
Adriana pulang kerumah sambil menangis. Ia melempar tasnya ke lantai sehingga menimbulkan suara pecahan dari parfumnya. Ia berteriak karena kesal. Desy berlari menuju kamar anaknya.
"Kenapa Adri?" tanya Desy panik. Ia melihat Adriana sedang menangis di atas tempat tidur.
"Gara-gara mama, Edward marah sama aku. Dia gak terima pekerjaannya dipercepat." jawab Adriana
"Loh, itu kan permintaan kita. Kenapa mesti marah sama kamu?" tanya Desy bingung.
"Aku gak tau. Edward marah-marah sama aku tadi."
"Sayang, bangun." ucap Desy sambil duduk di samping tempat tidur.
Adriana menuruti perintah ibunya. Ia duduk dan melihat ibunya.
"Besok kamu harus susul Edward ke Singapura. Harus, gak boleh enggak."
"Besok aku pindahan apartemen ma.." seru Adriana.
Desy langsung marah, "Kamu lebih penting mana? Satu apartemen atau orang yang bisa ngasih kamu beribu-ribu apartemen?"
Adriana langsung terdiam. Obsesi ibunya melebihi apapun didunia ini. Bahkan perasaan anaknya pun rela diganti demi obsesinya.
Dilain tempat.
Alena baru saja membuat kopi untuk Dave. Malam ini adalah malam terakhir mereka berbulan madu. Besok siang ia kembali dan tentu saja akan mulai membuat rencana.
"Dave, aku cuma mau pas kita pulang nanti, perlindungan Clara nomor satu. Aku gak mau terjadi sesuatu sama dia. Kamu denger kan ucapan Om Sakti tentang ibu tiri aku? Dia bisa melakukan berbagai cara buat mengambil harta papa. Bahkan nyawa Clara jadi taruhan. Dia jahat." ucap Alena kesal.
"Om Sakti gimana?" tanya Alena.
"Om Sakti cukup jadi mata-mata keluarga kita. Gimana?"
Alena tersenyum. "Ide bagus. Tapi apa sahabat kita ada yang tau masalah ini?"
Dave menggelengkan kepalanya. "Gak ada satupun kecuali sahabat kamu, Firly. Nah, besok malam kita ketemu Dega. Jangan sampai Edward tahu. Calvin juga gak aku kasih tahu. Aku takutnya ada orang-orang disekitar kita yang berkoneksi langsung sama ibu tiri kamu."
Alena hanya mengangguk mengerti. Apapun yang direncanakan neneknya maupun Dave, ia yakin itu adalah ide yang bagus.
Clara terbangun dengan kepala sangat pusing. Ia tidak ingat apapun tadi malam. Tubuhnya terasa dingin dan ia menarik selimutnya. Tiba-tiba ia tersadar. Ia bangun dengan uang berceceran dimana-mana. Tubuhnya tidak memakai apapun.
“Kamu udah bangun?”tanya seseorang.
Clara melihat kesampingnya dan melihat Edward hanya memakai celana yang kemarin ia pakai. Tanpa berkata apa-apa, Clara menitikkan airmata. Ia tidak pernah berharap sesuatu seperti ini akan terjadi padanya kembali. Ini adalah kesalahan.
Perlahan Clara memungut pakaiannya dan memakainya dengan cepat. Ia masih dapat mendengar semua perkataan menyakitkan dari Edward. Airmatanya mengalir dengan deras diwajahnya tanpa permisi. Iapun memungut uang-uang itu dan membuangnya di kotak sampah yang ada dikamar itu. Ia berjalan menghampiri Edward. Ia mengangkat tangannya dan tamparan yang sangat keras mendarat diwajah Edward.
"Puas kamu?" tanya Clara dengan bibir bergetar.
Sebelum Edward menyentuh pipinya, ia melihat Clara masih membuang uang-uangnya ketempat sampah. Ia terkejut atas sikap Clara. Bukankah yang gadis itu biasa lakukan adalah membawa uangnya pergi?
Ketika Clara berjalan menuju pintu, ia mendengar kata-kata Edward yang menyakitkan hatinya. “Pergi dari sini dan jangan perlihatkan wajah kamu lagi. Uang-uang itu cukup untuk membayar pekerjaan kamu semalam. Kamu luar biasa, Ara sayang.” Ucap Edward sambil tertawa.
Clara keluar sambil membuka pintu dan berlari keluar. Edward tersenyum senang. Pada akhirnya dendamnya telah terbalaskan. Ia bahagia. Begitulah yang ia rasakan saat itu. Merasa dipermainkan.