
Clara menatap Edward curiga. "Mau apa kamu kesini?" tanya nya ketus.
Edward tersenyum. Ia masih memegang tangan Clara. "Aku dateng buat jagain kamu, sayang."
Clara melepaskan tangan Edward. "Stop panggil aku sayang. Aku bukan pacar kamu."
Edward melepaskan tangannya. Ia tetap tersenyum padanya. "Tadi Dave telepon aku buat kesini. Alena tadi masih pucet jadi aku ada disini. Kamu perlu apapun aku pasti ada." ucapnya percaya diri.
"Aku bisa sendiri tanpa bantuan kamu." ucap Clara sambil turun dari ranjang rumah sakit.
Edward memegang lengan Clara agar tidak menjauhinya. "Kenapa jadi dingin gini? Aku cemas sama kamu, Ara."
"Untuk apa kamu cemas sama aku? Yang harus kamu cemasin itu Adriana. Bukan aku!" jawab Clara kesal.
Edward tersenyum jahil. "Kamu cemburu sama Adriana?"
Clara mengerutkan keningnya. Cemburu? Iapun berbalik. "Aku cemburu sama wanita gila itu?" tanya Clara marah. "Kamu tau gak apa yang dia lakuin sama aku?"
Edward mengangguk mengerti. "Aku tau semua. Makanya aku menjauh dari Adriana. Aku udah putusin semua kontrak kerjaan dengan perusahaan papa kamu."
Clara berbalik dan mengambil tasnya. Ia kemudian berjalan keluar untuk menemui suster. Pembayaran kamarnya sudah dilakukan oleh kakaknya. Ia hanya tinggal keluar. Jika mengingat kejadian tadi sore, ia masih merasa takut jika orang-orang Desy masih ada diluar. Mendengar langkah kaki pria itu, ia tahu jika Edward masih ada dibelakangnya.
"Ara, sayang. Aku anter pulang." ucapnya.
Clara semakin memperlebar langkahnya. "Aku gak mau. Diluar banyak taxi. Aku bisa pulang sendiri." jawabnya sewot.
Edward langsung mengangkat tubuh Clara di bahunya. Ia mengangkat tubuh Clara seperti mengangkat anak kecil. "Jangan nakal. Aku anterin pulang."
"Turunin aku, aku masih sakit." pekik Clara.
"Gak akan aku turunin sampe kita nyampe ke parkiran. Kamu gak sakit kok. Lagian tadi aku tanya sama dokter, kondisi kamu baik-baik aja." jawab Edward tanpa merasa malu ketika orang-orang sudah melihat mereka.
Ketika mereka sampai di parkiran, Clara diturunkan di kursi penumpang sebelah supir. Edward mengurung Clara di kursi mobil. Ia menatap Clara tajam. Wajah mereka berdekatan.
"Aku bakal teriak kalo kamu berani macem-macem sama aku." ancam Clara.
Edward tersenyum. "Makanya jangan nakal. Aku cuma ngetes kamu aja." bisiknya. Ia langsung menutup pintu mobilnya dan berlari ke kursi supir.
"Ara, aku pasti bantuin kamu buat ngejatuhin ibu tiri kamu." ucap Edward mengakhiri kediaman mereka selama di perjalanan.
"Aku gak butuh bantuan kamu. Aku bisa lakukan sendiri. Ada pengacara papa aku yang selalu siap disamping aku." jawab Clara dingin.
Edward melirik Clara. "Pengacara kamu bukannya Dega?"
"Ara, segitu bencinya kamu sama aku sampe ngobrol aja kamu gak mau liat aku?" tanya Edward sedih.
Clara terdiam.
"Kamu benci sama aku?" tanya Edward lagi.
"Aku benci karena kamu ada di lingkaran masalah aku." jawab Clara penuh emosi ketika mengatakannya.
"Aku berani sumpah Ara, aku gak kenal sama sekali sama Adriana dan mamanya. Adriana datang karena mereka mau merenovasi resort papa kamu. Karena hubungan bisnis itulah, akhirnya kita dekat." jelas Edward.
"Tetep aja kalian pernah bareng. Asal kamu tau, Adriana itu musuh besar aku. Gara-gara dia, papa jadi beralih sama dia. Dia gak sayang aku lagi." rengek Clara.
Edward mencubit pipi Clara. "Ada aku yang sayang sama kamu." gombalnya.
Tiba-tiba Edward memparkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobil dan menguncinya. Clara bingung ketika melihat Edward pergi.
Ketika kembali beberapa saat kemudian, ia masuk kembali kedalam mobil.
"Kamu gak ngerti kalo ninggalin perempuan sendirian di mobil malem-malem gini bahaya." seru Clara.
Edward masih terlihat kelelahan. Ia seperti sudah berlari. Tiba-tiba ia mengeluarkan sekuntum bunga. "Sorry." ucapnya
Clara terkejut dengan sikap Edward.
"Aku emang salah karena jahat sama kamu waktu itu. Aku mau jujur sama kamu, Ara. Kamu inget waktu bawa kamu ke apartemen dan kamu bangun tanpa busana, aku gak apa-apain kamu." ucap Edward.
Clara terkejut. Kenapa Edward baru mengatakannya? Padahal ia sering memikirkan apa yang terjadi malam itu pada mereka berdua.
"Aku panggil pembantu buat buka baju kamu. Bukan aku yang buka baju kamu."
Clara semakin terkejut. Ia bergumam. "Kenapa kamu tega sama aku?"
"Maafin aku Ara, aku gak tau apa yang terjadi sama kamu. Saat itu aku benci banget sama kamu karena kamu ninggalin aku waktu di Phuket. Kamu menghilang. Bukannya kita udah janji mau menikah?"
"Aku tinggalin nomor handphone aku di kertas." ucap Clara.
"Aku cuma liat pelayan lagi beresin kamar kamu." ucap Edward. Ia membayangkan, jika saat itu ia menemukan kertas itu, ceritanya akan lain.
"Ayo kita pulang, aku mau istirahat. Aku gak mau ngomongin lagi masa lalu. Masa lalu bikin kepala aku sakit." ucap Clara sambil menyandarkan kepalanya disamping kaca. Ia menggenggam bunga ditangannya.
Edward tersenyum. "Ayo kita pulang. Kita bisa ngobrol lagi nanti." Edward membelai rambut Clara sambil menyetir. Rasanya menyenangkan melihat wanita yang dicintainya ada disampingnya. Ia tidak mau memaksakan perasaan Clara saat ini. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan mereka sejenak.