
**************************************************
Adriana berada didalam kamarnya seorang diri. Ia sakit karena tidak bisa menelan semua makanan yang masuk ke perutnya. Tubuhnya terserang demam sejak dua hari yang lalu. Ia memikirkan ibunya. Sudah seminggu ini ibunya menghilang tanpa diketahui olehnya. Ia tidak tahu kemana ibunya kabur untuk menghindari polisi.
Ia menatap bubur yang ia buat disamping tempat tidur. Keadaannya masih utuh. Belum sempat dimakan. Beberapa minuman hangat sudah ia buat. Ada pula kue ringan pemberian ibu kost karena merasa kasihan pada kondisinya saat ini. Tiba-tiba handphonenya bergetar. Tanpa diduga ibunya menghubunginya.
"Ma, dimana sekarang? Aku khawatir."ucap Adriana lemas.
Desy terdengar berbisik. "Mama ada di hotel yang biasa mama menginap kalo lagi ke tempat kamu. Kamu kesini sayang, mama kangen."
"Ma, ada polisi disitu? Kenapa ngomongnya pelan?" tanya Adriana bingung.
"Gak ada apa-apa. Mama baru sampai. Mama kecapean. Kamu cepet kesini." ucapnya.
Adriana langsung bersiap-siap. Ia mengabaikan rasa sakit yang sedang dideritanya. Ia masih hapal dimana ibunya kini berada walaupun sudah bertahun-tahun ia tidak kembali ke kota ini.
Desy menatap koper yang masih berdiri didepan pintu kamar hotelnya. Ia termenung. Ia pikir dengan pergi ke Macau dan berjudi, ia akan bisa menghindar dari polisi. Tapi ternyata setiap ia melihat polisi, ia merasa ketakutan. Uang yang dibawanya ke Macau telah habis untuk berjudi. Begitu pula perhiasan. Pengalamannya untuk berjudi tidak pernah beruntung. Ia kini tidak memiliki uang. Ia hanya bisa bertahan tinggal di hotel ini dalam waktu seminggu saja. Ia tidak bisa kembali ke rumah Aditya karena ia yakin rumah itu sudah menjadi incaran polisi. Kini ia merindukan anaknya.
Ia ingat bagaimana dulu memaksa Adriana untuk meninggalkan kebahagiaannya hanya untuk mengejar obsesinya. Jika saja ia tidak mengganggu Adriana dan tidak membawanya ke rumah Aditya, ia pasti sudah bahagia sekarang. Namun penyesalan selalu datang terlambat. Ia menyesal harus mengorbankan kebahagiaan putrinya sendiri demi obsesinya untuk kaya raya. Pernikahan dengan Aditya selama sepuluh tahun tidak dapat membuat pria itu memberikan semua warisan padanya.
Terdengar pintu diketuk. Ia berjaga. Ketika terdengar namanya dipanggil, ia langsung berjalan menuju pintu dan membukanya cepat. Ia menatap Adriana yang terlihat pucat. Ia langsung memegang wajahnya.
"Adri, kamu kenapa sayang?" tanya Desy panik.
Adriana masuk kedalam kamar Desy dan memeluknya. "Ma.. gimana ini? aku takut." bisik Adriana sambil terisak.
Desy memeluk putrinya erat. "Tenang sayang, kita gak akan kenapa-kenapa. Semuanya akan kembali seperti semula." bisiknya. Desy membawa Adriana masuk dan duduk di salah satu kursi yang ada di kamarnya.
"Kamu kenapa? Sakit? Udah makan belum?" tanya Desy cemas.
"Maafin mama, Adri. Kamu tunggu disini. Mama beli makan dulu buat kamu." ucapnya cepat. Ia langsung berjalan keluar kamar.
Desy berjalan diluar dengan menutup wajahnya dengan masker. Ia membelikan makanan untuk Adri di restoran kecil yang ada disamping hotel. Biasanya ia makan malam di restoran itu jika ia menjenguk anaknya.
Ia hanya melihat menu yang sudah tersaji di balik etalase makanan. Semua makanan disini enak. Ia akan membelikan beberapa jenis untuk Adri agar bisa makan enak. Iapun mulai memesan beberapa macam lauk dan nasi. Butuh beberapa waktu untuknya.
Setelah selesai, ia pun kembali ke hotel. Ketika memasuki lobi, ia terkejut melihat beberapa pria memakai pakaian hitam-hitam yang sedang bertanya sesuatu pada resepsionis. Desy berjaga-jaga agar ia tidak diketahui. Ia menundukkan kepalanya selagi berjalan melewati mereka. Tiba-tiba ia terdiam ketika salah satu dari mereka menyebut namanya. Desy terkejut. Tubuhnya menggigil karena ketakutan. Dengan kekuatan penuh ia berjalan ke kamarnya. Ia harus menyelamatkan Adriana. Ia tidak mungkin membiarkan Adriana terluka lebih banyak karena kesalahannya.
Ketika sampai didepan pintu, ia langsung menghambur masuk dan memasukkan makanan yang ia beli ke dalam tas Adriana. Adriana menatapnya bingung.
"Kenapa ma?" tanyanya. Desy menghampirinya sambil menjinjing tas milik anaknya.
"Sayang, pergi dari sini sekarang. Makanan sama uang punya mama bisa kamu bawa buat kehidupan kamu sehari-hari. Maafin mama.." Isak Desy.
"Ma.." panggil Adriana dengan bibir bergetar. Ia ikut menangis.
Desy menggelengkan kepalanya. Ia menyusut airmata Adriana. "No..no.. jangan menangis. Jangan pernah berbalik lagi saat kamu pergi nanti. Mama baik-baik aja, sayang. Kamu harus hidup bahagia. Jangan khawatirkan mama."
"Tapi ada apa ma?" tanya Adriana gugup.
"Polisi sudah ada dibawah sayang. Mama terdesak. Mama gak bisa kemana-mana lagi. Mama akan menyerah. Jaga diri kamu, Adri. Jangan pernah ingat mama ketika mama dihukum nanti. Ingat, doa terbaik mama untuk kamu." ucap Desy sambil mencium pipi Adriana dan memeluknya. "Mama sayang sama kamu."
Adriana melihat Desy membukakan pintu kamarnya. Ia menarik lengan Adriana keluar kamar. Yang Adriana ingat, ibunya melambaikan tangannya sambil tersenyum. Adriana berjalan menjauhi kamar ibunya sambil menangis. Ketika ia melihat beberapa orang keluar dari lift, ia menghapus airmatanya dan berjalan seakan tidak ada yang terjadi. Ia ketakutan. Iapun bersembunyi di balik tembok dan melihat pria-pria itu menghampiri kamar ibunya. Ibunya benar, ia sudah dicari polisi-polisi tanpa seragam itu. Ia melihat bagaimana pria-pria itu masuk ke kamar ibunya sambil mendorong pintu kamar dengan satu kakinya. Tak lama ibunya dibawa keluar dengan tangan diikat ke depan. Ia menunduk.
"Ma.." bisik Adriana. Ia menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar keluar. Ia melihat dengan jelas bagaimana ibunya yang tegas itu tak berdaya ketika diikat oleh pria-pria itu. Demam yang saat ini dideritanya rasanya tidak terasa ketika melihat ibunya seperti itu.