
Edward membuka matanya ketika gorden kamarnya dibuka oleh Clara. Cahaya matahari yang masuk membuatnya terbangun pagi ini. Ia ingat semalam ia tidur di sofa dan Clara tidur di ranjang. Ketika baru sampai kemarin siang, mereka berdua langsung berkomitmen untuk menjaga diri sesaat setelah ia mendapatkan kamar.
Ia merasa kurang tidur. Kemarin mereka berkeliling untuk waktu yang cukup lama. Dan sebelumnya ia melakukan perjalanan ke bandara dan membutuhkan waktu lama. Ia kelelahan. Terasa jari-jari Clara memegang pipinya dengan keras. Ia sedikit kesakitan ketika mendapat cubitan dari Clara.
"Bangun Ed!" panggil Clara. Ia terus menggoda Edward untuk cepat bangun.
Edward menyipitkan matanya dan menatap Clara. "Aku masih ngantuk. Tunggu sebentar." bisiknya sambil menguap. Iapun menarik kembali selimut yang sekarang berada di kakinya.
Clara berdiri kembali dan membuka semua gorden. Ia berdiri diluar untuk melihat pemandangan pantai dari atas balkon kamarnya. Kemarin siang ia merasa bermimpi ketika Edward membawanya ke kamar yang pernah mereka tinggali. Edward terus memberinya kejutan yang bertubi-tubi. Ia harap kebahagiaannya ini masih terus berlanjut. Ia berbalik hanya untuk melihat pria yang sedang tidur itu. Ia tersenyum. Ia mencintai pria itu melebihi apapun. Ia akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Iapun bersyukur karena tidak lama lagi ia akan pindah ke kota dimana ia bisa bersama keluarga dan kekasihnya. Perjuangannya sangat berat hingga saat ini. Tanpa terasa ia menitikkan airmata. Ia tidak menyangka masih bisa melanjutkan hidup setelah kematian ayahnya.
Terdengar pintu diketuk. Clara menghapus airmatanya cepat. Ia berjalan untuk membuka pintu. Alena berdiri didepan kamarnya.
"Kita sarapan bareng." ucap Alena. Terdengar Dave baru keluar dari pintu kamar yang ada disebelahnya.
"Edward belum bangun,kak." ucap Clara sambil melirik Dave.
Alena menengok untuk melihat Edward yang sedang tertidur di sofa. Ia tersenyum. "Satu jam lagi kita kebawah." ucapnya.
Clara hanya mengangguk. Setelah kepergian kakaknya, ia menutup pintu. Ia menghampiri Edward. Ia terlihat masih mengantuk. Iapun bersiap-siap karena biasanya wanita lebih lama daripada laki-laki.
Setelah satu jam kemudian, Clara dan Edward hanya menemukan Alena dan Dave di restoran. Sandra dan Calvin belum tiba. Dimeja sudah terdapat beberapa makanan milik Alena. Ibu hamil memang harus makan banyak, pikir Clara.
"Kamu duduk disini. Makanannya biar aku yang ambil." ucap Edward mengalihkan pikirannya. Clara pun mengangguk. Ia duduk setelah Edward mendorong kursinya.
"Kak Sandra belum kesini?" tanya Clara bingung. Ia melihat ke sekeliling ruangan.
"Padahal semalem mereka berdua yang duluan masuk kamar." ucap Dave sambil tertawa.
"Sssstt, orang nya dateng." ucap Alena sambil mencubit tangan Dave.
Sandra dan Calvin baru saja masuk ke restoran. Sandra terlihat sedang dipegang tangannya oleh Calvin. Merekapun tiba dan duduk di kursi masing-masing. Clara menatap Sandra yang terlihat pucat. Ia memegang tangannya Sandra yang duduk disampingnya. "Kamu gak apa-apa kak?" tanya Clara cemas.
Sandra tersenyum. "Gak apa-apa. Cuma kurang tidur." jawabnya pelan.
Tiba-tiba tanpa ia perhatikan Edward datang dengan beberapa jenis makanan di tangannya. Clara hanya tersenyum karena Edward masih mengingat makanan kesukaannya. Ia melihat semua orang. Semuanya tampak bersemangat hari ini.
"Ngomong-ngomong hari ini kita mau kemana?" tanya Dave.
"Bebas. Kalo aku sama Clara ada tempat yang mau dikunjungin." jawab Edward.
"Kemana?" tanya Clara bingung.
"Rahasia" jawab Edward.
Tiba-tiba Sandra berdiri. "Aku ke wc bentar." ucapnya. Ia setengah berlari menuju WC yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Clara melihat kepergian Sandra dengan bingung. Begitu pula dengan kakaknya yang ikut berlari mengikuti Sandra. Karena penasaran, iapun ikut berdiri dan menyusul keduanya. Saat ia masuk ke wc, ia melihat Sandra sedang membungkuk. Ia terlihat kesakitan dibagikan perutnya. Ia menghampiri kakaknya. "Kenapa kak?" bisiknya.
"Diem dulu." jawab Alena pelan.
"Udah berapa lama kamu kayak gini?" tanya Alena pada Sandra. "Muntah-muntahnya sering?" tambahnya
Sandra menatap Alena dengan wajah pucat. "Udah seminggu." jawabnya .
Clara melihat keduanya bingung.
Alena mengangkat salah satu tangan Sandra dan melihat jam tangannya. " Udah telat berapa hari menstruasinya?"
Sandra terdiam. Ia berfikir. " Telat 3 minggu. Aku pikir karena kecapean."
Alena tersenyum. "Gampang capek?"
Sandra mengangguk. "Aku kenapa?"
Alena hanya tersenyum. Ia mengelus perutnya. "Sayang, mungkin tahun depan kamu punya temen." ucapnya.
Sandra tidak pernah terpikirkan sebelumnya ia akan hamil. "Aku hamil?" tanyanya shock.
Clara mengangkat kedua tangannya sambil berteriak senang. Akhirnya hal yang ditunggu-tunggu tiba.
"Aku pikir kamu hamil, Sandra. Selamat ya. Nanti pas pulang kita periksa langsung." ucap Alena bersemangat.
"Selamat kak! Aku mau bilang ke semuanya." ucap Clara senang.
"Bentar. Biar kakak yang ngomong. Ini sesuatu yang besar. Calvin harus dikerjain dulu." ucap Alena.
Clara tersenyum senang. Ia menuruti perkataan kakaknya. Mereka bertiga pun keluar dari WC. Ketiga pria itu terlihat cemas. Apalagi wajah Calvin. Clara ingin tertawa tapi ia tahan. Mereka bertiga pun duduk. Ia dapat melihat Calvin terus memegang tangan Sandra. Ia berbisik sesuatu yang ia tidak tahu.
"Vin, aku pikir Sandra punya penyakit." ucap Alena serius.
Calvin melepaskan tangan Sandra. Ia menatap Alena panik. "Penyakit apa?"
"Ya, kamu harus siap. Kamu pasti nanya kenapa istri kamu pucat terus? Barusan aku cek sebentar. Jadi gejala penyakit Sandra ini, suatu hari dia bakal sulit tidur, sedikit malas, butuh perhatian lebih, dan paling parahnya setiap hari perutnya akan terus membesar." jelas Alena serius.
"Vin, penyakit serius itu!" seru Dave seakan tidak tahu apa-apa. Itulah yang terjadi pada wanita hamil. Sama seperti Alena. Iapun mengalaminya. Perutnya terus membesar. Sekarang kandungannya masuk ke bulan empat.
"Apa bisa disembuhkan?" tanya Calvin panik.
Clara menahan tawanya. Ia menunduk.
"Bisa. Nanti kalo setiap malem istri kamu minta dipijit, kamu pijitin. Kalo dia mau makan enak, kamu beliin Vin. Karena itu bukan kemauan istri kamu. Itu kemauan sesuatu dari penyakitnya." goda Alena.
Calvin masih belum mengerti. "Emang ada penyakit kayak gitu?" tanya Calvin.
Dave langsung tertawa. Begitu pula dengan Clara dan Edward.
"Vin, Sandra itu hamil! Masa kayak gitu aja kamu gak ngerti!" seru Dave.
"Hamil? Anak aku?" tanya Calvin terkejut.
Sandra langsung berdiri. Ia memukul lengan Calvin. "Emang anak siapa Vin! Jangan sembarangan kalo ngomong." ucap Sandra marah.
Calvin membutuhkan waktu beberapa detik untuk menyadari sesuatu. Hamil? Sandra hamil? Ia berdiri dan menatap Sandra tak percaya. "Kamu hamil?"
"Iya, gak mau?" tanya Sandra sewot.
Calvin langsung mengangkat tubuh Sandra dan berteriak pada orang-orang yang sedang sarapan disana. "MY WIFE PREGNANT!"
Semua tamu yang sedang makan disana bertepuk tangan. Tak satu menghampiri dan memberinya selamat. Semua orang tertawa bahagia.
"Kita pergi sekarang." bisik Edward. Clara mengangguk sambil tersenyum. Ia menerima uluran tangan Edward dan berjalan keluar dari restoran. Kali ini mereka berdua yang akan melanjutkan petualangan.
Kedua sahabatnya sudah memiliki kebahagiaan. Detik ini, ialah yang akan mendapatkan kebahagiaan. Ketika Clara berada di WC, ia sempat menghubungi seseorang untuk persiapannya melamar nanti malam. Ia sudah tidak sabar menantikannya.