
Clara menatap wajah Dega untuk kesekian kalinya. Ia terlihat lebih ceria. Kasus hukum yang menimpanya sedikit rumit awalnya. Tapi ia bersyukur semuanya membaik. Beberapa kali wanita yang akan menjadi kakak iparnya itu memegang bahu dan memeluknya. Pengalamannya sebagai pengacara internasional akan ia buktikan nanti di persidangan.
"Besok kita baca warisan ya." Ucap Sakti serius.
Clara menatap pria itu. "Kak Alena dateng kesini?" tanyanya bersemangat.
Sakti mengangguk pelan. "Sekalian kalo bisa kamu pindah ke rumah papa kamu. Disana kosong. Nanti kita baca surat warisan disana." ucap Sakti.
Clara berfikir sejenak. "Kalo aku gak mau pindah gimana om?"
"Jarak villa kamu ke kantor itu jauh. Kalo kamu gak cape ya terserah." ucap Sakti.
"Aku lebih nyaman di villa daripada di rumah. Rumah itu terlalu besar buat aku tinggali sendiri. Beda sama villa. Tapi besok aku ke rumah buat ketemu Kak Alena."
"Oke."Jawab Sakti pendek.
Clara kemudian berpamitan pada keduanya. Ia tahu jika Dega akan dijemput oleh suaminya yang kebetulan berada di kota ini. Ia bisa pulang bersama kedua bodyguardnya. Ketika semuanya sudah selesai, ia akan berbicara pada nenek Siska untuk menarik kembali ketiga bodyguard yang setia menemani harinya.
Bodyguardnya membawa mobilnya ke keheningan malam. Malam sudah larut. Tidak terasa mereka mengobrol untuk waktu yang cukup lama. Ia lelah. Ia ingin segera merasakan empuknya tempat tidur. Ia teringat Edward. Ia melihat handphonenya. Ada beberapa panggilan yang dilakukan pria itu padanya. Ia merasa kesal mengingat cerita kakaknya tadi siang.
Mobil memasuki halaman villa. Ia dapat melihat mobil Edward sudah terparkir di garasi. Ia tidak terkejut sama sekali. Iapun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. Ia melihatnya sedang duduk membelakanginya. Langkah kaki Clara membuat Edward membalikkan badannya. ia tersenyum.
"Hai, sayang. Kenapa malem baru pulang? darimana?" tanya pria itu bersemangat.
Clara tidak mau melihatnya. "Aku sibuk. Tadi ke kantor Om Sakti." ucapnya cepat. Ia berjalan ke atas.
Edward mengerutkan keningnya. Ia bingung. Setiap ia datang ke Villa tanpa sepengetahuan gadis itu, ia selalu mendapatkan kejutan. Kali ini gadis itu berbeda. Ia tidak mau menatapnya sama sekali. Iapun berjalan naik ke atas. Kamar Clara tertutup rapat. Ia membuka pintu tapi terkunci.
Iapun mengetuk pintu kencang.
"Ara, buka pintunya!" teriak Edward. Ia harus menunggu jawaban dari Clara tapi ia tidak mendengarnya. Ia kembali memanggilnya. "Clara! Kalo gak dibuka, aku dobrak pintunya sekarang!" teriaknya.
Tak lama pintu terbuka perlahan. Clara membuka pintu tanpa mau menatapnya. Edward tiba-tiba mendorong tubuhnya ke tembok. Ia mengurung Clara diantara kedua tangannya.
"Kenapa? Kamu marah sama aku? Kenapa?" tanyanya tajam.
Clara menunduk. Ia tetap tidak mau melihat wajah Edward. Ia masih menutup mulutnya.
"Ayo cerita! Kenapa?Aku gak mau kamu diemin." ucap Edward kesal.
Clara mendorong tubuh Edward dan berjalan menuju meja rias. Ia terdiam sejenak sambil mengambil kapas untuk menghapus bedak di wajahnya.
"Aku males sama kamu!" jawab Clara.
Edward menghampiri Clara dan berjongkok di lantai. "Kenapa males? Kamu males sama aku?" tanya Edward cemas.
Edward tersenyum jahil. "Kenapa kamu bahas sesuatu yang udah terjadi? Waktu itu kita bahkan gak ketemu. Siapa yang cerita? Alena? Dave?" tanya Edward.
Clara melirik. "Kakak kamu!" ucap Clara pendek.
"Dega?" tanya Edward sambil tertawa.
Clara mengerutkan keningnya. Ia melirik pada Edward. "Ada yang lucu?" tanyanya serius.
Edward mencubit pipi Clara. "Kamu kalo cemburu itu lucu." ucapnya. Ia pun berdiri dan duduk disamping Clara. Ia memeluk bahu Clara. "Kamu cemburu kan?" goda Edward.
"Enggak." jawab Clara kesal.
"Kalo enggak kenapa marah?" goda Edward.
"Aku gak marah!" sahut Clara.
"Itu marah.." jawab Edward. Iapun menarik lengan Clara dan membuatnya jatuh dipangkuan Edward. Clara berdiri namun Edward menariknya kembali. Ia memeluk Clara dengan erat. "Dengerin aku. Aku emang sempet pacaran sama Adri. Kakak tiri kamu itu. Tapi, kita gak pernah macem-macem." bisiknya.
"Gimana aku tau kalo kalian enggak macem-macem. Aku kan tau kalo kamu itu playboy." ucap Clara kesal.
Edward tertawa. "Aku emang playboy. Tapi aku menghargai wanita. Kamu mau tau ceritanya? Adri gak pernah mau aku sentuh. Percaya gak?"
"Enggak."
"Aku juga sama gak percaya awalnya. Tapi kenyataannya emang gitu. Aku berani sumpah gak ngapa-ngapain sama Adri." ucap Edward. Perkataannya cukup meyakinkan.
Clara menatap Edward."Beneran? Jangan-jangan kamu bohong. Aku gak percaya kamu diem aja satu rumah sama cewek cantik."
"Aku gak pernah mau sama yang lain kecuali kamu. Kamu percaya? Aku emang playboy. Tanya sama Dave atau Calvin. Tapi aku menghargai wanita. Cuma kamu aja gadis yang pernah aku..." bisik Edward menggoda.
Clara langsung mencubit Edward. Ia tidak mau mendengar Edward terus menggodanya. "Cukup.. cukup.."
"Kenapa? Malu? Makanya jangan cemburu lagi. Aku bisa lebih parah ngegodain kamu." bisik Edward.
"Aku malu, jangan dibahas lagi." ucap Clara sambil menutup wajahnya.
Edward tertawa sambil memeluknya dengan erat. Iapun berbisik. "Minggu depan kita ketemu orangtua aku."
"Orangtua kamu?" tanya Clara terkejut.
Edward hanya mengangguk sambil tersenyum senang.