Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Hati ke hati



Edward membawa mobilnya kencang entah kemana. Ia terdiam dan hanya fokus pada objek didepannya. Ia tidak mau melihat Clara sedikitpun. Dalam pikirannya hanya ada satu orang yang ia pikirkan yaitu ibunya. Apa yang telah ibunya lakukan pada Clara?


Clara hanya terdiam tanpa tau kemana ia akan dibawa pergi. Beberapa mobil dan pejalan kaki bahkan hampir ditabrak oleh Edward. Ia memegang erat pegangan tangan yang berada diatas kepalanya. Selama berpacaran, edward tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dari cara ia pamitpun tadi terlihat tidak menyenangkan. Apakah ia tahu apa yang terjadi padanya tadi?


"Stop Ed!" protes Clara. Ia melihat Edwrad yang tengah serius


"No. Bentar lagi sampai." ucapnya kesal. Beberapa kali ia melihat Clara menangis tapi tidak menyakitkan sepertiĀ  hari ini. Ia melihatnya ketika ia berada dirumahnya sendiri. Ada kedua orangtuanya dan saudara-saudaranya.


"Ed! Please Stop! Aku takut!" teriak Clara. Ia menarik kaos polo yang digunakan Edward.


Jalanan mulai menanjak namun Edward tetap tidak bergeming. Clara mulai kehilangan akal untuk menghentikan Edward. "Aku keluar sekarang kalo kamu tetep maksa ngebut." ucap Clara sambil mencoba membuka pintu.


"Oke, oke, aku berenti. Sebentar." ucap Edward dan laju kendaraan mulai normal.


"Kamu nyebelin." ucap Clara kesal. "Acara belum selesai, tapi kamu ngajak aku gak tau kemana. Katanya ibu kamu mau deket sama aku." tambah Clara sambil melihat keluar.


"Aku emang nyebelin kalo lagi marah." Ucapnya sambil tersenyum. Ketika sampai diatas, iapun parkir. Banyak mobil yang parkir disana. Clara sama sekali tidak tahu tempat ini. Edward keluar dari mobil terlebih dahulu. Kemudian ia membuka pintu mobil disampingnya.


Clara keluar sambil menengok kekiri dan kekanan. Angin dingin mulai menusuk kulit. Sedangkan ia hanya memakai pakaian dengan bahu terbuka.


"Ada dimana kita?"


Edward memeluk bahu Clara. "Yang pasti kita bisa ngobrol disini lebih lama." Mereka berjalan menuju tempat yang dituju walaupun sebenarnya Clara tidak pernah tau dimana ia sekarang. "Aku pernah berfikir buat ngajak kamu kesini. Pemandangan disini bagus. Udaranya sejuk. Kita bisa ngobrol lama dan tanpa gangguan. Aku surprise pas liat kamu ada di kantor."


"Kamu seneng aku ada disini?" tanya Clara hati-hati.


Edward mencubit pipi Clara dengan satu tangannya. "Pacar bodoh yang gak suka pacarnya ada disini. Hubungan jarak jauh itu sulit. Aku gak bisa ketemu kamu setiap saat." jawab Edward pelan.


"Ada Sasha. Kamu deket banget sama dia." ucap Clara.


Edward tertawa. "Dengerin aku, mau kiamatpun aku gak bakal menikah sama Sasha. Dia itu udah aku anggap kayak adik aku sendiri. Kita deket layaknya keluarga." jelasnya.


"Tapi mama kamu seneng tuh kalo Sasha yang jadi menantunya. Bukan aku." jawab Clara yang melepaskan pelukan di bahu Edward dan berjalan terlebih dahulu.


"Ed, aku mau jujur sama kamu." ucap Clara pelan. Ia menatap wajah Edward serius.


Edward memegang tangan Clara dan tersenyum sambil menatapnya. "Ya. Jujur aja. Aku dengerin semua."


"Aku lelah kalo harus gini. Kenapa hubungan kita sulit? Pertama masalah aku. Aku diculik, dan banyak kejadian yang baru selesai sekarang. Sekarang masalah ada di kamu. Kenapa hubungan kita sulit banget?" ucap Clara sedih. Ia menundukkan kepalanya.


Edward mengangkat wajah Clara. "Jangan menyerah, sayang. Kalo sampe mama gak setuju sama hubungan kita, kita kawin lari. Aku gak mau nikah sama orang selain kamu. Banyak wanita yang datang. Aku dicap playboy sama kota ini. Belum media. Tapi gak ada satupun yang bikin aku jatuh cinta. Secantik apapun mereka, gak ada yang lebih cantik dari kamu. Gak ada yang bisa bikin jantung aku berdebar kayak aku ketemu kamu di pesawat pertama kali." Jelasnya.


Clara meneteskan airmata. Tidak pernah ada yang rela berkorban seperti itu. Edward menghapus airmata yang menetes di pipi Clara. Ia berbisik. "Jangan nangis. Aku gak tega. Aku gak mau nyakitin kamu. Semuanya perlu proses. Kita berdua harus sabar dan menunggu." Clara hanya mengangguk.


"Mama aku ngomong apa tadi. Kamu harus jujur sama aku?" tanya Edward.


Clara terdiam sejenak. "Aku gak mau kamu marah sama mama kamu." ucap Clara. Edward langsung menyilangkan jarinya. Ia tersenyum.


"Mama kamu mungkin menunggu cacatnya aku. Kalo suatu saat aku ada masalah yang bikin keluarga kamu malu, mama kamu yang akan memisahkan kita. Sasha, sahabat kecil kamu itu yang paling disetujui sebagai calon istri kamu. Sasha cantik, lulusan S2 Inggris. Karena menurut mama kamu lulusan S2 itu paling membanggakan. Berbeda jauh sama aku. Aku? Lulus sekolah menengah juga enggak selesai." jawab Clara hati-hati.


"Tapi kamu lebih kaya." goda Edward. Clara hanya mengerutkan keningnya. "Aku serius Ed."


"Mama ngomong gitu?"tanya Edward. Ia langsung berdiri dan duduk disamping Clara. Ia memeluk Clara dengan erat. "Aku gak peduli latar belakang seperti itu. Sasha udah aku anggap kayak adik aku sendiri. Aku gak mau sama dia. Kalo kamu mau tau, pendidikan dia tinggi tapi kenapa dia masih belum dapet pekerjaan? Sedangkan kamu? Kamu sekarang seorang CEO sebuah perusahaan. Asal kamu tau, banyak yang naksir kamu. Aku sampai harus menahan godaan cemburu gara-gara itu. Dan mereka terang-terangan bilang sama aku kalo mereka suka sama kamu. Kalo kita tunangan nanti, otomatis banyak media yang meliput. Aku baru bisa tenang. Jadi, please jangan banding-bandingkan hal itu. Mau sekolah tinggi atau enggak, mau kaya atau enggak, aku gak peduli."


Clara memeluk Edward. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Edward dan mulai tersenyum.


"Besok aku mau seharian sama kamu. Besok kamu masih ada disini kan?"tanya edward.


"Kamu kan kerja." jawab Clara.


"Kamu dateng ke kantor. Aku mau sarapan, makan siang, makan malam sama kamu. Sekalian kita panasin Sasha. Dia juga ikut terlibat kan sama mama? Padahal dia udah punya pacar. Kenapa dia jahat? Sekalian kita tunjukin sama dia kalo kita gak bisa dipisahkan" ucap Edward.


"Oke" jawab Clara senang.