
Clara terdiam. Ia hanya menunduk tanpa mau melihat pria didepannya. Suasananya terasa dingin dan gelap. Angin malampun terasa menusuk kaki dan tangannya. Pria didepannya terus menatapnya dengan tajam. Ia tidak menyangka pria ini akan mencari keberadaannya. Sedangkan kakaknya sendiri tidak tahu dimana ia berada.
"Ara.." bisik pria itu. Ia membuka kacamata hitam yang digunakan Clara.
Clara mengangkat wajahnya. Ia hanya menatap pria itu tanpa mengatakan sesuatu. Ia memikirkan sesuatu. Tadi pagi ketika ia menghubungi kakaknya, ia sempat mengatakan jika pria didepannya ini marah pada suaminya hanya karena ia mengirimnya ke bali untuk sebuah pekerjaan. Dan ia merahasiakan kepulangan Clara ke rumahnya. Apakah pria ini begitu menginginkannya sampai-sampai ia melakukan hal seperti itu? Tapi bagaimana bisa?
"Kenapa kamu pergi? Kamu seneng banget ninggalin aku, Ara." bisik pria itu dengan nada kesal. Ia memukul tembok disamping kepalanya dengan salah satu tangannya.
Clara memegang tangan Edward. "Jangan marah sama Dave. Aku yang memutuskan buat pulang."
"Kenapa kamu gak bilang? Kamu gak tau aku takut banget. Tadi pagi aku masih di Bali waktu kakak kamu bilang kamu pergi." ucap Edward.
"Bilang gak bilang sama aja."
"Kemanapun kamu pergi, aku pasti bakal nemuin kamu." ucapnya tajam.
Clara tersenyum. "Waktu aku diculik kamu gak bisa temuin aku, Ed." jawabnya cepat. Rasanya ia tidak berani marah pada orang yang melakukan perjalanan selama 3 jam hanya untuk menemuinya. Ia merasa es dalam hatinya mulai mencair.
Edward langsung memeluk Clara erat. "Please, jangan pergi lagi. Penculikan kamu jadi mimpi buruk buat aku. Aku menyesal karena gak tau apa yang terjadi. Harusnya waktu itu aku gak menyerah buat menemukan kamu. Tapi kali ini aku janji jagain kamu. Jangan pernah pergi lagi. Kemanapun kamu pergi, aku harus ikut."
Clara tersenyum. Ia membalas pelukan Edward.
"Kamu maafin aku kan? Jangan marah lagi, jangan menjauh dari aku lagi. Please. Aku serius sama kamu, Ara" ucap Edward. Nadanya terlihat lelah.
"Ara? Kamu gak marah aku bohongin kamu soal nama Ara?" tanya Clara.
"Kenapa mesti marah? Cuma itu nama yang aku tau. Lagian aku tau kalo Ara itu nama panggilan kamu waktu kecil." jawab Edward sambil mempererat pelukannya. Ia menundukkan kepalanya dan mencium bahu Clara.
Clara tersenyum. Ia membawa Edward untuk duduk di taman. Ia menggenggam tangan pria itu erat. Rasanya berada dekat dengan Edward, ia merasa semua masalahnya akan selesai. Ketika mereka berada di Phuket, saat itu ia sedang ada masalah. Kali inipun sama.
Merekapun duduk bersama di sebuah bangku taman. Mereka berdua terdiam cukup lama. Tangan Edward memeluk bahu Clara. Sedangkan Clara menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung Edward dengan jelas.
"Kalau semua masalah kamu beres, ayo kita ke Phuket lagi. Cerita kita belum selesai disana." ucap Edward seketika.
Clara melepaskan pelukannya. "Phuket? Kamar itu lagi?" goda Clara.
"Setiap aku ada kerjaan ke Phuket, aku suka tidur di kamar itu. Entah kamu mau percaya atau enggak. Tapi kamar itu memang banyak kenangan." bisik Edward tepat di telinga Clara.
Clara tersenyum malu.
"Malu?" tanya Edward.
"Iya."
"Kamu yang mulai.." ucap Edward.
Clara tertawa. Ia menunduk dan menyimpan kepalanya di dada Edward. Tidak ada hari yang paling menyenangkan selain malam ini.
Thanks God, lelahku berarti. ucap Edward dalam hati.
"I love you.." bisik Edward.
"Kamu masih malu-malu sama aku?" goda Edward.
"Iya." jawab Clara malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Edward melepaskan tangan Clara dan menundukkan wajahnya. Ia mencium Clara dengan lembut. Ia melepaskan semua kegalauannya selama ini. Inilah Ara-nya. Inilah wanita yang ia inginkan selama ini.
Clara pun menyambutnya. Kepenatannya berkurang ketika Edward ada di sampingnya.
"Non, minumannya udah siap didalem." ucap Bi Rumi menggagalkan acara romantis malam itu. Ia sedikit terkejut melihat apa yang terjadi.
Mereka langsung melepaskan satu sama lain. Clara langsung berdiri dan hampir terjatuh jika saja Edward tidak memegang tangannya. Wajahnya merah.
"Bi, udah tau kalo ada tamu?" tanya Clara gugup.
"Udah non." jawab Bi Rumi malu.
"Mau dibikinkan makanan juga? Kasian pacarnya non Clara udah nunggu dari tadi."
Clara menatap Edward. "Emang udah berapa lama kamu nunggu?"
"Kata ibu ini, kamu baru pergi pas aku dateng." jawab Edward.
Clara langsung menatap Bi Rumi. "Bi, bikinin makanan juga. Aku juga belum makan."
Bi Rumi hanya mengangguk. Ia langsung berlari ke dalam.
"Pembantu kamu ganggu acara kita." ucap Edward.
Clara langsung mencubit perut Edward. "Dasar!"
Dilain tempat.
Setelah pesta itu berakhir, Adriana diam seorang diri di kamarnya. Ia mengingat Edward. Ia ingin menemui Edward saat ini. Hari spesialnya yang sangat ia tunggu untuk berada disamping Edward telah berubah sirna. Edward membencinya.
"Kamu kenapa?" tanya Desy. Ia masuk ke kamar Adriana tanpa mengetuk pintu.
Adriana melirik sekilas.
"Ma, aku lebih baik tinggal di apartemen aja. Setiap aku liat mama, aku inget sama Edward." ucap Adriana dengan nada kesal.
"Kamu gak mau tinggal sama mama?" tanya Desy
"Rumah ini bukan rumah kita ma. Kita pergi aja. Kalo aku pergi, mungkin aku bisa perlahan ngelupain Edward."
"Jangan aneh kamu! Mama akan tetap bertahan tinggal dirumah ini. Ini rumah mama." jawab Desy. Ia marah dan berjalan ke pintu keluar. Ia membanting pintu kamarnya dengan kencang.
Adriana langsung berdiri. Ia mulai mengemas pakaian-pakaiannya kedalam koper. Ia menangis. Ia tidak pernah berharap akan memiliki perasaan pada Edward pada akhirnya. Ia bisa merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan.