Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Firly the best



Firly berjalan bolak balik di teras rumahnya karena Clara belum pulang. Ia beberapa kali menghubungi Sandra tapi teleponnya tidak aktif. Siang ini ia mendapat telepon dari Sandra untuk meminta ijin membawa Clara pergi. Jika Sandra membawa Clara selama ini ia sudah pasti tidak akan mengijinkan. Bagaimana jika Alena tahu? Firly menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin memberi tahu Alena apa yang terjadi. Ia bisa dimarahi Alena.


Suara derung mobil diluar sana masih terdengar meriah. Entah harus menunggu berapa lama lagi. Handphonenya masih digenggam olehnya tapi Sandra tetap tidak bisa dihubungi. Jika saja ia mempunyai nomor telepon Calvin. Pasti ia tidak sepanik ini.


Terdengar pintu pagar dibuka. Firly langsung melihat siapa yang datang. Ia melihat Clara datang seorang diri. Ia terlihat sedikit pucat. Firly berlari menghampirinya.


"Clara, kamu dianter siapa?Mana Sandra?" tanya Firly panik.


Clara langsung memeluk Firly. Ia tidak mau menangis. Ia terlihat lemas. Firly langsung membawanya duduk didalam rumah.


"Kenapa Clara? Cerita sama Firly, kamu kenapa?" tanya Firly marah.


Clara menggelengkan kepalanya. "Jangan marah sama Kak Sandra. Dia gak salah. Aku yang salah."


"Kenapa sih kamu gak mau cerita?" tanya Firly kesal.


"Aku takut" jawab Clara.


"Jangan takut. Ceritakan sama Firly semuanya. Kamu harus mengeluarkan semua sakit kamu, Clara. Jangan dipendam sendiri. Aku kasian liat kamu. Aku peduli." ujar Firly. "Kamu percaya sama aku. Aku gak akan bilang ke siapapun masalah ini. Termasuk kakak kamu. Aku yakin kakak kamu belum tau masalah kamu yang lain selain tentang ibu tiri kamu."


Clara hanya mengangguk pelan. Ia menatap Firly untuk waktu yang cukup lama. Kemudian ia mulai menceritakan kejadian pertama kali mengapa ia pergi ke Phuket dan awal mula pertemuannya dengan Edward. Dan tentu saja kejadian yang menimpanya hari ini. Semuanya mengalir tanpa beban.


"B***NGAN Edward! Dia gak tau alasan kamu pulang? Trus ngapain dia bawa kamu ke apartemen dia?" tanya Firly kesal. "Aku samperin sekarang. Dia harus dikasih pelajaran." Firly berdiri dan berjalan keluar.


Clara menarik lengan Firly dan menggelengkan kepalanya. "Kak, aku memang sedih. Tapi, buat aku saat ini yang paling penting adalah merebut kembali perusahaan papa. Yang aku tahu, sekarang ini Edward udah punya pacar. Aku gak mungkin merusak hubungan mereka. Belum lagi wanita yang jadi mucikari orang-orang yang udah nolong aku dulu. Aku yakin mereka masih cari aku. Aku ini seperti buronan, Kak. Aku takut."


Firly kesal. "Tapi setelah kejadian yang menimpa kamu hari ini gak bisa dibiarin, Clara. Aku gak terima. Sekarang aku tanya, gimana perasaan kamu hari ini? Aku gak akan nanya perasaan kamu kemarin atau kemarinnya lagi."


"Hari ini aku kesakitan, Kak. Mendapati aku bangun tanpa pakaian dengan semua uang disebar diatas tempat tidur bikin aku shock. Itu terlalu sakit Kak" jawab Clara sambil menangis. Ia tidak sanggup membendung airmata yang disimpan terlalu lama. Menceritakan kejadian bersama Edward sangat menyakitkan hatinya karena saat itulah ayahnya tiada. Apalagi ia menerima semua perlakuan dan perkataan Edward yang begitu jahat. Kejadian yang telah terjadi hari ini ia harap menjadi kejadian terakhir Edward padanya. "Aku gak tau Edward udah melakukan apa sama aku? Apa dengan mempermalukan aku, dia puas?" tanya Clara.


"Kamu cinta sama Edward?" selidik Firly kemudian.


Clara hanya diam. Ia tidak mau menatap Firly.


"Kamu harus sembuh Clara, kamu harus cepat bangkit. Yang aku tau dari semua cerita kamu itu, pertama. Kamu harus bangkit untuk merebut kembali harta papa kamu. Yang kedua adalah waspada sama gerak-gerik mucikari itu. Yang ketiga, buat perhitungan sama Edward." ujar Firly geram. Clara hanya terdiam.


Edward duduk di tempat tidur yang keadaannya masih berantakan setelah kepergian Clara. Ia puas karena telah membalaskan dendamnya. Tapi ia penasaran, kenapa Clara tidak melawannya? Ia seperti memiliki dua kepribadian berbeda. Ia ingat kejadian sore ini.


***Ketika ia membawa Clara ke apartemennya dalam keadaan tidak sadar, ia menghubungi rumahnya.


"Kenapa?" jawab Dega.


"Apartemen aku berantakan. Aku tunggu sekarang!" seru Edward.


Ia kembali melihat Clara. Seandainya Clara tidak pergi saat itu, ia pasti sudah menikahinya. Bukannya kabur ke Jepang. Apakah ada pria yang jauh lebih kaya darinya?


Ketika sampai di apartemen, ia melihat pembantu rumahnya sudah berdiri didepan pintu apartemennya.


"Kok cepet?" tanya Edward bingung.


Pembantu Edward melihat wanita yang sedang digendong Edward.


"Kenapa pacarnya?" tanya pembantu itu bingung.


"Pingsan. Cepet masuk. Nomor passwordnya tanggal lahir aku, bi. Cepetan." seru Edward.


Wanita tua itu langsung memijit tombol sentuh pintu apartemen Edward. Ia membukanya dan berjalan lebih dulu.


Wanita itu terdiam ketika melihat apartemen Edward masih bersih. Tidak ada yang harus ia bersihkan. "Mana yang harus dibersihkan Ed?"


"Udah, bibi ke sini aja. Cepet!" seru Edward dari dalam kamar.


Wanita itu berlari ke kamar Edward. Ia melihat wanita muda itu.


"Ada tugas buat bibi. Tapi jangan bilang sama Dega soal ini." ucap Edward.


"Memangnya tugas bibi apa?"


Edward berbisik pada wanita itu. Dan wanita itu mengangguk mengerti.


"Inget, jangan sampai Dega tahu." seru Edward. Iapun keluar dari kamar dan berjalan ke ruang kerjanya selagi pembantunya melakukan tugasnya***.


Edward menghela nafas. Sejahat-jahatnya seorang Edward, ia tidak mungkin melakukan hal yang tidak senonoh pada wanita yang tidak sadarkan diri. Saat ini ia yakin Clara sedang menangis karena tidak mengingat apa yang sudah terjadi padanya sejak pulang dari restoran. Biarlah semua menjadi tanda tanya besar bagi Clara. Yang terpenting ia puas melihat Clara kesakitan seperti itu. Dari matanya ia dapat melihat kesedihan yang mendalam. Hanya saja ia tidak banyak berkata. Sekarang ia hanya menunggu, apakah gadis itu akan menceritakan kejadian ini pada Alena? Jika ia mengatakannya, Edward akan memberitahu semua orang apa yang telah terjadi antara mereka tanpa ia tutup-tutupi. Keburukan Clara akan terbongkar. Tidak ada tempat yang bisa Clara datangi karena ia akan mempermalukannya.


Iapun mengeluarkan handphonenya. "Halo, tuker tiket pesawat buat malam ini. Ya, ke Singapura." Ucapnya serius. Iapun berdiri dan mengambil tasnya. Ia akan pulang ke Singapura malam ini.