
Perjalanan menuju rumah Nenek Siska membutuhkan waktu selama beberapa jam. Sudah dua bulan Clara tidak menunjungi semuanya. Edward sendiri tidak tahu jika ia pergi kesana. Jalanan sedikit ramai hari ini. Kemarin ia meminta ijin pada Om Sakti untuk mengunjungi kakaknya selama beberapa hari. Dan ia bersyukur karena pria ity menyetujuinya. Beberapa karyawannya telah diberikan mandat olehnya. Apalagi saat ini hotel sedang tahap renovasi menyeluruh. Pekerjaannya sangat banyak sehingga ia belum mendapatkan liburan.
Seelah pulang dari SIngapura minggu kemarin, Edward tidak pernah membahas tentang kejadian dengan ibunya lagi. Saat itu ia hanya memintanya untuk menunggu dan bersabar. Minggu kemarin adalah terkahir kali mereka bertemu. Biasanya Edward menghubunginya beberapa kali dalam satu hari. Tapi selama seminggu ini ia hanya menghubunginya satu kali setiap hari. Ia pikir Edward terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tidak enak berhubungan jarak jauh. Ia selalu berfikir seperti itu. Jika mereka ingin bersama, ssalah satu dari mereka harus menyerah. Tapi rasanya sulit. Mengingat keduanya memiliki peran penting di perusahaan.
Clara menghela nafas. Iapun tidak tahu bagaimana keadaan ibu tirinya di penajra saat ini. Ia pernah mengatakan pada Dega agar tidak melibatkannya masuk kedalam proses pengadilan. Ia tidak mau bertemu dengan wanita itu lagi.
Terlalu banyak berfikir, ia tidak sadar jika ia sudah sampai didepan rumah nenek Siska. Perjalanan selama beberapa jam tidak terasa olehnya, Iapun membelokkan mobilnya. Pintu terbuka dengan cepat, Mereka sepertinya sudah tahu siapa yang datang. Mereka cepat-cepat membukakan pintu sambil tersenyum padanya. Iapun parkir didepan museum milik kakak iparnya karena parkiran terlihat penuh. Dave dan kakaknya sedang tidak bekerja hari ini. Iapun turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah.
Tanpa mengetuk pintu, ia masuk karena pintu dalam keadaan terbuka. Terdengar suara seseorang sedang bercengkrama di belakang rumah. Ia yakin mereka ada di gasibu tempat nenek Siska diam untuk meminum teh. Ketika ia membuka pintu belakang, ia bisa melihat ketiganya ada disana. Mereka sedang berbincang da sepertiinya pembicaraannya seru.
“Halo!” Teriak Clara dengan wajah sumringah.
Ketiganya berbalik ke arah suara teriakan itu. “Clara?” ucap Nenek Siska terkejut.
Dave mengerutkan keningnya, Begitu pula dengan Alena. Ia bingung karena Clara datang dengan tiba-tiba. Ia bahkan tidak memberitahunya akan datang.
Clara berjalan cepat. Ia memeluk setiap orang. Ia benar-benar senang. Kemudian ia duduk disamping Alena. Ia memeluk lengan Alena dengan erat.
“Kamu kok kurusan?”tanya Alena.
“Aku diet kak.” ucap Clara.
Alena mengerutkan keningnya. Ia tidak mungkin diet. “Ada sesuatu yang lagi kamu pikirin? Edward tau kamu kesini?” tanyanya.
“Justru Edward gak tau aku kesini. Aku mau kasih surprise.” ucap Clara jahil.
Dave menimpali. “Gimana hubungan kalian. Aku denger kamu udah ketemu orangtua Edward?”
“Udah minggu kemarin.” jawab Clara.
“Trus gimana?” tanya Siska.
“Baik-baik aja nek.” jawab Clara sanbil tersenyum. Ia tidak mungkin mengatakan jika ibunya Edward menolaknya secara halus.
Alena tertawa. “Aku udah liat beritanya di youtube.”
Clara menggelengkan kepalanya. “Aku gak tau kenapa jadi viral. Padahal aku gak pernah nerima wawancara.”
“Kakak senang semuanya membaik. Tapi gimana Desy?” tanya Alena.
“Aku udah bilang sama Kak Dega. Aku gak mau terlibat di persidangan. Aku gak tau gimana mereka sekarang.” jawab Clara
“Mereka?”tanya Siska.
Clara mengangguk. “Desy sama Adriana. Setau aku Adri lolos dari hukum dan sekarang entah dimana dia berada.”
“Kamu masih harus hati-hati.” ucap Dave.
Clara mengangguk. Ia kemudian memeluk Alena. Ia memegang perutnya yang sedang dilapisi seperti kain. “Kenapa kak perutnya?”
“Therapy hangat. Kakak hamil lagi.” ucap ALena senang.
“Secepat itu?” tanya Clara sambil menutup mulutnya.
DIlain tempat
Adriana menatap koran bisnis dengan cover wajah Clara. Beberapa hari terakhir wajahnya serung masuk koran nasional. Banyak yang berapresiasi terhadap pekerjaannya. CEO muda dan bertalenta. Tidak hanya cantik tapi mentenangkan. Begitulah yang tertera di koran itu. Segera setelah membeli, ia beralri menuju rumah petaknya. Ia memutuskan pindah dari rumah kost terakhir karena takut poisi mengetahui jejaknya. Padahal ia sangat merindukan ibunya.
Sesampainya di kontrakan barunya, Adriana langsung duduk diatas tempat tidur tanpa alas itu. Kamarnya hanya berukuran dua meter persegi. Dan ia harus melakukan semuanya dari dalam kamar. Bau dan lembab sudah membuatnya terbiasa. Dikamarnya hanya terdapat kasur single tanpa alas dengan beberapa kantong keresek hitam yang berisi pakaiannya. Ia menjual barang-barang yang dimilikinya. Ia menyewa kamar ini dengan harga sangat murah dan ia bisa membayarnya selama beberapa bulan kedepan.
Ia membuka kembali koran itu dan melihat wajah Clara. Ia langsung meremas koran tersebut, Jika buka karena Clara, ia tidak mungkin mengalami hal seperti ini. Ia lulusan terbaik di kampusnya. Tapi sekarang ia tidak bisa mendapatkan pekerjaannya. Ia kecewa.
“Clara, Edward, aku pastikan kalian gak akan pernah bisa bersama. Tunggu pembalasan dari aku.” geramnya marah.