Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)

Phuket Story (3rd Series Billionare Love Story)
Propose again



Edward melihat jam tangannya. Sudah lima belas menit Clara pergi dan belum kembali. Iapun berjalan untuk mencarinya. Tapi baru beberapa langkah, ia melihat Clara menghampirinya. Ia tersenyum sangat manis.


“Kenapa?” tanya Edward.


“Masalah kantor. Tapi udah beres.” jawab Clara. Iapun merangkul lengan Edward dan menyandar padanya.


“Kenapa?”tanya Edward bingung.


“Cuma mau gini aja. “jawab Clara mempererat rangkulannya. Ia menutup matanya dan berharap kejadian ini hanya mimpinya saja. Namun ia merasa nyata kerika Edward memagng rambutnya.


Edward langsung memeluk Clara dengan erat. Ia mulai membayangkan acara nanti malam.


Adriana melihat berita di televisi ketika ia akan pulang ke kontrakannya. Ia tertawa penuh arti ketika melihat berita itu ada disetiap televisi. Ia tidak menyangka hari ini akan menjadi hari yang spesial baginya. Siapapun yang telah membuat hal itu menjadi nyata, ia harus berterimakasih, ia tidak perlu repot-repot untuk memisahkan mereka berdua. Ia yakin setelah ini mereka akan berpisah. Beberapa bulan berhubungan dengan Edward, sedikitnya ia tahu sifat orangtua Edward. Iapun berjalan kembali setelah beritanya selesai.


Clara menggenggam tangan Edward dengan erat. Apa yang Edward rencanakan di hotel yang pernah mereka gunakan sebagai hadiah dari permainan itu. Ia sedang dalam keadaan tidak baik hari ini. Ia memikirkan orang yang ada dibalik fotonya memalukan seperti itu. Ia menarik tangannya refleks. Edward berbalik untuk melihat Clara. Ia mengerutkan keningnya.


“Kenapa kamu bawa aku kesini?” tanya Clara gugup.


Edward tersenyum. “Aku punya kejutan buat kamu.”


Clara membayangkan perubahan ibunya Edward ketika mengetahui berita yang sekarang sedang ramai di negaranya itu. Ia menggelengkan kepalanya. “Aku gak mau Ed. Aku mau pulang ke hotel. Aku capek.” ucapnya.


Edward tertawa. “Kamu kenapa sih? Kamu kok kayak takut gitu berduaan sama aku?”


“Serius Ed.” ucap Clara.


“Iya aku serius. Sebentar aja, aku udah siapin semua. Please, jangan kecewakan aku.” ucap Edward memelas.


Clara mengangguk. Ia tidak berani mengecewakan pria didepannya. Ia telah berbuat banyak untuknya.


Clarapun dibawa masuk ke dalam hotel yang kental dengan nuansa Thailand itu. Ia menunduk. Ia tahu akan dibawa ke mana. Kamar no. 301 adalah kamar mereka. Ketika pintu dibuka, kamar itu telah disulap menjadi sebuah ruangan dengan nuansa romantis. Bunga mawar merah bertaburan dimana-mana. Ia lemas. Ia tidak sanggup bertahan disaat ada kejadian seperti ini. Bagaimana ia bisa berkata kepada Edward semuanya?


Edward menggenggam tangan Clara dan menyuruhnya duduk disalah satu kursi. Suasana temaram dan romantis terasa. Tiba-tiba Edward membuka botol wine dan mengisi gelas milik mereka berdua. Clara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Edward adalah pria baik. Tidak mungkin ia mengecewakannya. Ia ingin menangis saat ini juga.


Tanpa diduga, Edward memegang salah satu tangannya dan mengecupnya ringan. Ia menyentuh wajah Clara yang menatapnya dengan berkaca-kaca.


“Will you marry me?” tanyanya dengan suara tegas.


Clara mengedipkan kedua matanya. Airmata yang tertahan tumpah tanpa diberi peringatan.


Edward menghela nafas. Ia menghapus airmata Clara. “Ara, will you marry me?” tanyanya dengan cincin ditangannya.


“No.” jawab Clara cepat.


Edward tidak berharap mendapat jawaban seperti itu. Ia terkejut. “Kenapa?”


“Kamu udah pernah lamar aku. Dan kamu tahu jawabannya.” jelas Clara.


Edward menutup wajahnya. “Itu beda, sayang. Waktu itu aku gak bawa cincin. Sekarang aku bawa cincin. Dan suasananya berbeda.” protes Edward.


“Iya, sekarang tinggal jawaban kamu. Kamu mau jadi istri aku?” tanya Edward.


“Kamu udah tau jawabannya.” jawab Clara.


“Jawabannya iya atau tidak.” protes Edward kembali.


Clara tersenyum. “Yes.” jawabnya.


Edward tersenyum senang. Ia menyematkan cincin bermata berlian itu di jari manis Clara. Kemudian ia memeluk Clara dengan erat.


 


Ami menatap suaminya sambil memangku tangan. Ia tidak bisa diam mengingat nama keluarganya yang akan tercoreng.


“Itu yang kamu banggakan?” tanya Ami kesal pada suaminya.


“Kita bisa tanya sama Clara, ma” jawab Andi.


“Enggak bisa, videonya udah jelas kok.” ucap Ami.


“Ya udah, terserah kamu aja. Papa udah ngantuk.” jawab Andi sambil berdiri. Ia berjalan ke kamar meninggalkan istrinya dan Sasha.


Sasha menghampiri Ami. “Tante, sebenernya aku juga punya video yang aku ambil kemarin-kemarin.” ucapnya hati-hati.


Ami menatap Sasha. “Video apa?”


Sasha mengeluarkan handphonenya dan menyerahkannya pada Ami. Ami terkejut melihat isinya. “Ini, ini Clara? Dia, dia mabuk?”tanya Ami gugup.


“Waktu itu aku gak sengaja ngeliat mereka, Tante. Aku rasa, Clara bukan wanita baik-baik.”


Ami berdiri dan mengambil handphonenya dengan cepat. “Gak bisa, sampai kiamatpun aku gak akan biarkan Edward menikah dengan Clara. Sasha, kamu siap-siap. Kamu yang akan menikah sama Edward.” ucap Ami marah. Ia meninggalkan Sasha yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Edward dalam perjalanan pulang ke hotel bersama Clara ketika ia merasakan handphonenya bergetar. Ibunya menghubunginya.


“Halo ma” jawab Edward.


“Kamu pulang secepatnya kerumah. Putuskan hubungan kamu sama wanita nakal itu. Sampai kapanpun mama gak akan menyetujui kalian!” seru Ami marah.


“Bentar ma, ada apa? Kenapa mama tiba-tiba marah?” tanya Edward kesal. Namun ibunya sudah mematikan handphonenya.


Clara terdiam. Ia menatap Edward yang terlihat masih kesal.


“Ed, kita pulang besok aja. Aku udah gak bisa bolos lagi. Kerjaan aku banyak.” ucap Clara bohong.


“Iya, mama kenapa sih? Kok tiba-tiba dia ngomong kayak gitu.” tanya Edward kesal.


Mereka berduapun pulang ke hotel untuk bersiap-siap. Untung kedua sahabatnya tidak terganggu oleh keputusannya untuk pulang cepat.