
Dengan tangan bergetar, Desy melangkah cepat ketika baru saja turun dari mobil. Di lobi, beberapa karyawan menatapnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Desy tidak peduli. Mereka bisa ia pecat kapan saja ia mau. Ia berjalan cepat untuk segera sampai di ruangannya. Ia menaiki lift. Terasa sangat lama untuk sampai di lantai 5. Ia memegang kedua tangannya. Ia berkeringat. Ketika lift terbuka, ia keluar dengan cepat dan berbelok. Tapi ia terkejut melihat Clara ada disana. Mereka sedang berbincang dengan para pemegang saham. Ia langsung berbalik dan bersembunyi dibalik tembok. Ia melihat keakraban diantara mereka. Ia yakin ada orang dibalik pertemuan mereka. Ia melihat Sakti berada diantara mereka. Ia menatap marah pada mereka. Tanpa pikir panjang, ia segera kembali ke rumah. Ia harus kabur. Jika semua orang sudah bersekongkol, ia tidak ada harapan masih berada di kota ini. Ia akan pergi diam-diam.
Clara tertawa ringan ketika tahu jika pria-pria itu adalah teman-teman ayahnya. Ia tidak pernah sekalipun tahu tentang mereka. Setelah mengetahui semuanya, ia merasa lega.
"Kalo gak ada kejadian kayak gini, kita gak akan tahu anaknya Aditya." ucap salah satu dari mereka.
Clara mengangguk sambil tersenyum. "Makasih Om buat kepercayaannya." ucapnya senang.
"Tapi jujur, sejak kita tahu ada keuangan fiktif di perusahaan ini, kita berlima jadi malas. Tapi melihat sisi positif kamu, kami coba kesempatan kedua."
"Makasih Om."
"Kalo gitu kita pamit. Sampai jumpa lagi." ucap mereka.
"Iya Om. Sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan." ucapnya. Ketika semuanya pergi, ia menatap Sakti. Ia tidak menyangka akan melakukannya dengan mudah.
"You did it, Clara." ucap Sakti bersemangat.
Clara langsung memeluk Sakti. "Om.. Makasih." bisiknya sambil terisak. Ia terharu.
"Semuanya akan baik-baik saja, Clara. Om yakin sama kemampuan kamu. Kita bicara di dalam." ucap pria tua itu.
Clara duduk di sofa tempat ayahnya menerima tamu. Sakti melihat seluruh ruangan. Sejak sahabatnya meninggal, ia tidak pernah ke ruangan ini lagi.
"Nanti kalau Alena sudah baik, kita kumpul ya. Om mau bacakan surat wasiat papa kalian." ucap Sakti.
"Aku gak peduli papa mau ngasih ke siapa. Yang penting orang itu bisa melakukannya dengan tulus." jawab Clara tenang.
"Oh ya, Dega hubungi kamu?"tanya Sakti.
"Belum. Hp aku dari semalem mati. Aku baru aktifin waktu tadi di jalan pas om telepon."jawab Clara.
"Tadi pagi Dega telepon. Katanya proses penyidikan Desy sudah dimulai. Surat panggilan hari ini kemungkinan sudah sampai. Kita tinggal ikuti proses dari pihak kepolisian." jelas Sakti.
Clara langsung menghubungi Dega untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Halo. Kalian itu sebenernya kemana? Aku tau Edward dateng ke tempat kamu. Dia gak bilang mau kemana. Tau-tau orangnya hilang." protes Dega.
Clara tertawa. "Kak, aku telepon mau tanyain kelanjutan kasus papa." jawab Clara malu.
Clara tersenyum. Ia berbisik. "Kita sangat sibuk semalam."
"Awas ya kalian!" Ancam Dega.
"Oke, oke, aku minta maaf kak. Sekarang aku tanya soal Desy, Gimana?" tanya Clara menyerah. Kakak Edward sudah terdengar kesal.
"Surat penyidikan udah ada di tangan Desy. Dia dipanggil sebagai tersangka. Kamu senang kan?" tanya Dega.
"Makasih kak, semuanya berkat tangan dingin dan pengalaman Kak Dega."
"Makasih juga karena membuat Edward berubah."ucap Dega.
Clara tertawa. "Dia berubah karena kemauannya. Bukan dorongan dari aku." ucapnya.senang. "Kak, makasih buat semuanya."
"Clara, kamu jangan senang dulu. Proses kita masih panjang. Yang aku takutkan, Desy kabur."
Clara terdiam. Ia menatap Sakti dengan serius.
Desy berlari ke kamarnya ketika ia sampai dirumahnya. Ia mengeluarkan semua uang yang ada di brangkas dan perhiasan-perhiasan milik suaminya. Ia mengangkat koper kosong untuk ia isi dengan pakaian. Ia berlari ke kamar dan ke ruang kerja suaminya dengan cepat. Ia panik. Ia tidak punya apa-apa lagi. Judi yang ia lakukan dengan hasil kuitansi fiktif perusahaan dinyatakan kalah. Penjualan saham pun gagal karena semua orang tidak jadi menjual sahamnya. Ia panik. Ia tidak mau menjadi miskin. Ia teringat anaknya yang sampai saat ini ia tidak tahu ada dimana anaknya. Sebelum pulang tadi ia sempatkan ke apartemen Adriana yang baru. Tapi hasilnya nihil. Ia tidak tahu dimana anaknya berada saat ini.
Ia mencoba menghubungi Adriana. Hanya menunggu dua kali panggilan, akhirnya teleponnya diangkat.
"Adri. Kamu ikut mama." ucap Desy cepat.
"Kabur?" tanya Adriana.
"Kita kabur sayang. Kita gak aman di kota ini. Kita pergi keluar negeri." jawab Desy dengan bibir bergetar. Tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Enggak ma, aku gak mau. Ngeliat mama aku jadi inget Edward. Aku masih sakit hati."jawab Adriana. Ia teguh pada pendiriannya, Ia tidak mau ikut ibunya.
"Kamu jangan menyesal, Adri. Kalo suatu saat kamu minta tolong sama mama, mama gak akan tolongin kamu!" teriak Desy kesal. Ia langsung membanting hanpdhonenya ke lantai karena kesal.
Adriana memeluk lututnya. Ia berdiam diri di pojokan kamar kontrakannya ketika ia menjadi mahasiswi dulu. Ia ketakutan. Ikut dengan ibunya akan membuat ia menjadi semakin bersalah nantinya. Saat ini tidak ada yang dapat membantunya. Ia menyayangi ibunya melebihi apapun. Ia bersedia meninggalkan semua kesenangannya hanya untuk membahagiakan ibunya. Tapi satu hal, ia tidak mau masuk kedalam penjara. Ia tidak mau merasakan dinginnya lantai penjara yang ia dengar sangat menakutkan itu.
"Maafin aku ma, aku gak mau ikut mama. Aku takut." bisiknya sambil menangis. Sejak awal ia pindah dari ibunya karena ia merasa ketakutan. Ia ketakutan pada dirinya sendiri.
Ia mencintai Edward setelah sekian lama ia menutup hati untuk orang lain. Ia juga sering terlibat dengan rencana ibunya. Karena hal itulah ia pergi. Ia ingin menenangkan diri sejenak dan melupakan Edward. Tapi mendengar ibunya mengatakan keamanan dirinya malam ini, apakah kali ini ia bisa menenangkan diri atas semua peristiwa yang sudah terjadi?