Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Wedding Dave p.2



Edward turun dari taxi setelah membayar ongkos taxi. Ia melihat gedung didepannya. Hotel mewah yang memang pas untuk Dave dan Alena menikah. Ia melangkah kedalam. Ia dapat melihat Calvin sedang berdiri diluar. Ia seperti menunggu seseorang. Dan wanita itu ada disana. Dimana ada Calvin, disitulah ada Sandra. Sepertinya jika ia membuat rencana untuk mereka berdua akan seru. Lagipula Calvin harus lepas dari wanita yang saat ini ia tidak tahu ada dimana.


"Ed, cepetan! Kamu belum ganti." seru Sandra. Ia mendorong Edward ke ruang ganti pria. Dan ia dapat melihat Dave disana. Ia sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Rasanya aneh tapi memang seperti itulah rasanya jika melakukan pesta pernikahan.


"Jangan ngeliatin Dave terus. Nanti juga kamu bakal ngerasain." ucap Sandra cepat. Ia berlari membawa baju ganti untuk Edward.


"Kalian dulu yang nikah. Aku terakhir." bisik Edward. Ia sangat dekat pada Sandra.


Terdengar suara berdeham dibelakangnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Calvin sedang berdiri sambil berkacak pinggang.


"Sandra, kamu mau disini terus? Mau liat Edward ganti baju? Cepet pergi ke Alena. Kamu itu pengiring pengantin perempuan." seru Calvin.


Sandra tersipu malu. "Aku lupa.." ucapnya. Ia berlari keluar.


Disaat Edward ganti baju, Calvin mengeluarkan kunci kamar hotel. Ia memberikan pada Edward. "Kamu aja yang atur. Dave udah pesenin kamar buat kita." ucap Calvin.


"Kita mau ikutan bulan madu?" tanya Edward sambil tertawa.


"Aku takut kalian capek. Makanya pesen kamar." ucap Dave sambil berjalan menghampiri mereka.


"Kamu ganteng banget, Dave." goda Edward.


"Udah pasti. Kalo gak ganteng, gak mungkin Alena mau." jawab Dave sambil tertawa.


"Udah waktunya. Kita keluar." ucap Calvin ketika ia melihat pintu terbuka dan seseorang masuk untuk memberitahu acaranya akan dimulai.


"Aku deg-degan. Aku belum ketemu Alena hari ini." bisik Dave.


Alena diapit oleh Sandra dan Firly disampingnya. Sedangkan Clara berada dibelakangnya untuk memegang gaun pernikahan Alena.


"Clara, awas kamu nginjek baju Alena." ucap Firly.


"Ya, aku hati-hati kok." ucap Clara.


Mereka berjalan dan memasuki hall.


"Alena cantiknya kebangetan." goda Edward.


"Istri Dave emang harus cantik." jawab Dave senang. Ia terpesona melihat kecantikan Alena malam ini.


Edward terus menatap Alena. Namun ada seseorang yang membuatnya tertarik. Dibelakang Alena terlihat ada seorang wanita yang tengah sibuk membetulkan gaun pengantin Alena. Ia harus miring ke samping untuk melihat wanita itu. Namun ketika wanita itu menatapnya, kedua bola matanya membesar. Ia tidak percaya atas apa yang dilihatnya saat ini. Wanita itu ada disana. Setelah sekian lama ia mencari dan akhirnya ia menyerah. Wanita itu ada disana. Sangat sulit untuk percaya. Apa yang dilakukannya pada Alena? Bagaimana ia bisa mengenal Alena? Siapa wanita itu sesungguhnya? Yang pasti ia mengetahui jika wanita penipu itu bernama Ara.


Clara terkejut setengah mati pada pria itu. Pria itu menatap tajam padanya. Wajahnya sangat berbeda dengan wajah pria yang ia kenal ketika di Phuket dulu. Tidak ada kehangatan. Ia terlihat marah. Clara menunduk ketakutan. Ia mundur bahkan sebelum Alena dipertemukan dengan Dave. Tubuhnya bergetar. Ia belum siap bertemu pria itu.


Edward terus memperhatikan gadis itu. Tapi sayangnya gadis cantik itu langsung memalingkan wajahnya. Ia menghindar. Gadis yang tidak akan pernah ia lupakan. Gadis yang telah melukai harga dirinya. Ia mengepalkan tangannya karena marah. "Berani-beraninya dia senyum!" pikirnya kesal. Ia melihat Ara sedang tersenyum pada Firly dan Sandra.


"Kenapa Ed?"tanya Calvin bingung.


Pernikahan itu telah berjalan dengan lancar. Clara merasa bahagia sekaligus terharu. Ia tidak pernah menatap tamu satu persatu dan fokus pada kakaknya. Perlahan ia bisa membaur dengan tamu-tamu walaupun ia harus menghindari tatapan seseorang.


"Clara, kenalin temen-temen aku sama Alena. nanti pasti kamu sering ketemu mereka." Ucap Dave yang langsung menarik Clara yang saat itu sedang sendiri.


Clara mengikuti langkah Dave yang saat ini sudah menjadi kakak iparnya. Sedangkan Alena tengah merapikan dandanannya didalam ruangan. Ia menatap kedepan sambil terus menyunggingkan senyumannya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia tidak dapat bergerak ketika melihat seorang pria yang terus menatapnya dengan tajam. Kenapa Dave harus membawanya ke teman-temannya?


Pria itu, pria yang hampir saja menikahinya. Kini ia tidak dapat bergerak ketika ia sudah mendekat. Ia takut dan ragu untuk mengikuti langkah Dave.


"Sini, Clara.." tarik Dave.


"Siapa Dave?" tanya Calvin yang baru menyadari sosok wanita lain di belakang Dave. "Jangan bilang ini calon istri kedua kamu?"


Dave tertawa. "Jangan ngaco, Vin. Ini temennya Alena. Baru datang dari Jepang minggu lalu. Dia gak punya temen disini. Aku ajak gabung."


"Aku udah kenalan." seru Sandra semangat.


"Oh gitu, udah punya pacar belum? Clara kan namanya? Tadi Dave manggil gitu." tanya Calvin yang langsung mendapat cubitan dari Sandra. "Bukan buat aku, Sandra.. Buat orang dibelakang kita!" jawab Calvin.


"Enak aja. Bukan tipe aku. Aku udah punya pacar paling cantik, paling setia, paling sexy dan paling pintar kalo diatas tempat tidur." Jawab Edward tanpa melepaskan tatapannya pada Clara.


"Edward, kamu ngomong apaan sih!" seru Sandra marah.


"Loh, wanita modern jaman sekarang kan gitu. Bener gak? Coba tanya ke siapa tadi namanya? Clara ya bukan Ara.." tanya Edward pada Clara.


Clara hanya menunduk sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu jika pria didepannya kesal dan marah padanya. Tapi tidak seperti ini caranya. Ia menghela nafas. Iapun berbisik pada Dave.


"Kak, aku harus ke WC dulu." ucap Clara pada Dave. Ia mundur dari kumpulan orang-orang itu.


"Clara!" panggil Firly.


Clara menoleh. Ia melihat Firly melambaikan tangannya.


"Aku pergi dulu." ucap Clara tanpa mau melihat pria itu lagi.


Clarapun pergi dengan cepat. Tapi tidak ke WC, ia langsung pergi menghampiri Firly.


"Makanya kalo ngomong itu yang bener, Ed." Ucap Sandra kesal.


"Emang salah aku ngomong gitu?"jawab Edward tenang.


"Salah besar. Kamu gak liat situasi. Kamu gak liat tadi temen Alena pucet gitu mukanya" Jawab Dave.


"Not my problem." jawab Edward sambil berlalu pergi meninggalkan Dave dan Calvin.