
Clara terbangun ketika mendengar suara ribut diluar. Ia melihat jam dinding. Sudah pukul satu siang. Semalaman ia terus menangis dan tidak bisa tidur. Satu hal yang terpikir olehnya. Ia harus cepat melupakan kejadian pahit yang menimpanya. Ia harap dapat sembuh secepatnya. Yang dapat menyembuhkannya hanya dirinya sendiri. Iapun bangun dari tidurnya dan langsung berjalan ke kamar mandi.
Alena baru saja tiba, tapi ia tidak langsung pulang ke rumah mereka. Ia dan Dave datang ke rumah Firly untuk membawa Clara pergi. Setelah semalam mengobrol dengan nenek Siska melalui video call, mereka memutuskan untuk membawa Clara pulang ke rumah mereka. Pada awalnya Alena yang meminta untuk mengamankan Clara di rumah Firly karena Firly tidak ada hubungan dengannya.
Firly tahu dan mendengar tangisan Clara semalam. Untuk itulah ia tidak berani membangunkan Clara. Ia membiarkan Clara tidur nyenyak.
"Lebih baik Clara disini. Temenin aku. Dia udah betah kok disini." seru Firly tidak rela ketika ia mendengar Alena akan membawanya pergi. Ia sudah menganggap Clara sebagai adiknya. Dan hanya kepadanya Clara bisa mengeluarkan semua kegundahan hatinya.
"Aku gak mau repotin kamu, Firly sayang." jawab Alena tenang. Ia sesekali melihat kamar Clara yang masih tertutup.
"Pokoknya aku gak setuju Clara dibawa. Kalian bisa tanya sendiri sama Clara. Apa dia mau ikut sama kalian atau bertahan disini." ucap Firly cepat.
Dave menyandarkan bahunya di sandaran sofa. Ia tersenyum. "Kalaupun Clara gak mau ikut, kita tetep harus bawa dia buat ketemu nenek. Disana juga ada Om Sakti sekarang." jelasnya.
Pintu kamar terbuka. Clara keluar dari kamar dengan lebih fresh. Ia berjalan dan duduk disamping Alena. Alena langsung memeluk Clara. "Kamu baik-baik aja?" tanya Alena.
"Iya."
"Ra, kamu mau dibawa pergi sama Alena kerumah nenek Siska. Kamu mau ikut?" tanya Firly cemas. Ia berharap Clara menolaknya.
"Aku ikut Kak Alena." jawab Clara dibalas tawa Dave.
Firly menatap Dave. "Apaan sih?" tanya Firly sewot.
"Mau gimana juga, Clara pasti milih kakaknya." jawab Dave. Firly dengan cepat melemparkan bantal yang dipegangnya tapi bisa dengan cepat ditangkap Dave. Ia masih saja mentertawakan Firly.
"Aku pengen ketemu Om Sakti." jawab Clara cepat.
Alena dan kedua orang yang ada disana hanya menatap Clara yang terlihat berbeda.
Kenapa rumah neneknya jadi seperti ini? pikir Alena.
"Kamu masuk dulu ke dalem. Aku mau telepon Dega." ucap Dave.
Ketika mereka berada didalam, Clara terlihat tertegun melihat suasana rumah nenek Siska. Ia teringat rumahnya. Rumahnya begitu nyaman dan sejuk walaupun ada wanita jahat itu didalam rumah. Senakal-nakalnya Clara, ia tidak pernah jauh dari rumah. Apalagi kamarnya. Kamarnya adalah tempat paling nyaman dimanapun ia berada. Banyak kenangan antara ia dengan ayahnya. Walaupun ayahnya mulai berubah sejak kedatangan anak dari wanita jahat itu. Ia melihat wanita tua itu sedang berbincang dengan seseorang. Clara terdiam. Pria yang telah ia anggap sebagai ayahnya ada disana.
"Om.."panggil Clara dengan bibir bergetar.
Pria itu melihat Clara dan langsung berdiri. "Clara?". Ketika terakhir kali bertemu, Clara terlihat segar. Hari ini tidak dapat dipungkiri jika Clara berubah. Ia terlihat pucat.
Clara berlari dan langsung memeluk Sakti sambil menangis. Alena menatap peristiwa itu dengan takjub. Clara sangat dekat dengan sahabat ayahnya. Wajar saja Om Sakti mencari keberadaan Clara dengan mati-matian.
Tak lama, Dave dan Dega muncul secara bersamaan. Dega terlihat tegas, terlihat dari dandanannya. Ia juga cantik dan terlihat keibuan.
Ia melihat Clara dan tersenyum.
"Ini Clara?" tanya wanita itu.
Clara mengangguk sambil tersenyum. Tanpa mengetahui siapa Dega sebenarnya, mereka mulai melakukan rencana. Rencana yang hanya melibatkan Clara, Sakti dan Dega.
Edward baru saja makan siang dengan beberapa teman-teman asingnya yang kini menetap di Singapura. Ia sedang dalam perjalanan ke kantornya. Beberapa kali Calvin menghubunginya tapi tidak pernah ia angkat. Sahabatnya selalu mencarinya jika ada masalah. Ia mengabaikan panggilan yang terus terulang dari Calvin.
Ketika berada di ruangan kantornya, ia terdiam melihat televisi di kantornya sedang menyiarkan para sosialita kalangan atas. Ia memperhatikan setiap gerak gerik wanita itu. Tiba-tiba ia terfikir sesuatu. Pertemuan dengan gadis itu ketika terakhir kali bukan sesuatu yang baik. Ia puas tapi ada yang mengganjal dihatinya. Apalagi ketika gadis itu menatapnya dengan wajah kesakitan sesaat sebelum menutup pintu membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Rasa benci pada gadis itu tidak bisa digantikan oleh apapun. Tidak pernah ada pikiran positif tentang wanita itu di dalam otaknya. Kebencian sudah memenuhi otaknya. Beberapa kali ia berfikir, apa yang gadis itu lakukan karena aktingnya yang terlalu pintar. Tiab-tiba ia kesal, berani-beraninya ia menunjukkan wajah sedih seperti saat ia menangis didepan pantai kala itu. Ia merasa dibodohi hingga saat ini.
Ia harus kembali dan memberitahu semua sahabatnya tentang kelicikan gadis itu. Ia mengepalkan tangannya karena marah. Iapun menghubungi Calvin.
"Vin, aku pindah secepatnya ke Indonesia." ucapnya tajam.