
Edward menggenggam tangan Clara memasuki sebuah rumah elit. Rumah itu mewah. Tidak seperti rumah lain, Edward merasa takjub dengan interior dan suasana rumah ini yang terasa kekeluargaan. Beberapa taman dibiarkan kosong. Hanya ada beberapa batu besar yang dibuat layaknya kursi dan meja. Ia menatap gadis disampingnya yang terus menggenggam tangannya dengan erat. Mata nya berkaca-kaca. Ia tahu itu. Untuk itulah ia tidak melepaskan genggaman tangannya. Bagaimana tidak, masa kecilnya ia habiskan disini. Di rumah mewah ini. Tiba-tiba tangan itu menariknya kencang. Tubuh Edward terhuyung ke belakang tapi ia masih bisa menahannya.
"Kenapa?"tanya Edward sambil melihatnya.
Clara mulai menangis. "Aku gak sanggup Ed. Aku bahkan masih bisa lihat bayangan papa disana." bisik Clara. Ia menunjuk satu buah kandang burung berukuran besar. Edward yakin sekali jika itu adalah peliharaan ayahnya Clara.
Edward memeluk bahu Clara. "Kamu sanggup sayang. Kita udah sampai kesini. Orang-orang termasuk kakak kamu udah nunggu kamu didalam. Ayo kita masuk. Jangan biarin mereja menunggu lama." ucap Edward sambil menghapus airmatanya.
Edward menggiring Clara kedalam.rumah. Namun ketika di teras, tangannya kembali ditarik. Edward menatap Clara sambil menganggukkan kepalanya. Merekapun masuk kedalam. Mereka melewati ruang tamu dalam keadaan kosong. Edward mencari asal suara. Terdengar beberapa orang termasuk Dave sedang berbicara. Iapun menghampiri asal suara itu. Ketika mereka keluar dari rumah, mereka melihat Dave, Alena dan Sakti ada di ruang santai yang berada dibelakang rumahnya. Ia melihat Alena berdiri dan menghampirinya. Iapun melepaskan pelukannya pada Clara dan duduk disamping Dave.
Alena menghampiri Clara dan memeluknya dengan erat. "Kenapa?"bisik Alena tenang.
Clara kembali menangis. "Aku inget papa." jawabnya sedih.
Alena kembali memeluk Clara dan menenangkannya. Walaupun sebenarnya iapun sedih sama seperti Clara, tapi ia bisa menahannya. Ketika ia memasuki rumah ini, ia ingat ketika ia berusia 5 tahun, rumah ini selesai dibangun oleh ayahnya. Ia sendiri yang membuat design rumah ini. Setiap malam ayahnya selalu ditemani ibunya bekerja. Ia ingin membuat rumah yang nyaman untuk keluarga. Mereka adalah keluarga paling bahagia. Ia, ibu dan ayahnya tinggal dirumah yang super mewah ini. Ketika usia Clara satu tahun, ayahnya tiba-tiba berubah. Ia senang pulang malam karena saat itu pekerjaan ayahnyalah yang membuatnya seperti itu. Ia bahkan tidak mencintai kami lagi. Itulah yang Alena dan ibunya rasakan. Kedua orangtuanya bercerai disaat usia Clara masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa. Ibunya dan dirinya pergi dari rumah tanpa membawa sepeser uang dan pakaian. Tapi ibunya mengajarkannya untuk tetap menyayangi ayahnya apapun yang terjadi.
"Kita duduk dulu." bisik Alena. Clara mengangguk dan mengikuti perintah kakaknya.
Tanpa menunggu lama, Sakti mulai mengeluarkan surat dari dalam kopernya. Ia begitu berhati-hati ketika mengeluarkannya. Amplop berwarna emas itu masih tersegel dengan rapi. Tidak ada tanda-tanda pernah dibuka. Sakti membukanya pun penuh dengan ketelitian. Ia sesekali menatap Alena dan Clara yang terlihat tegang. Mereka bahkan saling berpegangan tangan. Ia yakin bukan harta yang ingin mereka dengarkan. Tapi nasihat ayahnya untuk terakhir kali. "Saya baca dulu surat dari ayah kalian." ucap Sakti.
Kepada kedua anakku tersayang. Alena dan Clara.
Begitu cepatnya papa meninggalkan kalian berdua. Tapi kalian harus ingat. Papa selalu ada disamping kalian. Papa akan terus support apapun yang akan kalian lakukan. Kepada Alena. Anak sulung papa. Papa minta maaf karena tidak pernah menemui kamu sekalipun selama beberapa belas tahun ini. Tapi papa selalu melihat kamu dari kejauhan. Oh ya, Papa ucapkan selamat untuk kelulusan kamu. Sejak kecil kamu memang bercita-cita sebagai dokter. Papa bangga karena kamu sudah menjadi dokter sekarang. Papa menyayangi kamu lebih dari apapun, Al. Kedua, Clara. Anak bungsu papa. Temen berantem papa. Kamu baik-baik aja kan? Papa rindu sama kamu, Ara. Kapan kamu pulang dari Thailand? Kamu mungkin marah sama papa karena papa memperlakukan kamu berbeda dengan anak tiri papa. Tapi kamu salah Ara, papa tidak pernah membedakan siapapun. Kamu tetap putri kesayangan papa. Maafkan papa karena papa tidak pernah bisa mengeluarkan isi hati papa sama kamu. Papa tidak mau sesuatu menimpa kamu Ara. Biarlah papa yang merasakan sakitnya ini. Kamu masih muda. Masa depan kamu masih panjang. Alena, tolong kamu jaga Clara dengan baik. Papa menyerahkannya sama kamu sebelum dia menikah dan memiliki pasangan hidup yang akan bertanggung jawab padanya kelak.
Sakti melihat kedua gadis itu yang sedang terisak. Alena menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Clara terlihat terpukul. Edward terlihat sedang memeluknya. Ia merasa tenang karena kedua anak itu mendapatkan pria yang baik. "Kita baca kelanjutannya. Sekarang surat wasiat." ucap Sakti.
1. Rumah yang sedang ditempati ini berikut isinya\,
2. Villa bunga yang berada disalah satu bukit yang ada dikota ini\,
3. Villa bunga lily yang berada di bali\,
4. Hotel\,
5. Resort\,
6. 6 buah kendaraan yang terdiri dari mobil dan motor\,
7. Deposito yang sudah saya buat atas nama Alena dan Clara\,
8. Tabungan yang sudah saya bagi dan buat atas nama Alena dan Clara\,
9. Perhiasan yang saya simpan dengan aman disalah satu brangkas bank\,
10. dan Surat-surat penting
Saya bagi kepada kedua anak kandung saya yaitu Alena dan Clara. Pembagian bisa dilakukan oleh keduanya tanpa ada gangguan dari pihak manapun.
"Sekian." ucap Sakti. Ia menatap kembali kedua bersaudara itu yang masih bingung. Mereka pasti bingung karena ayahnya meninggalkan harta yang sangat banyak. Tidak ada yang tahu tentang semua harta-hartanya kecuali ia. Aditya pintar menyimpan tanpa diketahui oleh Desy. Ia pikir pekerjaannya telah selesai. Ia telah membuat Clara tinggal di perusahaan. Kemudian Desy telah mendekam di penjara. Ia kini hanya tinggal mensupport kedua anak itu. Setelah selesai, iapun berpamitan dan berjalan keluar diikuti oleh asistennya.