan tentang wanita itu padanya.


"Ara, ikut aku." panggil Edward.


Clara mengangkat wajahnya. Ia pun berpamitan pada ibunya Edward dan teman-temannya. Ia menghampiri Edward dan berjalan untuk menaiki tangga. Edward memegang tangan Clara dengan erat.


Ketika berada dikamar, Clara duduk disalah satu sofa yang ada di kamar Edward. Ia menunggu Edward bersiap-siap. Iapun berjalan ke meja kerjanya. Di atas meja ia dapat melihat dua foto yang membuatnya begitu tertarik. Pertama adalah foto antara Edward, Dave dan Calvin ketika mereka masih bersekolah. Kemudian foto kedua adalah foto siluet seorang wanita. Ia memperhatikan pakaiannya. Foto itu adalah dirinya. Ia tidak menyangka Edward akan mengambil fotonya ketika mereka sama-sama berada di Phuket.


"Kenapa?" tanya Edward yang sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Ia menghampiri Clara dan duduk dimeja yang berada disamping kursi yang sedang diduduki Clara. Iapun melihat foto yang sedang dilihat Clara. Ia tersenyum. Ia mengangkat tangan Clara dan menggenggamnya. "Kamu masih inget?"


"Ya.." jawab Clara pendek.


"Oh ya, aku butuh penjelasan dari kamu." ucap Edward.


"Aku juga butuh penjelasan dari kamu, Ed."


"Tentang apa?" tanya pria itu terkejut.


"Semuanya yang aku gak tau." ucap Clara tajam.