Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Panggilan Darurat Om Sakti



Clara tersipu malu ketika ia berada di perjalanan menuju villa. Perjalanan kali ini ia tidak menggunakan bodyguard karena semalaman ia tidak pulang. Jalanan terlihat tidak begitu padat. Ia membawa mobil Edward pulang seorang diri setelah mengantarnya ke bandara pagi ini. Ia mengingat surprise darinya tadi malam. Edward masih sama seperti dulu. Ketika mereka berada di Phuket untuk pertama kali, Edward biasa bersikap seperti itu.  Ia adalah pria romantis. Wanita mana yang tahan dengan perilaku romantisnya. Ia sangat beruntung memiliki pria itu disampingnya. Edward bukan orang jahat. Itulah yang ia rasakan selama ini. Semuanya akan kembali ke semula. Ia senang.


Suara dering telepon mengganggunya. Ia melihat handphonenya, Om Sakti menghubunginya. Tidak biasanya. Ia yakin ada hubungannya dengan perusahaan. Iapun mengangkatnya dengan cepat.


"Halo om."


"Clara, kamu bisa ke kantor om sekarang?" tanya Sakti. Dari belakangnya terdengar suara seseorang yang sedang berbicara. Suasana kantornya terdengar ramai.


Dari nada suaranya, ia terdengar panik. "Kenapa om?"


"Kamu ke kantor om sekarang, ada sesuatu yang penting." ucap Sakti.


"Oke Om, aku kesana sekarang." jawab Clara.


Clara langsung membawa mobilnya menuju kantor Om Sakti yang berada kurang lebih 15 kilometer dari tempatnya berada. Ia berharap kali ini bukan berita buruk yang didengarnya.


Ketika sampai dikantor Om Sakti, terlihat beberapa karyawan tampak sibuk. Di kantor Om Saktinya sendiri terlihat ada beberapa orang berpakaian formal yang ia sendiripun tidak tahu siapa mereka. Clara berjalan cepat menuju ruangan Om Sakti. Ia mengetuk pintu pelan. Orang-orang yang sedang berkumpul untuk membahas kertas yang mereka pegang langsung menoleh serentak. Om Sakti berdiri dan membuka pintu. Ia terlihat lega.


"Masuk, Clara. Dari semalem kamu dihubungi sama Om tapi susah." protes Sakti.


"Ada apa Om?"tanya Clara bingung. Ia melihat orang-orang yang ada di ruangan menunduk.  Clara melihat orang-orang itu dengan bingung. "Mereka siapa?"bisik Clara.


"Ini semua karyawan perusahaan papa kamu. Ini adalah tim kuat yang sudah papa kamu siapkan. Ada Accounting, Human Resources, Finance dan ada beberapa yang belum datang disini." ucapnya pada Clara. Ia kemudian duduk dikursinya dan Clara duduk disampingnya. "Perhatian, ini adalah Clara. Mungkin dari kalian ada yang udah tau. Tapi mungkin ada yang belum tau juga. Clara ini adalah anak bungsu dari almarhum CEO kalian. Aditya." ucapnya sedikit lebih kencang.


Clara mengangguk sambil melihat satu persatu orang yang ada disana. Ia tersenyum walaupun dalam hatinya masih bingung. Kenapa orang-orang ayahnya ada disini?


"Kita butuh bantuan kamu, Clara. Cuma kamu harapan kita." ucap Sakti serius. "Perusahaan kita sedang ada masalah."


"Beberapa pemegang saham berencana menjual saham mereka ke bursa saham besok siang. Kita memerlukan bantuan kamu untuk mencegah mereka menjual saham kepada pihak lain. Karena Desy, kepercayaan mereka berkurang. Mereka mulai berfikir untuk menjualnya. Kalau sampai mereka menjual saham yang totalnya ada 40 persen, Om gak yakin gimana kita bisa bertahan. Saham kita sudah anjlok" jelas Sakti.


"Kita bertahan dengan 60 persen yang ada." jawab Clara cepat.


"50 persen saham milik kalian akan dijual Desy. Itupun akan terjadi kalau saham 40 persen sudah terjual." jelas Sakti.


"Ya Tuhan, Desy.. dia masih belum puas kalo belum dapat harta papa." bisik Clara sambil menundukkan kepalanya. "Mana Om kontak para pemegang sahamnya?" tanya  nya cepat.


"Kamu mau apa?"tanya Sakti.


"Katanya Om perlu bantuan aku. Biar aku yang bertindak." ucap Clara cepat.


"Kamu harus didampingi salah satu dari mereka. " ucap Sakti.


"Gak masalah. Aku harus bertindak hari ini juga. Om siapkan orangnya. Aku tunggu di mobil. Jangan lupa nomor telepon atau apapun itu." ucap Clara serius. Ia berdiri dan keluar dari ruangan Sakti. Ia melangkah dengan serius.. Ia tidak berbalik ke belakang untuk melihat siapa yang ditunjuk Om Sakti untuk mendampinginya.


Dipesawat.


Edward tersenyum sendiri. Hari yang ditunggu-tunggu akan tiba. Kedua orangtuanya yang sangat sibuk karena usaha dan acara mereka, membuatnya berfikir jika ini adalah saat yang tepat untuknya mengatakan sesuatu yang serius. Selama ia tinggal di Singapura beberapa bulan yang lalu, ia bertemu dengan kedua orangtuanya hanya 2 kali dalam satu bulan. Ia berharap semuanya akan cepat dan tidak ada halangan.


Perjalanan masih satu jam lagi. Ia melihat minuman yang ia pesan sudah hampir habis. Iapun melihat ke sekeliling penumpang, kelas bisnis tidak terlalu penuh. Iapun mengeluarkan handphonenya. Wajah Clara ketika tertidur adalah wajah paling cantik yang pernah ia lihat. Ia tersenyum sendiri.


Tunggu aku. Kita akan mengakhiri kesendirian kita secepatnya. Ucapnya dalam hati.