
Clara dan Edward baru saja turun dari pesawat malam ini. Tadi sore Edward harus menunggu Clara menyelesaikan pekerjaannya. Tapi penantiannya berguna karena ia dapat membawa Clara bertemu dengan kedua orangtuanya. Ia tersenyum selama di perjalanan tadi. Bahkan Clara sendiri kebingungan karena ia memegang tangannya terus selama perjalanan. Mereka tiba di bandara Changi pukul 9 malam. Rasanya mustahil langsung membawa Clara ke rumah orangtuanya.
"Ed.."panggil Clara ketika ia memasuki parkiran.
Edward berbalik untuk melihat Clara. "Kenapa?"
"Kemana kita sekarang? Kita gak mungkin dateng langsung ke rumah orangtua kamu kan?" tanya Clara gugup.
"Kita ke apartemen aku aja." jawan Edward santai. Ia mulai berbalik dan melangkah.
Clara langsung menarik tangannya kembali. Ia mundur selangkah. "Aku gak mau." ketus Clara
Edward mengerutkan keningnya. "Kenapa?" Ia berbalik untuk menatap Clara.
"Pergi ke apartemen kamu sama aja aku berimajinasi dengan apa yang udah kamu lakuin sama Adriana>" ucap Clara kesal.
Edward langsung tertawa. "Kamu masih cemburu?"
"Pokoknya aku gak mau ke apartemen kamu. Aku mau nyari hotel sendiri."Jawab Clara.
"Oke, oke, kita pergi nyari hotel. Jangan marah lagi." ucap Edward sambil menarik kembali tangan Clara. "Kamu cantik kalo lagi cemburu. Berulang kali aku bilang sama kamu kalo aku sama Adriana gak pernah melakukan apa-apa. Kamar kita terpisah kok." jelasnya sambil melirik Clara yang kini terdiam.
Mereka berdua memasuki mobil Edward yang terparkir khusus di bandara Changi. Edward memasang seatbelt Clara. "Aku semakin yakin kalo kamu bener-bener cinta sama aku. Aku gak sabar buat nikahin kamu secepatnya." bisik Edward sambil mengecup pipi Clara.
Suasana malam itu begitu tenang. Sebelum mereka check in hotel, Edward membawa Clara untuk berjalan-jalan menghabiskan malam disepanjang jalur orchad road. Sejak kecil hingga sekolah menengah, ia habiskan di sini. Beberapa pertokoan mulai ditutup ketika malam mulai larut. Ia lihat Clarapun beberapa kali menguap. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk berjalan-jalan dengannya. Edward semakin mempererat pelukannya pada Clara. Lelah yang dirasakan Clara karena bekerja tidak sebanding dengan ajakannya malam ini. Edward kadang berfikir, jika bisa, Clara tidak perlu bekerja. Dengan penghasilannya selama ini, ia bisa menghidupi Clara tanpa kurang apapun. Karena malam semakin larut, iapun memutuskan untuk membawa Clara untuk segera beristirahat.
*************************************************************************************************************************************************
Ami dan suaminya, Andi sudah siap di halaman belakang rumahnya. Mereka menunggu kedatangan Edward dan wanita yang akan ia kenalkan. Ami meneguk tehnya. Ia menatap laut. Angin sedikit lebih besar pagi itu. Beberapa hari yang lalu, ia mendapatkan telepon dari Edward. Ia akan kembali mengunjunginya dengan membawa kekasihnya untuk ia kenalkan. Ia ingin tahu bagaimana kriteria anaknya dalam memilih pasangan.
"Ma, kalau bulan depan kita kembali ke rumah, kamu setuju? Aku pikir disini kita udah gak ada kerjaa. Lebih baik kita pulang. Kita disana bisa melihat pertumbuhan anak Dega." ucap Andi tiba-tiba.
Ami langsung menatap suaminya. "Kenapa mendadak pah?"
"Enggak mendadak. Bulan depan kita pindah." Jawab Andi. Ia melihat wajah istrinya yang langsung berubah. "Aku tau kamu kecewa. Tapi aku pikir ini yang terbaik." tambahnya.
"Ma, Pah.." panggil Edward.
"Kamu udah dateng." jawab Andi
Edward memeluk bahu Clara dan mendorongnya untuk sedikit maju. "Kenalin. Ini wanita yang Edward pernah cerita. Namanya Clara." ucapnya senang.
Clara mengangkat wajahnya. Ia menatap wanita dan pria yang ada didepannya sambil mengangguk. ia tersenyum. "Pagi om, tante. Kenalkan. Saya Clara." ucapnya malu. Ia mengangkat tangan kanannya dan berjabatan tangan pada keduanya.
Andi berdeham. Sekali bertemu, ia langsung menyukainya. "Duduk. Anggap rumah sendiri." ucap Andi.
"Bagus. Kamu udah diterima papa. " Ucap Edward senang. Clara merasa malu. Ia langsung mencubit tangan Edward.
"Kamu lulusan apa?"tanya Ami tajam. Ia tidak peduli bagaimana wajah gadis yang disukai anaknya. Pendidikan menurutnya tetap nomor satu.
Edward menatap ibunya kesal. "Ma, buat apa nanya pendidikan Clara?"
"Loh, mama cuma tanya. Kalo wanita ini pendidikannya dibawah, untuk apa jadi istri kamu? Gimana kalian akan mendidik anak kalian nanti kalo pendidikan aja gak kalian utamakan."seru Ami.
Andi menatap istrinya kesal. Ia tidak menyangka istrinya akan mengatakan hal itu. "Cukup." ucapnya.
Clara menunduk sambil tersenyum hambar. Iapun mengangkat wajahnya dan menatap Ami. Bagaimanapun ia adalah ibu Edward. Ia harus menghargainya. "Maaf tante. Pendidikan saya gak tinggi. Sekolah menengah aja saya gak lulus." ucap Clara merendah.
"Mama kecewa sama kamu, Ed. Kamu gak pernah denger perkataan mama. Mama beberapa kali bilang sama kamu. Cari calon istri dengan pendidikan tinggi." ucap ibunya dengan nada tinggi.
Clara menggelengkan kepalanya. Edward menjadi semakin berani pada ibunya. Ia tidak mau keduanya terlibat adu mulut disini. Ia hanyalah orang luar yang Edward bawa kesana. Sedangkan Andi, pria itu langsung berdiri. Ia malas melihat istrinya seperti itu.
"Kamu keterlaluan, ma." ucap Andi sambil berjalan menjauhi mereka.
Clara tersenyum sambil menatap ibu Edward. "Maaf tante, pendidikan tinggi gak akan menjamin kesuksesan seseorang. Kalo tante mau tahu Clara ini siapa, tante bisa buka majalah forbes asia. Maaf kalo Clara bicara sedikit keterlaluan. Sampai jumpa lagi." ucapnya sambil berjalan menjauhi mereka.
"Edy!!" panggil seseorang.
Clara tidak dapat melepaskan wajah gadis baru tiba dan memanggil Edward dengan nada berbeda. Ia terlihat gembira sekali. Ia berlari dan memeluk bahu Edward. Clara hanya tersenyum samar. Ia melanjutkan kembali langkahnya.